Dia Suamiku, Kak!

Dia Suamiku, Kak!
BAB 27. BALI I'M COMING..


__ADS_3

Kini waktu yang direncanakan tiba. Seperti yang orang – orang bilang 'quality time with family'. Keluarga bahagia itu pergi berlibur ke Bali seperti waktu yang direncanakan selama lima hari empat malam.


Semua orang mengemas kopernya masing – masing. Semua wajah memancarkan raut bahagia. Kebersamaan yang jarang sekali mereka dapatkan karena kesibukan masing – masing.


Hanya saja Pak Man dan Mbok Suti yang tidak ingin pergi meski sudah di ajak oleh Pak Heru dan Bu Hilda. Mereka lebih memilih untuk menjaga keamanan rumah.


Hari ini tepatnya hari kamis mereka akan terbang ke Bali dengan pesawat penerbangan pertama.


Semua orang sudah berkumpul di bawah, hanya tinggal Melati yang mereka tunggu. Pak Heru yang sedang duduk di sofa ruang tamu melirik ke arloji yang melingkar di tangan kirinya. Lalu menghela nafas pelan.


“Duh..Ngapain aja sih Melati nggak turun – turun, kalau sampai ketinggalan pesawat gimana?” gumam Bu Hilda lirih.


“Sabar Ma, kita flight pukul 9.10 WIB dan sekarang masih pukul 6.15 WIB. Jadi masih ada waktu,” terang Pak Heru menenangkan istrinya.


“Don, liat gih ke kamar Melati,” suruh Bu Hilda.


Dona pun bergerak. Dona baru saja hendak melangkahkan kakinya, Melati sudah muncul sambil menggeret koper dengan tangan kakaknya. Ketika semua mata menatapnya, dia langsung menyunggingkan kedua sudut bibirnya ke atas.


“Nggak usah sok imut gitu deh,” ucap Dona sedikit kesal.


Gimana nggak kesal, karena Melati selalu saja begitu. Selalu dia yang di tunggu, dan selalu saja ada benda yang ketinggalan di kamarnya. Sehingga dia harus balik lagi ke kamarnya hanya untuk mengambil benda itu. Dan terkadang benda itu bukanlah benda yang penting.


Dan yang buat kesal lagi dia langsung tersenyum lebar sambil mengucapkan kata, “Maaf telat.”


“Ya sudah ayo buruan. Pak Man kasihan tuh sudah menunggu dari tadi,” ucap Pak Heru.


Begitu semua sudah masuk ke dalam mobil, tiba – tiba saja Melati kembali berlari masuk ke dalam rumah.


“Tuh kan Ma. Pasti ada lagi deh yang ketinggalan,” celetuk Dona sambil menggelengkan kepalanya.


“Lalu mau bilang apa lagi, udah jadi kebiasaan adik kamu, kan?”


Mereka pun langsung tertawa meskipun merasa sedikit kesal. Tapi mereka selalu saja bisa memaafkannya.


***


Bandar Udara International Husein Sastranegara


“Oke, Pak Man hati – hati. Jangan lupa kunci pintu sebelum tidur. Pastikan semua aman,” anjur Pak Heru sembari menepuk pundak Pak Man.


“Siap, baik Pak!” jawab Pak Man.

__ADS_1


Mereka masuk ke bandara dan segera chek – in. Kemudian duduk di ruang tunggu keberangkatan. Mereka duduk berjejer, Papa, Mama, Melati dan Dona. Papa dan Mama mereka asik berbincang sendiri. Melati asik dengan musik yang ia dengarkan sementara Dona hanya bisa menoleh ke kanan dan ke kiri melihat sekelilingnya.


Dia melihat seorang pria yang duduk di sebelahnya berjarak dua bangku dari dia. Pada saat Dona meliukkan pandangannya kembali, pria itu pun menyunggingkan senyum tipis kepada Dona. Dona pun membalasnya dengan anggukkan.


Beberapa menit kemudian terdengar suara dari pusat informasi memberitahukan bahwa penerbangan pesawat ke Bali akan segera berangkat.


“.... Kepada seluruh penumpang pesawat Lion Air....”


Mereka segera bergegas menuju ke pesawat.


Dona kembali bersebelahan duduk dengan pria yang tadi dilihatnya di lobi tunggu. Pria itu kembali menyunggingkan senyuman saat beradu tatap dengan Dona.


Dona yang pemalu hanya berani membalas senyumannya.


“Kenapa Kak, senyum – senyum sendiri gitu,” tanya Melati.


“Hm, mana ada. Nih lagi baca buku nih!” sangkal Dona sambil menunjukkan buku yang sedang di pegangnya. Melati hanya mengangguk.


