Dia Suamiku, Kak!

Dia Suamiku, Kak!
PROLOG


__ADS_3

MELATI KEMALYA


Namaku adalah Melati Kemalya, panggil saja Melati.  Terlahir dari pasangan Hilda Suryo dan Heru Kemalya. Saat ini usiaku sudah beranjak 19 tahun, dan di tahun ini juga aku akan memulai perkuliahanku di sebuah universitas swasta di kotaku, Bandung.


Aku sangat tertarik dengan dunia wisata maka aku memutuskan untuk mengambil jurusan pariwisata tour and travel.


Bagi sebagian orang mungkin mengatakan kalau aku adalah orang yang sangat beruntung. Memiliki orang tua yang sangat sayang dan begitu perhatian padaku. Ya, mungkin karena aku adalah anak satu – satunya yang mereka miliki sehingga kasih sayang mereka tercurah seutuhnya hanya kepadaku.


Aku sangat bersyukur dengan kehidupanku, namun itu tidak menjadikanku seseorang yang dengan mudah dan angkuhnya membanggakan diri dengan fasilitas kemewahan milik orang tuaku. Karena aku melihat, masih banyak anak – anak di luar sana yang kehidupannya tidak seberuntung aku. Mereka harus berjuang, bersusah payah hanya untuk mendapatkan sedikit uang demi sesuap nasi.


Sama seperti kehidupan Dona yang kurang seberuntung aku, menjadi yatim piatu sejak usia 12 tahun dan sekarang menjadi anak angkat kedua orang tuaku.


“Sayang, mulai hari ini Dona akan tinggal bersama kita. Itu artinya mulai hari ini juga dia menjadi kakak kamu. Jadi Mama berharap kalian berdua bisa akur, saling menyayangi, ya!” tutur mama sambil membelai lembut rambutku.


Kami berdua menganggukkan kepala bersamaan, lalu kemudian kami saling berpelukan.


Dan persaudaraan ini semakin erat seiring berjalannya waktu. Dona benar – benar menjadi seorang kakak yang baik dan sangat menyayangiku.


Ketika tumbuh bersama menjadi dewasa, saat cinta mulai menghampiri. Kesalahpahaman pun terjadi.


MELATI KEMALYA



DONA OLIVIA


Namaku adalah Dona Olivia, mereka biasa memanggilku dengan sebutan Dona atau Oliv. Usiaku saat ini dua tahun lebih tua dari Melati, dan sedang duduk dibangku kuliah jurusan Kedokteran di salah satu universitas Negeri di Bandung. Aku memang tidak seberuntung Melati, saudara angkatku. Aku menjadi yatim piatu sejak usiaku 12 tahun. Kedua orang tuaku bersama adik laki – lakiku mengalami kecelakaan mobil ketika pulang dari menghadiri perlombaan story telling adikku.


Betapa sedihnya aku saat itu, kehilangan semua orang – orang terkasih yang aku miliki. Aku kehilangan mereka pada waktu yang sama untuk selama – lamanya.


Aku juga harus mengucap syukur karena ada sebuah keluarga yang mau menerimaku, mengangkatku menjadi bagian dari keluarga mereka. Tuan dan Nyonya Heru Kemalya, salah satu rekan bisnis papaku. Orang yang berhati baik itulah yang banyak berjasa dalam kehidupanku, tanpa mereka aku juga bukan siapa – siapa. Aku bisa sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi, mendapatkan fasilitas hidup tanpa harus bersusah payah.

__ADS_1


“Dona, kamu jangan takut dan kamu juga tidak perlu khawatir akan tinggal dengan siapa. Kamu punya tante dan om yang akan menjadi orang tua kamu sayang! Kamu tidak sendirian. Kamu mau  kan tinggal dengan Tante?” Ucap tante Hilda waktu itu dengan uraian air mata yang tak henti – hentinya sambil memeluk hangat tubuhku. Aku hanya membalasnya dengan anggukkan kepala.


Jadi mulai saat itu hingga sekarang aku tinggal bersama mereka, menjadi anak angkat mereka dan menjadi kakak dari Melati kemalya. Mereka adalah keluarga baruku, yang tulus dengan suka rela memberikan kasih sayangnya kepadaku dan janjiku ‘tidak akan pernah  membuat mereka kecewa’.


Sejak saat itu aku tidak pernah bermalas – malasan dalam belajar sehingga juara kelas pun selalu melekat padaku hingga aku duduk di bangku perkuliahan pun selalu mendapatkan nilai terbaik. I love you so much Kemal’s Family.


