
Hari – hari Dona selalu diselimuti dengan keceriaan dan semangat yang tinggi. Membuat orang – orang di sekelilingnya ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Dona, terutama Pak Heru dan Bu Hilda.
Mereka dapat bernafas lega karena melihat Dona bahagia seperti janji mereka ketika Dona kehilangan adik dan kedua orang tuanya.
“Pa, lihat deh. Seneng ya bisa melihat Dona selalu ceria seperti ini. Rasanya Mama bahagia banget,” cetus Bu Hilda yang sedang duduk bersama Pak Heru memperhatikan Dona yang sedang duduk di depan TV.
“Iya ya Ma, tapi Mama juga jangan lupa kalau kita punya Melati.”
‘Ya nggak mungkin dong Mama lupa sama anak sendiri, ih Papa mah,”
Bu Hilda meninggalkan tempat duduknya mendatangi Dona.
“Hei..gimana hubungan kamu dengan Aris?” tanya Bu Hilda.
“Baik – baik saja kok Ma seperti biasa,” jawab Dona tersipu malu.
“Syukur deh kalau begitu Mama juga ikut bahagia, terus Melati mana? Nggak keliatan dari tadi.”
“Di kamarnya, lagi persiapan kali Ma, besok kan udah tampil.”
“Oh iya, bener juga kamu. Dan dress dia untuk besok udah jadi di beli, kan?”
“Ya..Ampun!!” seru Dona sambil memegang kepalanya dan segera lari mencari Pak Man.
“Don.. Dona! Kamu mau kemana?!” jerit Bu Hilda.
“Kenapa sih Ma teriak – teriak begitu?” tanya Pak Heru.
“Tau tuh Si Dona. Mama cuma tanya baju Melati untuk tampil besok sudah jadi di beli atau belum. Eh dia malah langsung ngacir begitu. Kayak lagi liat hantu aja,” gerutu Bu Hilda.
“Jangan.. jangan..,” duga Bu Hilda dalam batinnya.
“Aaaahh...!” teriak Bu Hilda tiba - tiba juga langsung ngacir ke kamar Melati membuat Pak Heru tercengang keheranan.
“Hmmm.. Mama sama anak sama saja,” gumam Pak Heru sambil menggeleng - gelengkan kepalanya heran.
Di Kamar Melati.
“Mama! Bikin kaget aja. Mama kenapa..? Habis liat hantu??”
Sambil mengambil nafasnya Bu Hilda bertanya, “Dress kamu udah jadi di beli?”
“Udah. Tapi Kak Dona tadi yang aku pesenin untuk ambil bajunya di toko. Emangnya kenapa Ma?” tanya Melati polos.
“Bajunya sekarang mana?” tanya Bu Hilda balik.
“Masih sama Kak Dona.”
“Duh..Melati!! Gawat ... Gawat ... Gawat.”
“Kenapa sih Ma?”
“Tadi tuh Mama tanya baju kamu buat di pakai besok sama Dona. Eh dia langsung histeris gitu, dan langsung ngacir nyari Pak Man lalu pergi deh, nggak tahu kemana,” terang Bu Hilda cemas.
“Yang bener Ma?? Jadi..”
Bu Hilda mengangguk dengan pasrah.
“Duh.. Ma! Gimana besok..???!” rengek Melati malah ikut panik. Bu Hilda hanya bisa menggeleng seperti orang yang baru terkena hipnotis.
Satu jam kemudian Dona menampakkan kepalanya dari balik pintu, “Mel.. .”
Melati langsung terperanjat dari duduknya saat mendengar Dona memanggil namanya, “Kak.. jadi kan Kakak ambil pesanan baju aku di toko?”
“Iya Don, kasihan kan adik kamu kalau bajunya jelek.”
“Kak! Serius deh, jadi nggak di ambil. Sumpah aku tuh panik banget.”
“Tarrrraaaaaaaa,” ucap Dona sambil menunjukkan bajunya kepada Bu Hilda dan Melati.
Akhirnya semuanya bernafas sangat lega. Termasuk Dona sendiri.
“Untung aja Mama ngingetin,” batin Dona. Lalu tersenyum lega.
__ADS_1
Keesokan Harinya.
Dona sudah lebih dulu pergi ke lokasi bersama Dona di anterin Pak Man. Tinggal Bu Hilda dan Pak Heru yang masih di rumah dan sedang bersiap – siap.
“Ma..! Ayo buruan. Nanti keburu Melati tampil kita malah belum sampai.”
