Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
17. Menyanggupi sebuah permintaan.


__ADS_3

Percayakan pada authornya.


🌹🌹🌹


Karena situasi semakin memanas maka Papa Sanca meminta Bang Dewa, Bian dan Gita untuk duduk dan bicara bersama.


Mas Dewo harus tau bahwa Kesultanan selalu memiliki bibit unggul. Maka jika sudah berkasus seperti Bian. Maka keputusannya harus menikah lagi untuk meneruskan tiap garis keluarga." Kata Bian menjelaskan.


Rasanya Bang Dewa ingin mati saja mendengarnya, bagaimana tidak.. poligami hanya akan menambah masalah baru kehidupan rumah tangga mereka.


"Bagaimana caraku menentangnya. Aku tidak mau..!!!!"


Gita menggigit anggur di tangannya. Malas sekali rasanya membahas masalah yang ia yakini bukan masalahnya. Fokusnya hanya ingin menyelesaikan kuliah nya lebih dulu.


"Kenapa repot sekali. Katakan saja tidak mau, semua akan beres." Sambar Gita.


"Tidak segampang itu dek. Kesultanan sudah membahas hal ini pada forum besar dan kali ini kita belum bertemu dengan mereka, sidang besar itu akan disaksikan banyak orang termasuk deretan para pejabat kesultanan." Kata Bian memberi pengertian pada Gita.


...


"Sudah sekitar tiga bulan Raden Mas Sadewo dan Gusti Ayu berada di pulau ini dan tidak jauh dari kesultanan. Jadi ada baiknya Raden Mas dan Gusti Ayu Sabian Tunggadewi segera memutuskan yang terbaik bagi bagi rumah tangga juga kesultanan.. ada baiknya Raden Mas segera mempersunting Ndoro Ayu Anggita Prabacitra." Kata pihak kesultanan.


Bang Dewa ingin menentang tapi tadi Opa sepuh dan Opa sudah memberi wejangan akan hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada kehidupan kesultanan. Salah menentang malah nantinya akan menjadi mala petaka bagi semua pihak.


"Beri saya waktu, saya tidak ingin mengambil keputusan yang akan merugikan semua pihak." Pinta Bang Dewa.


:


"Jangan memaksaku..!! Aku tidak mau punya anak dari rahim wanita yang tidak jelas."


"Mas.. jaga ucapanmu..!! Gita bukan wanita yang buruk."


"Tinggalkan Mas berdua dengan Gita..!!" Pinta Bang Dewa pada Bian.


//


"Saya sudah tau siapa kamu Gita..!!"

__ADS_1


Gita tersenyum lalu mengeluarkan rokok dari balik tas kecilnya. Ia merokok dan menghembuskan asap ke segala arah. Ia pun mengambil sikap duduk dengan gayanya yang menantang.


"Kalau sudah tau ya sudah. Bukankah kelakuanku bisa membuatmu bebas dari aturan kesultanan yang memintamu untuk menikahiku." Kata Gita dengan santainya kemudian mengambil lagi botol kecil dari tasnya kemudian meminum isinya tepat di hadapan Bang Dewa tanpa ragu dan kembali menghisap rokok di sela jarinya.


Seketika Bang Dewa menyambar botol minuman yang ada di tangan Gita lalu mencabut rokok di bibirnya gadis kecil itu. "Nggak usah macam-macam kamu Gita. Kelakuan minus, setidaknya jika tidak untuk menjaga nama kesultanan ini.. maka kamu harus bisa berpikir untuk menjaga kesehatanmu sendiri." Nada suara Bang Dewa meninggi melihat kelakuan Gita.


Gita terdiam dan kembali mengambil sebatang rokok.


"Apa orang tuamu tau kalau kamu suka berkeliaran saat malam di 'kembang dalu'?" Tanya Bang Dewa.


"Jelas tidak, Gita disana hanya ingin mencari tambahan uang." Jawab Gita.


"Membuka paha untuk melayani para lelaki hidung belang itu adalah perbuatan hina Gita..!!!!!" Bentak Bang Dewa.


"Apa pedulimu? Siapa kamu berani mengatur hidupku? Asal kau tau aku punya kebebasan hidup dan memilih." Ucap tegas Gita.


"Heeehh.. kau lihat itu yang duduk di luar. Saya sudah punya istri dan anak yang sudah di surga. Kamu tidak ada sepersekian inchi dalam pikiran dan hati saya. Jiwa raga saya hanya milik Bian. Kau nggak usah ge'er."


Tak lama seorang pengabdi di kesultanan tiba di paviliun Raden Ayu Sabian. Seperti biasa, mereka akan menurunkan standart 'penghormatan' bagi 'yang gagal'. Tau akan ada situasi susulan, Gita menyerahkan rokoknya yang masih tersulut pada Bang Dewa. Ia pun membenahi diri lalu keluar ruangan.


