Dia Suamiku, Kak!

Dia Suamiku, Kak!
BAB 30. SADNESS AND SORROW


__ADS_3

Dalam hening Melati menyendiri di dalam kamarnya. Dia duduk di atas kasur super empuk miliknya sembari memeluk boneka kesayangannya ‘Mochi’. Dia masih belum habis pikir dengan sikap Mamanya yang tidak mengizinkannya untuk mengikuti ajang pertukaran mahasiswi tersebut.


Pandangannya kosong, sesekali dia melihat ke sekelilingnya. Betapa sedih sekali hatinya di saat dia benar – benar sedang berjuang untuk keberhasilannya, untuk impiannya, dan di saat itu pula Mamanya mematahkan semangatnya.


Dia menoleh ke sisi kanan meja belajarnya. Dilihatnya sebuah box berwarna hitam, lalu dia tergerak untuk turun dari peraduannya. Dengan berat hati dan perasaan yang masih kacau dia berusaha mengobati rasa kecewanya.


Dengan perlahan dia berjalan mendekati box hitam itu kemudian membuka dan mengambilnya. Dia mulai menggesekkan bow itu pada tali senar biolanya dengan indah. Dengan penuh perasaan dia menghayati setiap alunan nada – nada indah yang perlahan mulai terdengar sampai ke telinga.


Alunan instrument “Sadness and Sorrow” by Taylor Davis benar – benar membuat air bening di sudut mata tanpa terasa mengalir begitu saja. Karena Melati juga tidak tahu bagaimana caranya agar Mamanya bisa mengizinkannya pergi.


Karena bagi Melati apapun yang dia lakukan, dia berharap keridhaan dari kedua orang tuanya terutama Mamanya.


Alunan indah itu terdengar oleh Papanya. Dengan penuh takjub dia memandang anaknya dari bawah yang sedang memainkan biola dengan kepiawaiannya menggesekkan bow.


“Lihat apa, Pa?” tanya Bu Hilda yang tiba – tiba muncul di belakangnya.


Pak Heru hanya menggunakan jari telunjuknya menjawab pertanyaan istrinya. Menunjuk ke Melati.


Bu Hilda pun tampak menikmati alunan nada – nada indah yang terdengar. Dan tanpa terasa air matanya pun memenuhi kedua pelupuk matanya. Dia merasa tersentuh juga merasa bersalah dengan sikapnya terhadap Melati.


“Mel! Maafin Mama sayang. Nggak seharusnya Mama melarang kamu hanya karena keegoisan Mama. Mama hanya tidak ingin berpisah jauh dari kamu,” batin Bu Hilda sembari menyeka air mata yang terus mengalir.


Mendengar isakkan tangis di sebelahnya Pak Heru seketika menoleh lalu melihat istrinya yang berusaha menghapus air mata yang tak hentinya mengalir. Pak Heru lalu mendekati istrinya kemudian melingkarkan tangan kanannya pada pundak istrinya.


Sambil terus memperhatikan Melati, Pak Heru bertanya, “Memangnya ada masalah apa Ma?”


Bu Hilda semakin tak kuasa menahan tangisnya sampai dia tidak mampu untuk menjawab pertanyaan suaminya.


“Sudah – sudah. Ayo kita masuk,” ajak Pak Heru berusaha menenangkan istrinya.

__ADS_1


Mereka pun masuk ke dalam lalu duduk di ruang TV. Kemudian Pak Heru mengambilkan segelas air putih untuk istrinya. Setelah Bu Hilda terlihat lebih tenang Pak Heru kembali bertanya kepada istrinya apa sebenarnya yang terjadi sampai  - sampai istrinya nangis sesenggukkan seperti ini. Karena tidak seperti biasanya, meskipun Melati memainkan lagu – lagu melo.


“Pa, Mama merasa bersalah sekali terhadap Melati. Kerena nggak seharusnya Mama melarang Dia untuk meraih impiannya.”


“Memangnya kenapa? Ada apa sebenarnya?” tanya Pak Surya.


Setelah Bu Hilda merasa benar – benar tenang dan bisa mengontrol emosinya dia mulai bercerita kepada suaminya kalau dia sudah melarang Melati untuk ikut dalam ajang pertukaran mahasiswa tersebut.


“Ma, itu adalah sebuah prestasi yang tidak semua orang memiliki kesempatan itu. Jadi apa salahnya jika dia mengambil kesempatan yang tidak akan datang dua kali dalam hidupnya. It’s her dream, Ma. Jadi menurut Papa, biarkan dia menggapai impiannya selagi dia bisa dan mampu untuk meraihnya. Apa Mama tidak ingin melihat anak kita bahagia?” tanya Pak Heru sembari menatap sendu istrinya tercinta.