“Iya.. iya, Mama sudah siap kok. Ya sudah ayo kita berangkat,” kata Bu Hilda.
Sambil melangkah keluar Bu Hilda berpesan kepada Mbok Suti, “Mbok, hati – hati di rumah. Kunci pintu dan jangan bukakan pintu untuk orang yang tidak di kenal ya.”
“Nggeh Bu,” jawab Mbok Suti.
(“Iya Bu,” jawab Mbok Suti.)
Bu Hilda dan Pak Heru berlalu dengan mobil yang di kemudikan oleh Pak Heru.
Setibanya di lokasi acara, selang beberapa menit kemudian Melati tampil memukau dengan biolanya sehingga setiap orang yang berhadir dalam acara itu terkesima.
Melati membawakan lagu Pura – pura Lupa by. Petrus Mahendra
Pernah aku jatuh hati
Padamu sepenuh hati
Hidup pun akan kuberi
Apa pun 'kan kulakui
Tapi tak pernah ku bermimpi
Kau tinggalkan aku pergi
Tanpa tau rasa ini
Ingin rasa ku membenci
Tiba-tiba kamu datang
Saat kau telah dengan dia
S'makin hancur hatiku
Jangan datang lagi cinta
Padahal kau tau keadaannya
Kau bukanlah untukku
Jangan lagi rindu cinta
Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia, aku tak apa
Biar aku yang pura-pura lupa
Ooh, ooh
Hmm, hmm (oh)
Tiba-tiba kamu datang
Saat kau telah dengan dia
S'makin hancur hatiku
Jangan datang lagi cinta
Padahal kau tau keadaannya
Kau bukanlah untukku
Jangan lagi rindu cinta (rindu cinta)
__ADS_1
Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia, aku tak apa
Biar aku yang pura-pura lupa
Jangan datang lagi cinta
Padahal kau tau keadaannya
Kau bukanlah untukku (oh-oh-oh)
Jangan lagi rindu cinta (oh)
Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia (bahagiakan dia), aku tak apa
Biar aku yang pura-pura lupa, ooh
Bahagiakan dia, aku tak apa
Biar aku yang pura-pura lupa
Semua terdiam, terpesona oleh penampilannya. Banyak yang langsung jatuh hati padanya.
Spontan Aris juga berucap, “I Love You so much.”
Dona yang saat itu sedang berdiri di depan Aris merasa melayang. Bahagianya luar kepalang.
“Aku juga sayang sama kamu,” batinnya menjawab.
Lalu Dona menolehkan kepalanya ke belakang sambil melemparkan senyum terindah yang di milikinya kepada Aris. Dan Aris pun membalas senyumannya. Membuat Dona semakin berbunga – bunga.
Sementara itu Pak Heru dan Bu Hilda juga merasa sangat bangga dengan kemampuannya yang selama ini tidak terlalu mereka perhatikan. Dan ternyata kemampuan Melati sangat luar biasa dan pantas untuk diapresiasi.
“Pa..Melati Pa! Anak Mama,” ucap Bu Hilda terpukau.
“Anak Papa juga, Ma..,”
“Hehe.. iya, anak kita. Hebat ya Pa,” ucap Bu Hilda.
Sampai akhirnya suara riuh gemuruh tepuk tangan para penonton menghentikan perdebatan kedua orang paruhbaya itu.
Huuuuu....
Prok.. prok.. prok..
“Melati...! I love you sayang,” teriak Bu Hilda.
“Iya.. Papa juga, I love you Mel!” teriak Pak Heru yang tidak mau kalah dengan Bu Hilda juga dari penonton – penonton lainnya.
Akhirnya Melati memberikan salam hormat atas apresiasi yang diberikan kepadanya dari seluruh penonton yang ada dan undur diri dari atas panggung.
Melati di sambut hangat oleh Dona dan Aris begitu turun dari panggung.
“Kereenn Baangeeeettt,” ucap Dona sambil memeluk adiknya.
“Beneran Kak?”
“Kamu nggak liat apa, hampir seisi gedung standing aplause untuk kamu. Huu.. Hebat banget kamu.”
Aris ikut memberi selamat kepada Melati, “Mel! Selamat ya penampilan kamu luar biasa. Sukses abis lah.”
“Oh ya?? Duh kuping aku nggak bisa di turunin nih,” kelakar Melati.
Bersambung.....
**************************************************
Jangan lupa JEJAK my beloved readers.. 😘😘
(Sekedar saran nih, coba kalian dengerin ‘Pura-pura lupa’ di YouTube cover biola ya, biar lebih berasa aja) 😍😍
__ADS_1