
Waktu terus berjalan perlahan namun pasti akan memberi pertukaran hari., sementara Kevin masih terus berjuang memberi penjelasan sejelas – jelasnya kepada Melati.
“Mel! Aku mohon kamu percaya sama kau. Kamu boleh kok bertanya apapun tentang aku, tentang orang – orang di sekitarku, atau apapun yang ingin kamu tahu. Aku akan mengatakannya semuanya sejauh sepengetahuanku.”
Kevin terus menatap sendu wajah gadis berparas ayu yang sedang mengenakan piyama lengan panjang berwarna maron, dan kini sedang duduk di sebelah kanannya namun berjarak sekitar setengah meter jauhnya.
Melati hanya diam tak bergeming, pandangannya masih kosong lurus ke depan. Seolah – olah pemandangan siang tadi terus saja bermain dalam ingatannya. Seakan enggan untuk pamit pergi dari memori otaknya.
Air matanya pun terus mengalir tanpa adanya hambatan yang jadi penghalangnya. Sesekali terdengar isakan keluar dari mulut Melati. Melihat itu hati Kevin ikut terenyuh, karena dia juga ikut merasakan sakit atas apa yang terjadi.
Akhirnya Kevin memberanikan diri, lebih mendekatkan diri ke Melati. Kemudian meraih tangan Melati dan menggenggamnya erat. Melati menoleh ke arah Kevin. Kini manik mata mereka saling bertatapan. Dengan lembut Kevin menyeka air mata yang masih saja mengalir di kedua pipi lembut Melati.
“Aku tahu, sulit bagi kamu untuk mempercayai aku, bukan? Tapi satu hal yang harus kamu tahu Mel. Aku benar – benar tulus mencintai kamu, dan aku ingin kamu menjadi milik aku selamanya,” ungkap Kevin serius.
“Oh! Jadi kamu mau aku jadi milik kamu, lalu ‘dia’?” tanya Melati dengan sedikit meninggikan suaranya.
“Dia? Dia bukan siapa – siapa aku, Mel. Ya dulu memang kedua orang tua kami berencana untuk menjodohkan kami. Tapi aku menolaknya, karena dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri nggak lebih dari itu. Tapi berbeda dengan Clara, ternyata dia benar – benar menginginkanku.”
“Oh jadi namanya Clara.”
Dengan serius Kevin bertanya, “Kamu mengenal dia?”
“Nggak!” sahut Melati datar.
“Mel! Aku janji sama kamu. Untuk meyakinkan kamu bahwa aku tidak punya hubungan apapun dengan Clara, aku akan mengenalkan kamu kepadanya. Tapi aku mohon kamu percaya sama aku.” Tangan Kevin tak ingin melepaskan genggamannya saat Melati ingin menarik tangannya.
“Aku nggak akan lepasin yang sudah aku genggam, karena ini,” sambil menunjuk genggamannya, “tidak akan pernah aku lepaskan sampai kapan pun. Aku akan terus menggenggamnya kemanapun aku pergi, karena dia adalah milikku yang sudah ditakdirkan Allah dalam hidupku.”
Hati Melati kembali seperti sedang diterpa angin segar yang menyejukkan hati dan membawa jiwa terbang melayang jauh ke angkasa. Keteguhan hatinya kembali goyah.
__ADS_1
Meski ada rasa perih yang mendera, tapi hati selalu saja bisa memaafkan dan seolah berkata bahwa ‘aku juga tidak ingin kehilangan dan selalu ingin bergandengan tangan bersamamu, hari ini, esok dan selamanya’.
“Mas! Apa aku bisa mempercayai kata – kata kamu? Kamu nggak akan pernah nyakiti perasaanku?” tanya Melati lembut dengan mata yang berkaca – kaca.
“Insya Allah, kamu bisa pegang kata – kataku. Aku tidak akan pernah menyakiti kamu apalagi sampai menyia – nyiakan kamu. Apapun rintangan yang harus aku hadapi, asalkan kamu selalu ada di sisiku. Aku akan mampu melewati itu semua,’ tukas Kevin sembari menyunggingkan kedua sudut bibirnya.
Teduh hati Melati mendengarnya, dia akan mencoba memberi kesempatan kepada Kevin untuk membuktikan kata – katanya. Kini keduanya sudah berdamai, karena Melati juga tidak rela untuk tidak menerima Kevin.