DONA OLIVIA



KEVIN DHANU ATMADJA


Namaku adalah Kevin Dhanu Atmadja. Anak dari pasangan Hariz Hassan Atmadja dengan Chatrine Fiedler. Aku lebih suka dipanggil Dhanu ketimbang Kevin apalagi Atmadja. Bagiku Dhanu itu lebih enak didengar, lebih Indonesia. Ya mungkin karena mamaku memiliki darah Jerman - Indonesia jadi aku diberi nama Kevin, sedangkan Atmadja sendiri adalah nama besar keluarga papaku yang berdarah Sunda – Melayu.


Saat ini usiaku beranjak 23 tahun, dan sedang aktif kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta, jurusan fotografi. Darah seni itu sudah ada sejak aku kecil, mungkin turunan dari kakekku, ayah dari mamaku seorang pemain biola yang sangat terkenal pada masanya. Kini kedua orang tuaku tinggal di Jerman, sedangkan aku lebih memilih untuk tetap tinggal di Indonesia. Banyak hal yang ingin aku pelajari di sini.


Keinginan itulah yang membuat aku berteman dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Dan dari pertemanan itu pula aku menemukan cintaku, seorang perempuan cantik, cerdas, tegas, berani dan supel. Bagiku ini adalah sesuatu yang langka, yang tidak dimiliki banyak wanita dan aku harus bisa mendapatkannya.


KEVIN DHANU ATMADJA



HERU KEMALYA dan HILDA SURYO


Aku adalah Heru Kemalya, ayah dari Melati Kemalya. Usiaku saat ini adalah 50 tahun dan aku bekerja di bidang Property. Memiliki seorang istri bernama Hilda Suryo yang usia terpaut 5 tahun lebih muda dariku. Seorang ibu rumah tangga yang sabar dan bijak.


Melati Kemalya adalah putri satu – satunya yang kami miliki. Cantik, cerdas dan mandiri membuat kami bangga padanya meskipun sedikit ceroboh. Dia selalu mendapatkan prestasi yang baik dalam setiap kegiatannya.


“Pa, Ma datang ya!” ucap Melati tersenyum manis sambil menyodorkan amplop berwarna putih lalu pergi ke kamarnya.


Aku dan Hilda saling berpandangan, sambil membukanya menerka – reka apa isi amplop berwarna putih itu. Dilihat dari ekspresi yang ditunjukkan Melati dapat kami pastikan itu adalah sesuatu yang membawa kegembiraan.

__ADS_1


HERU KEMALYA            



HILDA SURYO



HARIZ HASSAN ATMADJA dan CHATRINE FIEDLER


Aku adalah Hariz Hassan Atmadja, ayah dari Kevin Dhanu Atmadja. Berbeda dengan Dhanu yang lebih memilih Indonesia sebagai tempat tinggalnya. Saat ini aku dan istriku Chatrine Fiedler lebih memilih untuk tinggal dan menetap di Jerman. Mengembangkan bisnis otomotif yang sudah aku rintis sejak muda. Kini usiaku sudah tidak lagi muda, 52 tahun sudah Tuhan memberiku hidup bersama istri tercinta yang juga tidak lagi muda, 5 tahun lebih muda dariku.


Kami berharap Dhanu bisa meneruskan usahaku, tapi sepertinya bakat otomotifku itu tidak turun padanya, dia justru lebih tertarik dengan dunia fotografi.


“Dhan, Papa dan Mama sangat berharap banyak sama kamu untuk meneruskan usaha Papa. Karena hanya kamu satu – satunya kami miliki,” pintaku saat itu pada Dhanu. Tapi Dhanu menolak.


“Maaf Pa, Dhanu tidak bisa memenuhi harapan itu. Dhanu punya ketertarikan sendiri di bidang yang lain, Dhanu menyukainya dan sangat senang melakukannya,” tolak Dhanu lembut saat itu.


Meskipun ada perasaan kecewa, tapi aku juga menyadari bahwa aku tidak bisa memaksakan kehendakku terhadap anakku. Karena sikap kerasnya mempertahankan apa yang menurut dia baik bagi dirinya sama seperti diriku dulu, ketika orang tuaku memintaku untuk meneruskan usaha batik keluarga. Dan aku lebih memilih dunia otomotif.


HARIZ HASSAN ATMADJA



CHATRINE FIEDLER



********


Maaf sebelumnya jika visual yang ada dalam cerita ini tidak sesuai dengan ekspektasi kalian semua. Ini hanya pandangan menurut author saja. Jadi, silahkan kalian berimajinasi sesuai dengan ekspektasi kalian masing-masing ya...

__ADS_1


Setelah scroll² jangan lupa untuk meninggalkan JEJAK kalian yaa. Like, vote, command dan favorit. Thanks a lot.. 😍😍


__ADS_2