Bu Hilda menarik napas panjang lalu dia menganggukkan kepalanya seraya berkata, “Makasih ya Pa udah menyadarkan Mama.” Pak Heru pun mengangguk sembari tersenyum.


Bu Hilda bangkit dari duduknya kemudian melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar Melati.


Tok.. tok.. tok..


Bu Hilda mengetuk pintu kamar Melati beberapa kali. Kemudian Melati membukakan pintu kamarnya dan mempersilahkan Mamanya masuk.


Melati kembali duduk di kursi meja belajarnya. Sementara Mamanya duduk di sudut bibir tempat tidur Melati. Melati mencoba tersenyum pada Mamanya meskipun hatinya masih diselimuti perasaan sedih.


Kini Ibu dan anak itu saling berpandangan lalu Bu Hilda berkata, “Mel! Maafin Mama ya. Nggak seharusnya Mama bersikap seperti tadi ke kamu.”


Melati bergerak dan bangkit dari tempat duduknya lalu pindah di sebelah Mamanya. Dia menggenggam tangan lembut itu seraya berkata, “Ma..Melati yakin pasti Mama punya alasan tersendiri kenapa Mama melarang Melati. Dan perlu Mama tahu, Melati tidak akan pernah melakukan apapun tanpa restu dari Mama. Jadi Mama nggak perlu minta maaf sama Melati.”


Keduanya sama – sama mengeluarkan air mata kemudian saling berpelukan.


“Sayang.. Maafin Mama. Mama tidak akan melarang kamu. Kamu boleh kok mengikuti ajang itu,” ucap Bu Hilda sambil mengusap wajah cantik anaknya.


“Beneran Ma! Mama..,”

__ADS_1


“Iya sayang.. Mama dan Papa setuju. Justru Kami berdua sangat bangga sama kamu bisa terpilih dalam ajang yang menurut Papa itu sangat LUARR biasa,” ucap Pak Heru memotong omongan Melati.


Kini Melati dapat menyunggingkan kedua sudut bibirnya yang simetris ke atas. Guratan kebahagiaan terpancar di raut wajahnya. Senyum indah pun di hadiahkannya kepada kedua orang tua yang sangat sangat berarti baginya. Ketiganya pun saling berpelukan.


Bu Hilda menoleh ke belakang, dia merasa ada yang memperhatikan mereka bertiga, dan ternyata benar. Dona sedang berdiri di pintu kamar Melati dan menyaksikan kebahagiaan yang sedang  menyelimuti kamar itu.


“Kakak! kemari sayang,” panggil Bu Hilda kepada Dona. Dona pun melangkah mendekat.


“Mel! Semangat ya dan jangan sekali – kali kamu menyerah untuk meraih impian kamu. We love you much,” ucap Dona sembari memeluk adiknya.


“Ma, Pa, dan Kak Dona. Thanks for everything and I love you more,” sahut Melati sambil tersenyum.


Enam Bulan Kemudian


Seperti biasanya di pagi hari Melati selalu saja tampak terburu – buru. Selesai mandi dam merapikan penampilan dia dengan setengah berlari dia menuruni anak tangga ke ruang makan. Minum susu kemudian membawa roti yang sudah di siapkan Mamanya. Dan makannya di mobil sambil menuju kampusnya.


Sebelum berangkat tak lupa ia mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Lalu berpamitan.


“Good luck sayang..,” doa Bu Hilda kepada Melati.


“Aamiiin.”


Karena hari ini adalah hari yang sangat di nantikan oleh Melati. Hari yang menentukan dirinya lulus atau tidak. Setelah mengikuti bimbingan kurang lebih selama enam bulan dan tes terakhir dari beberapa tahapan yang sudah di laluinya dengan hasil yang baik.


Akhirnya tesnya selesai. Dan hasil tesnya dapat diterima satu jam kemudian. Melati menunggunya dengan sabar. Untuk mengisi waktu dia duduk di bawah pohon sambil membaca sebuah buku yang berjudul “18 Hours Before Jet Lag: Germany Munich" oleh Ashni Sastrosubroto.


Waktu yang ditunggu tiba. Pengumuman hasil tes hari ini telah diterimanya, persaingan yang sangat ketat. Secara perlahan dia membuka kertasnya dan melihat hasilnya.


Melati terdiam seketika, dan dia hanya memandangi kertas yang ada di tangannya saat ini.

__ADS_1


Bersambung ya...


__ADS_2