
“Assalamu’alaikum.., Mbok. Kok sunyi? Mama kemana?” tanya Melati pada Mbok Suti. Seorang asisten rumah tangga yang sudah bekerja di keluarga Kemalya sejak Melati masih bayi.
“Wa’alaikumsalam, Ibu lagi pergi arisan Non,” jawab Mbok Suti sambil membukakan pintu.
“Oh ya sudah kalau begitu Melati naik dulu ya Mbok.” Melati pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Melati memasuki ruangan bernuansa soft pink yang tidak terlalu luas hanya berukuran 4mx5m. Tempat ternyaman yang dirasakan Melati ketika berada di dalamnya, karena dapat me_refresh kembali pikiran yang penat dengan berbagai polemik kehidupannya.
Melati menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk, dengan setengah kakinya turun ke lantai, lalu memandang ke atas langit – langit kamarnya. Dia mengingat kembali kejadian – kejadian yang dilaluinya hari ini kemudian dia tersenyum simpul.
Tiba – tiba dia kembali teringat dengan percakapannya di meja makan tadi pagi bersama mama dan juga kakaknya.
“Kira – kira siapa ya laki – laki beruntung yang bisa menakhlukkan hati kakak gue, penasaran deh. Hm, pasti orang yang memiliki kecerdasan sama seperti kak Dona, atau bahkan lebih....” Pikiran Melati melanglang ke sana ke mari.
Akhirnya dia bangkit dari pembaringannya kemudian berjalan keluar menuju kamar Dona. Mencoba mencari sesuatu yang mungkin saja bisa sedikit memberi petunjuk atas rasa penasarannya selama ini. Kamar Dona menjadi tujuan utama Melati. Perlahan dia masuk ke dalam kamar, tampak lebih rapi ketimbang kamar Melati, ukurannya juga sedikit lebih besar.
Sambil terus melakukan pencariannya, menelisik kesana – kemari dan akhirnya Melati sedikit terusik oleh benda yang terselip di bawa bantalnya Dona. Melati mengambilnya kemudian membukanya perlahan. Sebuah buku harian bersampul biru.
“Maafkan adikmu yang sedikit lancang ini kak, tapi aku penasaran siapa sih laki – laki yang beruntung itu,” gumam Melati sembari membuka setiap lembar tulisan dalam buku harian Dona.
Tapi Melati juga masih tahu batasan, dia tidak membaca isi buku harian itu secara keseluruhan. Hanya yang menarik perhatiannya saja. Sampai akhirnya dia menemukan jawaban dari apa yang sedang ia cari.
Sebuah tulisan ungkapan perasaan terdalam untuk seseorang yang tak pernah mampu untuk tersampaikan, hanya karena terpaku oleh sebuah stigma lama bahwa perempuan itu hanya bisa menunggu sampai seorang pria datang untuk menyatakan cinta kepadanya. Dan seorang perempuan akan di pandang rendah martabatnya jika dia yang menyatakan cinta terlebih dahulu.
Perlahan Melati membaca satu persatu kutipan – kutipan tulisan indah Dona sebagai ungkapan perasaannya.
“CINTA ITU SEBUAH KEIKHLASAN,
YANG TIDAK MENGENAL PAKSAAN
* ATAUPUN RASA PELAMPIASAN”*
“I have been hiding this love in my heart every time.
__ADS_1
We meet every time and we face each other.
Do you know how much I have to force myself?”
“Kak, siapa sih sebenarnya cowok yang loe taksir ini? Jadi makin penasaran deh,” gumam Melati sambil terus membuka setiap lembar buku harian milik Dona.
“Cukup aku dan perasaanku yang tahu bahwa aku sungguh mengagumimu, senyummu, tawamu bahkan cara bicaramu yang membuat aku selalu bertahan menjaga perasaan ini untukmu meski kau tak pernah tahu dan aku juga tak pernah mampu untuk mengutarakannya”
Melatih masih terus mencari, meski dia sudah mulai bisa menerka siapakah orang yang beruntung itu jika seandainya bisa menjadi orang pilihan kakaknya. Melati kembali melanjutkan berselancarnya di buku harian Dona.
Dear Diary,
Hari ini aku kembali mendapat tugas dari kampus. Dan tentu saja aku sangat bersemangat, dan ini benar – benar membuat aku begitu saaangatttt bahagia. Berbeda dengan tahun sebelumnya, kalau tahun lalu aku hanya menjadi bagian anggota panitia OSPEK tapi kali ini aku terpilih menjadi sekretaris. Dan yang membuat aku lebih bahagia lagi adalah aku bisa lebih dekat dengannya.