"Ada masalah apa? Kenapa ribut disini?" Tegur Gita sesaat setelah membuka pintu.


"Nanti saya kesana. Jangan mengusik apapun bahkan menyenggol Mbak Yu Sabian atau saya naikan lempeng perak..!!" Ancam Gita.


"Baik Raden, kami menunggu keputusan Raden Ayu."


:


Bang Dewa sungguh kaget mendengar seluruh aturan yang ada di kesultanan. Bahkan keadaan itu sangat tidak menguntungkan bagi Bian. Alasan pekerjaan memang bisa di lakukan tapi imbasnya Gita yang akan menanggung, jelas menaikan lempeng perak akan kalah dengan lempeng emas. Saat ini mungkin Bian hanya akan kehilangan status namun Gita akan kehilangan segalanya.


"Inilah hidup kami Mas. Jika Mas punya hati, bebaskan Gita juga..!!" Pinta Bian.


"Tolong jangan memaksaku dek..!! Semua akan berubah jika hal yang tidak di inginkan terjadi." Tolak Bang Dewa untuk kesekian kalinya.


"Ikut Bian sebentar Mas..!!" Bian menggandeng tangan Bang Dewa dan mengajaknya keluar dari ruang pertemuan besar.


~

__ADS_1


"Bian tau perasaan Mas Dewo. Selama ini, sejak kejadian itu.. Mas Dewo tidak mendapatkan hak yang seharusnya sebagai seorang suami. Bian sudah tidak bisa menyenangkan Mas." Ucap Bian. Sejak ia kehilangan rahimnya, semua terasa berbeda. Ia terus saja merasa kesakitan jika Bang Dewa menyentuhnya sampai Bang Dewa hanya melakukan tugasnya saja serta melepaskan rasa rindu yang penting segalanya selesai dan tidak membuatnya 'sakit kepala'.


"Tidak masalah, banyak cara untuk 'bahagia'. Kamu tau sifat suamimu ini. Bertahan semua karena ingat Yang Maha Kuasa juga. Kamu sudah lebih dari cukup." Jawab Bang Dewa.


Bian memeluk Bang Dewa. "Mas.. Bian ingin berubah, lebih dekat pada Allah. Mas Dewo sudah menjadi sebaik-baiknya pria dalam hidup Bian. Tidak selamanya juga kita mendapatkan apa yang kita inginkan karena kekal dan kebahagiaan hanya Allah yang memiliki."


"Kamu terlalu memaksa, hatimu tidak akan kuat. Mas Dewo hanya manusia biasa. Mas juga nggak akan kuat kalau istri Mas menangis karena ketidak adilan." Bang Dewa terbawa emosional karena keadaan.


"Insya Allah Mas." Bian meletakan telapak tangan Bang Dewa di atas kepalanya. "Berikan anak untuk Bian.. anak hasil dari kerja kerasmu sendiri Mas. Bian janji tidak akan menuntut lebih. Setelahnya.. Bian akan mencintai Allah, kedua hanya dirimu Mas."


Ada rasa tidak kuat saat mendengar ucap Bian. Sesak begitu kuat mengobrak abrik hati dan jalan pikirannya. "Baiklah, kamu hanya minta anak khan?"


Bian mengangguk. "Iya Mas."


"Mas akan melakukan dan memulai dengan cara Mas sendiri. Mas harap kamu tidak akan meminta lebih dari kesanggupanku. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi nanti bahkan untuk satu detik kedepan. Kamu pun tau resiko dari perbuatan ini." Kata Bang Dewa menegaskan sekali lagi. Saat ini hatinya teraduk kuat, berat ia rasakan namun inilah hidup di dunia.


"Bian siap lahir batin Mas." Jawab Bian.


:


"Nggak mau."


"Saya juga tidak mau..!!!! Saya datang kesini juga karena permintaan istri saya." kata Bang Dewa. Hatinya semakin kesal karena Gita terus menguarkan asap rokok. "Kamu tau resiko kita sangat besar. Kamu ingin bebas khan?" tanya Bang Dewa.


Gita terdiam, memang selama ini dirinya ingin lepas dari hidupnya yang sangat menyedihkan.


"Caranya??"


"Berikan saya anak.. saya tidak akan menyentuhmu kamu tidak boleh menuntut lebih dalam status kita. Disini kamu boleh dapat status istri pertama, tapi istri saya hanya ada satu. Sabian Tunggadewi.. kamu paham..!!! Jika sesuatu terjadi padamu.. kamu hanya akan menjadi pemuas nafsu saya, tidak ada tuntutan setelahnya..!!" pinta Bang Dewa tanpa perasaan.


"Oke.."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2