***


Bandar Udara Ngurah Rai


Akhirnya pesawat yang membawa mereka selama 1 jam 40 menit mendarat dengan aman di Bandar Udara Ngurah Rai. Mereka turun dari pesawat kemudian lanjut naik taksi menuju hotel yang sudah di booking oleh Pak Heru.


Melati langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menarik kedua tangannya ke atas lalu menyatukannya. Merefleksi tubuhnya karena dia merasa sangat lelah.


Sementara Dona akan langsung membuka tas kopernya, untuk mengambil facial wash. Dia ingin mencuci mukanya terlebih dahulu.


Dia membolak - balikkan kopernya, dengan raut wajah yang ketat dia memperhatikan kopernya. Lalu mencoba mengingat – ingat kembali perjalanannya mulai dari awal.


Sambil berkacak pinggang, Dona berjalan ke sana - kemari. Sambil berpikir bagaimana dia bisa menemukan kopernya kembali. Sementara Melati menggerakkan manik matanya selaras dengan gerakan Dona. Kemudian dia bangun dan duduk dengan menyilangkan kedua kakinya.


Dia masih memperhatikan Kakaknya dengan seksama lalu bertanya, “Kak! Kenapa sih, Kehilangan harta karun????”


“Lebbih dari harta karun!”


“Maksud Kakak?!”


“Koper Kakak Mel..! Koper Kakak ketuker.”


Melati langsung melompat dari tempat tidurnya dan memperhatikan kopernya sambil berteriak, “WHAT??! Kok bisa?”

__ADS_1


“Mana Kakak tahu. Terus gimana dong? Mau cari kemana coba!” rengek Dona sambil mengucek rambutnya.


Akhirnya Melati mempunyai ide bagaimana cara menemukan kopernya kembali. Meskipun kemungkinannya sangat kecil. Dia mengambil kameranya, kemudian memotret kopernya.


“Mau kamu apakan dengan foto itu?” tanya Dona.


“Sudah Kakak tenang saja, do’akan semoga berhasil,” jawab Melati.


Melati mulai mencari informasi. Dimulai dari pusat informasi di BDO. Akhirnya dia mendapatkan sedikit titik terang setelah menunggu sekitar satu jam.


“Benerkan Kak, kita sudah mendapatkan siapa nama pemilik koper ini. Karena menurut informasi yang di dapatkan, hanya dua orang yang memiliki koper yang sama. Satu milik Kakak dan yang satunya lagi milik dr. Rifandra,”


“dr. Rifandra? Terus kemana kita harus mencari dia? Bali ini luas Mel!” seru Dona.


Melati pun tertegun sambil memikirkan bagaimana cara menemukan dr.Rifandra. Melati dan Dona berjalan mondar – mandir sambil memikirkan bagaimana cara selanjutnya.


“Udah! Kalau begini terus kita nggak akan pernah menemukannya. Jadi.. Mending sekarang kita keluar, kita muter – muter kota Bali. Siapa tahu dengan begitu kita bisa ketemu sang pemiliknya,” tutur Melati sembari mengangkat kedua bahunya.


“Tapi kemana?” tanya Dona pesimis.


Melati tak menjawab. Dia langsung menarik tangan Kakaknya lalu menggeretnya keluar dari kamar.


Tapi Dona menghentikan Melati. Melati pun berhenti dan bertanya kepada Dona, “Kenapa Kak?”


“Kalau Papa sama Mama tanya gimana? Apa nggak sebaiknya kita izin dulu?” tanya Dona.


Melati menarik tangan Dona Kembali tanpa memberikan jawaban. Mereka menyetop taksi dan pergi ke pantai.


“Mel! Ke tempat ini?! Dengan begitu banyak orang bagaimana kita bisa menemukannya?”


Melati masih belum menjawab. Dia terus berjalan di tepi pantai sambil bertanya ke orang – orang apakah mereka dr. Rafindra atau mereka mengenal dr. Rafindra.


Sampai senja tiba mereka belum juga menemukan orang yang mereka cari. Sementara orang di seberang sana yang bernama dr. Rafindra pun sedang panik karena kopernya tertukar.


Karena lelah mencari dan tanpa hasil, akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti dan mengulanginya kembali besok.


“Kak,” panggil melati sambil memutar – putarkan tangannya di atas perutnya.


“Laper?” Tanya Dona dan Melati mengangguk sambil tersenyum


“Besok kita lanjutkan lagi, sampai ketemu.”

__ADS_1


Setelah selesai makan dan minum, mereka berdua kembali ke hotel setelah berkali – kali mendapat telepon dari Papa dan Mama mereka


 Bersambung...


__ADS_2