
Perubahan iklim membuat tubuh Melati sedikit terkejut. Pagi ini dia merasakan tubuhnya tidak sedang dalam kondisi baik. Dia merasa rada meriang. Tetapi karena kesepakatan bertemu dengan Kakak senior pembimbingnya untuk masa pengenalan kampus, dengan terpaksa dia harus berangkat juga ke kampus.
“Nggak mungkin kan gue telat juga seperti awal kuliah waktu dulu,” gerutu Melati sembari mengambil handuk kemudian menggiring tubuhnya ke kamar mandi.
Selang beberapa menit kemudian muncul dari balik pintu kamar mandi tubuh yang terbungkus dengan jubah handuk berwarna merah maroon dan gulungan handuk kecil senada di atas kepalanya.
Melati segera mengganti kostumnya dengan pakaian yang sesuai untuk ke kampus. Gulungan handuk di kepalanya perlahan mulai di buka, kemudian dikeringkan dengan menggunakan hairdryer.
Saat sedang asik meng_hairdryer, terdengar bunyi nada di handphone_nya.
“Ting..” bunyi nada notifikasi di WA.
Melati pun menjedah kegiatannya, dia segera memanjangkan tangannya mengambil hp lalu membaca isi pesan itu.
💌‘Guten Morgen..’
(Selamat Pagi..)
💌‘Auch Einen Guten Morgen,’ balas Melati tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.
(Selamat Pagi Juga..)
Ting..
💌‘Hari ini jadwal kosong nggak?’
💌‘Belum tahu, Mas. Karena hari ini masih ada bimbel dari senior.’
💌‘Oh gitu, Kalau ada jadwal kosong segera cuit aku ya 😊’
💌‘😊 😊’
Melati menuntaskan kembali pekerjaannya. Setelah berdandan rapi dan wangi dia segera berangkat menuju kampus barunya.
Pagi ini di awali Melati dengan semangat yang tinggi. Tak sabar rasanya untuk segera menjejakkan kakinya di setiap sisi dari bangunan gedung megah tempat ia menimba ilmu sekarang. Ditambah lagi penyemangat yang membuat hati berdebar.
Sambil dalam perjalanan menaiki bus menuju kampusnya, Melati kembali teringat pertemuan pertamanya dengan Kevin. Melati seketika menyunggingkan kedua sudut bibirnya ke atas.
“Kenapa sih, kalau teringat namanya seperti ada sesuatu yang berbeda,” batinnya lirih dengan kedua mata terpejam sambil memegang dadanya dengan kedua tangannya.
“Bist du in Ordnung?” Tanya seorang perempuan muda yang duduk di sebelahnya.
(Apakah anda baik – baik saja?)
Melati terkejut dan cepat – cepat melebarkan kedua bola matanya. Lalu mengangguk dan melemparkan senyuman padanya.
__ADS_1
Perempuan itu pun membalasnya dengan senyuman pula. Lalu Melati mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, dan turun di tempat pemberhentian.
Melati membimbing langkah kakinya menyusuri setiap jengkal jalanan menuju ruang pertemuan dengan para mahasiswa – mahasiswi baru, baik yang kuliah melalui jalur pertukaran mahasiswa ataupun yang memang langsung belajar di sana.
Melati mengetuk pintu saat sudah berada di depan kelasnya.
Tok.. tok.. tok.
Kreeekk!
Melati membuka pintunya dan berkata, “Maaf Kak, saya telat”.
Melati pun di persilahkan memasuki ruangan. Semua orang sudah hadir di sana, Melati terlambat beberapa menit saja. Namun ada salah satu dari mereka yang kurang berkenan dengan keterlambatan Melati.
“Oh jadi seperti ini anak baru yang di agung – agungkan di Indo?”
Melati hanya diam dengan terus berjalan mengambil posisi duduknya.
“Clara! Calm down, please.” Titah ketua mahasiswa mereka.
“Ya, aku heran saja. Orang yang nggak berdisiplin kok bisa ya lulus dan masuk kemari?!” lanjut Clara. Melati masih tetap mengabaikannya. Dia hanya melirik perempuan itu dari sudut ekor manik matanya.
Ya Clara adalah salah satu dari mahasiswa yang ikut belajar di kampus yang sama dengan Melati , hanya programnya saja yang berbeda. Dia melalui jalur reguler karena orang tuanya pindah tugas ke Jerman.
Proses bimbingan berjalan terus, mereka yang baru datang di sini di kenalkan dengan berbagai penjelasan dari ketua pembimbing.
