Dia Suamiku, Kak!

Dia Suamiku, Kak!
BAB 9. SALAH PAHAM


__ADS_3

Melihat sikap kedua putrinya yang tidak biasa mengundang tanya dalam hati Mama.


“Kak! Melati sudah punya pacar?” tanya Mama menyelidik.


“Tau.., Mama tanya aja sendiri,” jawab Dona acuh.


“Kok gitu jawabnya, Mama serius lho Kak,” ucap Mama lagi.


“Dona juga serius, Mama tanya aja langsung sama yang bersangkutan. Kenapa dia pagi – pagi sudah pergi ke kampus duluan dan berada di kampus Dona hanya berduaan dengan laki – laki,” tutur Dona yang semakin sewot.


“APA! Melati berduaan dengan laki – laki??” tanya Mama terkejut, dan langsung meluncur ke kamar Melati.


Tok.. tok.. tok..


Mama mengetuk pintu kamarnya seraya berteriak memanggil nama Melati.


“Melati.. Mel.. Mama masuk ya,” kata Mama yang tanpa menunggu jawaban Melati sudah langsung nyelonong masuk ke dalam kamar.


“Kenapa kamu berduaan sama laki – laki? Ayo jelasin ke Mama,” titah Mama.


“Hmm, ini nih yang bikin Melati itu malas banget. Kalau menerima informasi yang gak jelas ya begini jadinya,” ucap Melati sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


“Ya makanya kamu cerita ke Mama, bagaimana kronologisnya sampai – sampai Kakak kamu juga jadi seperti itu,” ucap Mama.


“Nah, terus tangan kamu ini kenapa? _ Kaki kamu juga, Mel...” ekspresi Mama yang tadinya seperti sedang emosi kini berubah menjadi sangat khawatir setelah memperhatikan tubuh anak perempuannya.


“Ma, Melati itu punya sebuah misi besar yang harus Melati kejar. Dan untuk itu melati harus melakukan sebuah riset, mengumpulkan data dan informasi yang akurat. Jadi..,” ucapan Melati dipotong oleh Mama.


“Udah deh enggak usah berbelit – belit, langsung to the point aja. Ngapain kamu berduaan dan ini juga,” ucap Mama sambil menunjuk luka – luka di tubuh Melati. Melati menghela nafas.


“Tadi pagi sewaktu Melati mau menyeberang kurang hati – hati, jadi kena tabrak deh sama sepeda motor..,” tutur Melati.


“Tabrak?” tanya Mama semakin khawatir.


“Dan kebetulan yang nabrak Melati itu kak Aris _ anak kedokteran, karena dia merasa bertanggung jawab jadi Melati dibawa ke ruang kesehatan untuk diobati, karena pagi – pagi belum ada orang ya jelas dong Ma hanya kami berdua, kan?” terang Melati lagi.


“Oh begitu, Mama kira..,”


“Mama kira.., Udah deh pokoknya Mama tenang aja. Melati enggak akan macam – macam. Janji,” timpal Melati.


“Terus kenapa Kakak kamu bisa sampai begitu?” tanya Mama lagi.


“Jealous kali ya Ma, soalnya Kak Dona kan suka sama Kak Aris,” kata Melati sambil tersenyum.


“Enak aja! Siapa yang suka sama Kak Aris,” timpal Dona yang mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Melati.


Kebetulan pintu kamar Melati tidak ditutup rapat oleh Mama ketika masuk sehingga ketika Dona akan masuk ke kamarnya melihat ibu dan anak yang sedang duduk di atas tempat tidur.


“Kak.. kalau Kakak suka juga enggak apa – apa kan, tidak ada yang melarang Kakak untuk suka sama siapapun,” ucap Mama sambil meraih lengan Dona di ajak ikut duduk bergabung bersama mereka.

__ADS_1


Dona hanya terdiam dengan wajah masamnya memandang Melati.


“Kak, jangan khawatir ya, Aku tidak akan pernah mengambil atau merebut apapun yang Kakak suka. Kakak Cuma salah paham saja. Tadi itu Kak  Aris cuma ngobatin luka – luka aku aja kok,” jelas Melati.


“Ya ampun, Mel. Kok bisa begini?” tanya Dona mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Makanya, Kak. Lain kali check and re_check dulu sebelum mengambil sikap biar enggak rugi apalagi menyesal, kalian bersaudara lho, ingat itu!” nasehat Mama kepada Dona.