Aku bisa melihat senyum, tawa dan bicaranya dari jarak dekat. Meski aku tak pernah punya nyali untuk mengungkapkan betapa aku sangat mengaguminya. Aku hanya bisa mencintainya dalam diam. Cukup melihatnya dari kejauhan.
Aku hanya bisa berdoa pada Tuhan bahwa suatu hari nanti jika aku diberi waktu dan kesempatan, aku bisa mencintainya secara nyata dan memilikinya untuk selamanya.
Today is the sweetest time for me, kali pertama aku duduk dan makan bareng dengannya, dan itu hanya berdua... so sweet...( Mau Lagi 😊)
Andai bisa aku berkata.. “KAK AR, l LoVe U”..
...
“Kak AR, apa mungkin itu adalah inisial kak Aris ya? Umm, kalau begitu mulai besok gue akan menyelidiki Kak Dona dan Kak Aris,” ucap Melati sembari tersenyum.
Melati bergegas kemudian mengembalikan buku harian itu kembali ke posisi semula. Tapi ketika dia hendak berdiri ada selembar kertas jatuh dari selipan buku harian itu. Melati mengambilnya kemudian melihatnya. Lama dia memandang foto itu, kemudian meletakkannya kembali, lalu segera kembali ke kamarnya.
Melati kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang sangat empuk. Dia mulai memikirkan bagaimana caranya dia bisa mendekatkan kakaknya dengan laki – laki yang dimaksud.
“Kak..kak, kenapa sih nggak mau ngungkapin duluan, sekarang udah zaman maju dimana hak perempuan dan laki – laki itu sama. Tapi kenepa masih juga takut untuk berbicara,” ucap Melati dalam batinnya.
Tak lama kemudian terdengar suara Mbok Suti mengetuk pintu kamar Melati.
__ADS_1
“Non, jangan lupa makan. Nanti non sakit lho,” ucap Mbok Suti sambil mengetuk pintu.
“Iya Mbokku sayang, bentar lagi Melati turun ya,” sahut Melati sembari tersenyum setelah membukakan pintu untuk Mbok Suti.
“Yo wes, kalau begitu si Mbok nunggu di bawah. Pokoknya si Non jangan sampai enggak makan, nanti si Mbok yang dimarahi sama Ibu,” ungkap Mbok Suti.
“Beress.. si Mbok jangan khawatir ya,” sahut Melati dan Mbok Suti pun pergi meninggalkan kamar Melati.
Beberapa menit kemudian tampak melati menuruni anak tangga menuju ke dapur dan diam – diam mendekati Mbok Suti yang asik dengan spatulanya sambil bersenandung.
“Memangnya si Mbok lagi masak apa sih?” tanya Melati dari belakang Mbok Suti.
“Hei! Iya masak masak!” teriak Mbok Suti yang latah. Melati pun tertawa kekeh.
“Ya Allah, Non. Ngagetin Mbok Suti aja, untung enggak copot jantung si Mbok ini,” ucap Mbok Suti.
“Iya, Melati minta maaf deh. Lagian si Mbok begitu aja kaget. Lagi asik ya dengan senandungnya?” tanya Melati sambil menyeringai.
“Ah si Non. Yo wes, ayo makan dulu,” kata Mbok Suti sambil menghidangkan tempe goreng yang baru saja selesai digoreng.
“Wah Mbok sepertinya bakalan nambah nih,” ucap Melati.
Melati kelihatan sangat fokus menikmati makanannya, sehingga dia tidak menyadari kehadiran Mama dan Kakaknya di sebelahnya.
“Tampaknya kita enggak bakal kebagian jatah nih Kak, bakalan habis bersih tuh,” celetuk Mamanya dan itu membuat Melati tersadar.
“Mama, Kakak.. udah dari tadi di situ?” tanya Melati sambil melebarkan kedua ujung bibirnya.
“Ya sudahlah!” jawab Dona.
“Kalau begitu kenapa enggak ikutan makan aja dari tadi, malah bengong begitu,” sahut Melati sambil terus menyantap makanannya.
“Eh Kak, ketemu enggak hari ini?” lanjut Melati.
__ADS_1
“Ketemu, maksud kamu ketemu siapa?” tanya Dona penasaran.
Bersambung....