Pertama sekali mereka di ajak berkeliling kampus, sembari mengenalkan sejarah pertama kampus mereka.
Universitas Munich adalah salah satu universitas tertua di Jerman. Awalnya didirikan di Ingolstadt pada 1472 oleh Adipati Ludwig IX dari Bayern-Landshut, universitas tersebut dipindah pada 1800 ke Landshut oleh Raja Maximilian I dari Bayern saat Ingolstadt terancam oleh Prancis, sebelum berpindah tempat ke lokasi saat ininya di Munich pada 1826 oleh Raja Ludwig I dari Bayern. Pada 1802, universitas tersebut secara resmi disebut Ludwig-Maximilians-Universität oleh Raja Maximilian I dari Bayern untuk menghormati pendiri asli universitas tersebut.
Akhirnya perjalan pengenalan mereka selesai untuk hari ini dan akan di lanjutkan kembali besok.
Melati melihat jam yang melingkar di tangannya. Sepertinya dia masih punya banyak waktu sebelum ia kembali ke rumah kos – kosannya.
Melati duduk di sebuah bangku yang terbuat dari batu di depan bundaran air mancur yang masih terletak di sekitar kampusnya, lalu mengambil handphone_nya dan berniat untuk menghubungi Kevin.
Namun tiba – tiba saja seseorang dengan ramah menyapanya dari balik punggungnya. Dan tentu saja hal itu membuat Melati terkejut tetapi bahagia.
“Hallo, auf wen wartest du, Schwesterchen?” Sapa Kevin dengan senyuman indah.
(Hai, lagi menunggu siapa, mbak?
Karena penasaran Melati menoleh ke arah sumber suara. Betapa bahagianya dia orang yang masih akan di hubungin ternyata sudah ada di depan mata.
Wajah Melati tampak memerah bak tomat yang sudah mulai ranum. Dia tertunduk sejenak menutupi wajahnya yang sudah mulai merona. Debaran detak jantungnya semakin tak berirama indah ketika Kevin mengambil posisi duduk tepat di sebelah kiri Melati.
__ADS_1
“Duh Mel! Kenapa sih, jadi nggak normal gini? Bisa – bisa copot nih jantung kalau nggak di ikat kuat,” monolog Melati sembari membuang nafasnya dari mulut.
“Kenapa, habis olah raga?” tanya Kevin menggoda.
“Apaan, sih.”
“Mau di sini terus?” tanya Kevin lagi.
“Ya enggak lah.”
“Jalan yuk. Aku mau bawa kamu ke sebuah tempat, dan aku yakin kamu bakalan suka dan pasti nggak akan pernah bisa melupakannya,” terang Kevin.
“Oh ya?!”
“Mau nggak?” tanya Kevin lembut. Dengan mantab Melati mengangguk.
“Okey, let’s go.”
Kevin membawa Melati ke sebuah tempat yang tak akan pernah terlupakan. Kastil Neuschwanstein, yang terletak di bukit terjal di desa Hohenschwangau, sebelah barat daya Bavaria. Kastil ini disebut-sebut sebagai inspirasi bagi istana Cinderella dan Sleeping Beauty di Disneyland. Kastil yang dibangun oleh Raja Ludwig II ini selesai pengerjaannya pada tahun 1886.
Sang Raja yang memerintah Bavaria pada 1864 hingga kematiannya pada 1886 menduduki tahta saat usianya baru 18 tahun. Tak memiliki pengalaman politik, minat utamanya hanyalah pada seni.
Kastil Neuschwanstein yang berjarak sekitar 120 kilometer dari Munich ini bisa ditempuh dengan mobil dalam waktu kurang dari 2 jam.
Melati merasa tersanjung dengan Kevin saat melontarkan kata – kata pujian untuk Melati di sela – sela obrolannya.
Setelah sampai di Kastil Neuschwanstein. Melati di buat takjub dengan arsitektur bangunannya.
“Mas! Makasih ya sudah membawaku ke mari,”
“Kamu bahagia?”
“Sungguh. Sungguh sangat bahagia,” jawab Melati dengan mata berbinar memancarkan kebahagiaan dari lubuk hatinya.
“Alhamdulillah, karena tujuanku adalah ingin membuat kamu bahagia bersamaku.”
Bersambung...
Selalu berikan dukungan kalian yaaa my beloved readers 😘😘
......PROMOSI!!......
Sambil menunggu Up, yuk KEPOIN Karya temen aku yg Ketche.. 😍😍👇
__ADS_1