
Pagi ini Melati sudah duduk di kursi yang berada dekat dengan tempat tidurnya. Kedua tangannya menggenggam sebuah gelas berisikan susu coklat hangat dan sepotong roti di atas piring kecil di atas mejanya.
Sambil memasukkan roti ke dalam mulutnya, mata Melati mengedarkan jangkauannya dan terhenti pada sebuah benda.
Melati bangkit dari duduknya lalu meletakan gelas dan rotinya, kedua tangannya meraih syal pemberian Kevin malam tadi. Dia tersenyum simpul. Mengingat kembali perjalanannya sepanjang hari.
FLASHBACK ON
“Aku hanya ingin memandangi kamu terus, Mel. Karena jika nanti pada akhirnya jawaban yang aku terima membuat aku menjauh darimu, maka aku tidak terlalu kecewa. Karena aku sudah memandangi wajah bidadari hatiku dalam waktu yang lama,” sahut Kevin. Melati hanya terdiam takjub.
“Mas.. Seandainya nanti aku tidak menerimamu. Apakah kamu akan tetap menerima aku sebagai temanmu?”
“Sampai kapan pun kamu akan selalu menjadi penguasa hatiku. Kamu adalah cintaku pada pandangan pertama.”
FLASHBACK OFF
Melati tersenyum bahagia sembari memeluk syal berwarna dark brown.
*“Mas, kalau boleh jujur aku juga suka sama kamu. Sama seperti apa yang kamu rasakan,**love at first sight.*Cuma kan nggak mungkin dong aku langsung jawab ‘iya mas, aku mau jadi pacar kamu’. Nanti kamu kira aku cewek gampangan lagi. Kan bisa runtuh harga diri sebagai seorang perempuan,” monolog dalam diri Melati sambil masam – mesem.
“Krriiiiing...Krriiiiiiing...” Bunyi suara handphone Melati yang seketika membuyarkan lamunannya.
Dengan segera dia melihat pemanggil di layar utama handphone_nya.
“Mama..,” gumamnya lirih.
“Hallo, assalamualaikum Ma,” sapa Melati.
“Waalaikumsalam, duh kangennya sama anak Mama. Kamu apa kabar sayang? Sehat, kan?” tanya Bu Hilda penuh kerinduan.
“Alhamdulillah Ma, Melati sehat. Mama, Papa, Kak Dona, Pak Man dan Mbok Suti.. semua sehat, kan Ma?” cecar Melati.
__ADS_1
“Sehat.., kerasan nggak?”
“Insya Allah, Melati kerasan kok Ma. Melati juga sudah mulai beradaptasi di sini. Baik dengan orang – orangnya maupun juga dengan iklimnya. Ya memang sih di awal – awal sempat meriang, kaget dengan cuaca di sini, dingin.”
“Mama yakin kok, anak Mama pasti akan mampu menaklukkan setiap tempat yang dikunjungi,” puji Bu Hilda.
“Mel, kamu nggak ngampus?”
“Sebentar lagi Ma, mataharinya aja masih enggan keluar. Masih selimutan kali Ma, cuacanya kan dingin,” canda Melati.
“Hushh! Kamu tuh ada aja. Ya sudah, yang penting kamu hati – hati di sana. Jaga diri baik – baik,” pesan Bu Hilda.
“Siiiip! Mama tenang aja ya, Melati pasti akan jaga diri kok. Kalau.... pa caran boleh nggak Ma?” tanya Melati dengan nada sedikit merayu.
“Sama siapa? BULe?!” teriak Bu Hilda.
“Ya pasti sama orang lah Ma, masak iya sama kambing,” sahut Melati sambil menyungut.
“Ya iya Mama tahu! Mama kenal nggak?”
“Orang Indo atau bukan?” selidik Bu Hilda lagi.
“Ih Mama kayak lagi interogasi napi deh,” sahut Melati sambil mengerucutkan bibirnya.
“Ya Mama perlu tahu, Mama nggak mau anak gadis Mama jatuh ditangan orang yang salah,” terang Bu Hilda yang Protex terhadap anak gadisnya.
“Orang Indo kok Ma campuran Jerman, orangnya tuh baik, pengertian, lembut, sopan, dan yang terpenting Ma, he is handsome,” tutur Melati.
“Udah lama kenal?” tambah Bu Hilda.
“Mmm sejak di bandara, waktu mau berangkat,”
__ADS_1
“Duh Mel, kamu harus hati – hati. Jangan mudah percaya sama orang yang baru di kenal. Siapa tahu dia hanya mau memanfaatkan kamu. Ibarat pepatah habis manis sepah dibuang. Kamu mau seperti itu?” papar Bu Hilda.
“Ya nggak dong Ma. Tapi dia beneran mau serius sama Melati, bahkan dia mau ngajak Melati ketemu dengan keluarganya. Apa itu artinya masih mau manfaatin Melati?” sanggah Melati.
“Ya sudah, keputusan ada di tangan kamu, toh seandainya mama melarang, kamu dan dia di sana bisa saja tetap berpacaran terus, diam – diam backstreet. Mama Cuma bisa mengingatkan kamu saja, jangan terburu – buru mengambil keputusan. Kamu tahu mana yang terbaik untuk diri kamu. Mama hanya bisa mendoakan kamu.”
Melati tertegun mendengar penuturan Mamanya, karena ucapan Mamanya memang benar. Jangan sampai menyesal kemudian hari.
“Mama benar, aku baru beberapa hari mengenal Mas Kevin. Belum tahu seperti apa dan bagaimana dia sebenarnya. Tapi kenapa ada rasa yang berbeda saat bersamanya, dan rasa rindu saat jauh darinya,” batin Melati sembari membayangkan wajah tampan Kevin.
“Halo.. Mel! Mel.. kamu masih di sana?” suara Bu Hilda menyadarkan dirinya.
“I – iya Ma, Melati masih di sini kok. Sudah dulu ya Ma, Melati mau siap – siap ke kampus takut telat,” kilah Melati.
“Oh ya sudah, jaga diri ya sayang, Love You..bye,”
“Love You too Ma, see you.”
Melati kembali tertegun terngiang – ngiang akan kata- kata Mamanya.
Bersambung...
Terimakasih atas dukungan kalian semua, semoga selalu sehat bahagia.. bisa dukung karya ku selalu.. 😘😘
LIKE 👍
KOMEN 💌
GIFT 🌹
RATE ⭐ 5
__ADS_1
N PAVORIT ❤️
SANGATLAH BERARTI sebagai penambah imunku, penyemangat ku untuk terus berkarya.