“Iya Ma,” _ “Maafin Kakak ya Mel. Enggak seharusnya Kakak bersikap seperti tadi. Kakak lebih percaya sama orang lain ketimbang adik sendiri,” ucap Dona sambil memeluk adiknya. Mama ikut haru melihat keakraban mereka.


“Ya sudah, kalau begini kan jelas tidak ada yang salah paham lagi. Dan Mama harap kalian berdua selalu rukun sampai kapan pun,” tutur Mama lagi.


“Beres Ma,” sahut Melati.


“By the way.. bener dong Kakak suka sama Kak Aris?” celetuk Melati lagi.


“Beneran Kak?” timpal Mama.


“Apaan sih! Ya enggak lah. Toh masih banyak kok cowok – cowok di luar sana yang jauh lebih tampan dari Aris,” kilah Dona dengan wajah yang mulai merona menahan malu.


“Beneran nih..? Terus kalau aku yang maju boleh dong,” goda Melati lagi.


“Ya..ya silahkan, toh dia bukan milik siapa – siapa. Jadi siapapun bebas kan mau mendekatinya,” kata Dona dengan rona wajah yang berubah sedikit kaku.


“Ya sudah ah, Mama mau telpon Papa dulu. Kalian lanjutkan saja diskusinya ya,” kata Mama sembari tersenyum dan meninggalkan mereka berdua di kamar.


“Kenapa sih? Resek deh!” kata Dona sembari melemparkan bantal yang dipegangnya ke Melati.


“Gimana, suka?” goda Melati lagi.


“Kamu ya..,” sahut Dona tersenyum kemudian pergi meninggalkan Melati dan kembali ke kamarnya.


“Kalau suka biar nanti aku bilang ke Kak Aris ya!” seru melati mengiringi kepergian Dona.


Akhirnya Dona berbalik dan berkata, “Awas kalau berani.”


Melati tertawa mendengar ucapan Kakaknya. Kemudian dia berbaring merebahkan tubuhnya untuk meregangkan otot otot tubuhnya yang baru mulai terasa keram setelah kejadian pagi tadi.


“Kak.. Kak, masih juga belum mau jujur. Sakit tau,” kata Melati lirih sambil memeluk ‘Chipi’.


Di Kamar Dona


Dona membuka kembali buku hariannya. Dibacanya kembali tulisan – tulisan tentang ungkapan perasaannya terhadap Aris. Lalu memandang foto Aris sambil tersenyum indah. Entah apa yang sedang dipikirkannya sembari tersenyum.


Kemudian mulai menuliskan sesuatu di lembar buku hariannya.


Dear Diary,


Sebenarnya aku sendiri tidak tahu pasti, rasa apa ini?

__ADS_1


Tapi kenapa ada sakit yang ku rasa ketika aku melihat dia dekat dengan yang lain?


Apakah ini yang dikatakan CINTA? Atau hanya sekedar perasaan mengagumi?


Entahlah......


Aku juga tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan perasaan ini padanya,


seperti yang sudah dikatakan Melati. Aku bahkan tidak punya keberanian yang cukup.


Lalu bagaimana aku bisa tahu kalau dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku?


Dan bagaimana jika Melati pun benar – benar menyukainya?


Haruskah aku bertahan atau aku harus mengalah?


Tapi aku juga belum siap untuk terluka,


Aku belum siap untuk merelakannya dengan yang lain, apalagi dengan adikku sendiri.


Sangat menyakitkan pasti...


Dan bagaimana aku bisa menatap dan hidup berdampingan dengan mereka?


Oh Tuhan, aku tidak dapat membayangkan hal itu terjadi dalam takdir perjalanan cintaku.


Aku mencintai dan menyayanginya dengan sangat.


Tapi aku juga jauh lebih mencintai dan menyayangi adikku.


Dan aku sangat berharap kesalahpahaman ini tidak akan pernah terulang kembali.


Karena aku tidak akan pernah menggadaikan persaudaraan ini hanya karena cinta seorang pria.


Akhirnya Dona menarik nafas panjang dan menghembuskan secara perlahan. Kemudian menutup dan menyimpan buku hariannya kembali ke tempat semula sembari tersenyum dengan nafas sedikit lega.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Hai reader... jangan pernah berubah ya untuk selalu memberikan dukungannya 😍😍😍


Like


Komen


Favorit


Rate juga yaa


Kasih Gift jg boleh 🤭😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2