Ini adalah cinta pertamanya, meskipun banyak dikelilingi pria – pria tampan yang menyatakan cinta kepadanya namun hatinya belum bisa menerimanya. Tapi kali ini berbeda, ada rasa yang sulit untuk di ungkapan tapi ia berasa ada jauh di dalam relung hati terdalam.
“Jadi..kamu mau menerima aku sebagai suami kamu?” canda Kevin.
“Kok suami? Aku tuh belum tamat kuliah, Mas,” rengek Melati manja.
Kevin pun tertawa geli sambil memeluk Melati Kevin kembali bertanya, “Jadi sekarang kita udah jadian Kan?” Melati menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, boleh dong aku panggil kamu sayang?” imbuh Kevin. Melati kembali menganggukkan kepalanya lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sementara Kevin semakin mengencangkan pelukannya.
Saat mereka sedang menikmati kebersamaannya, ada sesuatu yang menggetar di atas meja. Kevin kemudian melihatnya, tertera ‘Mommy Calling..’. Kevin segera mengangkatnya.
“Ya, Mom. Maafin Kevin lupa kasih kabar ke Mommy.”
“Mommy khawatir lho, sampai malam begini anak Mommy belum pulang,” ujar Ane _ Mommy Kevin dari seberang telepon.
“Maaf ya Mom, malam ini Kevin nggak pulang,” sembari menoleh ke Melati, ”Kevin nginap di rumah teman. Kebetulan tadi ketemu jadi pingin ngobrol – ngobrol lama sama dia. Izin ya, Mom?” pamit Kevin sambil mengernyitkan dahinya. Melati hanya melototi Kevin.
“Ya Sudah, kamu hati – hati ya. Bye.”
“Bye Mommy,” balas Kevin bahagia lalu meletakkan kembali hendphone_nya di atas meja.
__ADS_1
“Mas! Kamu yakin mau nginap disini?! Nanti apa kata orang, Mas!” resah Melati lalu menghela nafasnya.
Tangan Kevin kembali menggenggam tangan Melati dan berkata, “Sayang ini bukan Indo, lagian kamu nggak perlu takut, aku nggak akan ngapa – ngapain kamu kok. Paling dikit!”
“Awas ya sempat kamu berani macem – macem ke aku,” ketus Melati dengan membulatkan kedua manik matanya yang indah.
Kevin semakin tertawa renyah melihat ekspresi Melati yang semakin membuat Kevin gemas dan seolah ingin langsung menerkamnya, mendekapnya dalam – dalam. Membuat Melati semakin menjauhkan dirinya dari Kevin.
“Kamu kenapa sih, takut?” terka Kevin tersenyum.
“Mas! Kamu nggak ada niat jahat ke aku, kan?” celetuk Melati. Kevin kembali tertawa geli.
Melati semakin menjaga jarak dari Kevin, dia takut bahwa Kevin hanya berpura – pura agar hatinya luluh dan menerimanya dengan tulus padahal dibalik itu semua Kevin punya niat yang tidak baik kepada Melati.
Setiap Kevin bergerak satu langkah, Melati juga semakin bergeser dan parahnya lagi Melati langsung memasang kuda – kuda sama seperti saat dirinya akan memulai untuk bermain taekwondo.
“Kamu bisa bela diri?” tanya Kevin.
Dengan tetap waspada dan masih dengan posisi yang sama Melati mengangguk lalu berkata, “Awas saja kalau kamu berani mendekat, Mas!”
“Allahuakbar! Sayang aku nggak akan apa – apain kamu,” timpal Kevin sambil terus mendekati Melati. Sontak membuat Melati melancarkan genjatannya.
“Oughh!” rintih Kevin saat tendangan mendarat tepat di perutnya.
Tentu saja membuat Melati panik dan merasa bersalah. Dia memapah Kevin kembali duduk di kursi. Sekilas Kevin melihat Melati dari sudut ekor matanya. Melati tampak sibuk mengambilkan teh hangat untuk meredakan sedikit rasa sakitnya. Lalu memberikannya kepada Kevin.
Saat Melati duduk di sisinya, kedua mata mereka kembali beradu tatap. Tanpa ada suara sedikitpun, keduanya tak bergeming. Bahasa kalbu tersirat dari tatapan keduanya, seakan sedang mengutarakan isi hati mereka masing – masing. Keduanya semakin dekat dan lebih dekat lagi.
Dan......
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa untuk berjejak setelah selesai membaca ya Cintaaaah 😘