
Ucapan Kevin membuat Melati serasa melayang. Ia terpesona mendengar kata – kata syahdu yang terucap dari mulut Kevin. Dia menatap Kevin sembari tersenyum indah. Hal yang sama juga di lakukan oleh Kevin.
Kini kedua pasang mata mereka saling beradu tatap. Debaran degup jantung di antara keduanya pun semakin kencang mengalahkan laju kecepatan seorang pembalap yang memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Dengan perlahan Kevin berjalan maju mendekat ke tubuh Melati. Tanpa mengalihkan pandangannya Kevin meraih kedua jemari tangan Melati sembari berkata, “Mel! Aku jatuh cinta padamu, sejak pandangan pertama. Dan aku tidak mau membuang - buang waktu untuk menunda rasa.”
Melati tampak gugup, dia celingukan. Dia tidak yakin dengan perasaannya saat ini, apakah dia juga menyukai Kevin atau tidak. Dia takut perasaannya ini hanya sesaat dan bukan perasaan cinta, tapi hanya sekedar mengagumi saja.
“Mas, aku minta maaf. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak ingin perasaan kita hanya sesaat yang nantinya justru malah menyakiti diri kita masing – masing.”
“Tapi aku belum pernah merasakan debaran seperti ini sebelumnya, debaran yang membuat aku selalu teringat akan wajah cantik yang saat ini ada di hadapanku. Aku juga yakin bahwa kamu adalah satu dari tulang rusukku yang hilang.”
Whuuussssh..!!!
Melati seakan terbawa angin, terbang melayang sampai langit ke tujuh. Dalam diam dia memandang wajah Kevin. Seakan dia ingin mengatakan ‘Ya Mas aku juga mencintaimu’.
Tapi Melati sadar bahwa dia tidak akan terburu – buru untuk mengambil sebuah keputusan. Apalagi ini adalah keputusan yang menyangkut masa depannya, berhubungan dengan hati.
Melati menggenggam tangan Kevin, setelah dia berhasil mengendalikan hatinya. Dengan lembut dia mengatakan kepada Kevin bagaimana perasaannya saat ini. Dia juga tidak ingin membuat Kevin terluka dengan jawabannya.
“Mas, aku hargai perasaan kamu, keberanian kamu dan niat baik kamu. Tapi apakah ini tidak tergesa – gesah? Kita baru saja bertemu beberapa hari yang lalu, dan kita..belum saling mengenal.. be..” ucap Melati terpotong oleh Kevin.
“Justru itu..agar kita semakin dekat dan lebih saling mengenal lagi satu sama lain. Kenapa? Kamu sudah ada yang lain?” tanya Kevin menyelidik.
“BELUM!” jawab Melati spontan.
“Duh, Mel! Kenapa sih mulut nyeplos aja kayak mobil yang lagi rem blong,” ucapnya dalam batinnya.
Melati pun tersipu malu, lalu memalingkan wajahnya dari tatapan Kevin.
Kevin tertawa geli, sambil mesam – mesem dia berkata, ”Artinya aku punya kesempatan dong.”
__ADS_1
Melati pun hanya menyeringai.
“Mas..kasih aku waktu untuk memutuskannya, jujur aku belum pernah pacaran ataupun berkomitmen dengan seseorang. So, this is my first experience.”
“Are you sure?!” tanya Kevin heran. Melati mengangguk sembari tersenyum.
“Will you try with me?”
“Mas...kan aku sudah bilang, kasih aku waktu untuk meyakinkan hatiku. Karena aku ingin ini akan jadi yang pertama dan terakhir dalam hidupku,” tutur Melati.
“Baiklah aku paham. So, berapa lama aku harus menunggu?”
“Nggak sabar ya?” goda Melati manja. Kevin mengangguk nakal.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka mengelilingi Kasti itu. Tak lupa Kevin rela melewati setiap spot menarik untuk berfoto. Dan kali ini dia tidak perlu candid untuk mendapatkan foto Melati. Bahkan sesekali mereka berfoto bersama.
Mereka terus berkeliling sampai waktu berganti, kini malam telah datang. Langit cerah bertabur bintang mengiringi malam indah bersama orang yang baru saja hadir memenuhi seluruh ruangan dalam hati.
Tanpa mereka sadari sambil berjalan terkadang tangan mereka saling menggenggam erat. Perjalanan mereka terhenti pada sebuah pusat perbelanjaan di kota Munich, Hofstatt.
Kevin memilihkan sebuah syal cantik yang di berikan kepada Melati. Syal itu sebagai simbol kehangatan dirinya.
Sambil mengalungkan syal itu di leher Melati, Kevin berkata, “Berjanjilah bahwa kamu akan selalu memakai atau membawa syal ini kemanapun kamu pergi. Ini sebagai pengganti diriku yang selalu menghangatkanmu dan melindungimu.”
Melati mengangguk dengan tatapan penuh cinta. Kemudian mereka saling diam, manik matanya kembali beradu mengungkapkan perasaan yang tersirat dalam hati.
Lalu Melati menjawab, “Mas, thanks for being with me. And I.. I would never know what will I do without you.“
Lalu mereka duduk pada sebuah tempat yang menyajikan makanan cepat saji sambil menikmati secangkir kopi hangat.
Sesekali Melati melirik ke arah Kevin, dia merasa kikuk karena Kevin tak henti – hentinya memandangi wajah Melati yang terlihat imut saat mulutnya menghembus – hembuskan cangkir kopi yang masih mengeluarkan uap panas ditangannya.
__ADS_1
Bahkan sambil menyeruput gelas kopinya, Kevin tak rela mengalihkan pandangannya dari wajah manis itu.
“Kenapa dari tadi mandangin aku seperti itu, Mas?” tanya Melati.
“Suka aja!” jawab Kevin tersenyum.
Melati semakin tersipu dan cepat – cepat menyantap makanan yang sudah di pesannya. Namun lagi – lagi mata Kevin tak lekang dari wajah Melati membuat sang empunya wajah jadi salah tingkah.
Akhirnya dia berkata, “Mas! Udahan dong ngeliatinnya, malu tau.”
“Aku hanya ingin memandangi kamu terus, Mel. Karena jika nanti pada akhirnya jawaban yang aku terima membuat aku menjauh darimu, maka aku tidak terlalu kecewa. Karena aku sudah memandangi wajah bidadari hatiku dalam waktu yang lama,” sahut Kevin. Melati hanya terdiam takjub.
“Mas..Seandainya nanti aku tidak menerimamu. Apakah kamu akan tetap menerima aku sebagai temanmu?”
“Sampai kapan pun kamu akan selalu menjadi penguasa hatiku. Kamu adalah cintaku pada pandangan pertama.”
“Insya Allah, Mas. Jika Allah mentakdirkan kita untuk bersama, Allah akan beri jalan terbaik untuk kita.”
“Dan aku akan terus berdoa untuk bisa bersatu dengan kamu,” imbuh Kevin.
Melati hanya menyunggingkan senyum terindah miliknya. Dan kini tiba saatnya Kevin mengantarkan Melati pulang ke rumah kos – kosannya. Dalam perjalanannya menuju kos – kosan,
“Mel, kapan kamu ada waktu.. aku jemput ya? Biar kenal sama mommy.
“Jadian aja belum udah mau main kenal – kenalan aja,” batin Melati.
Akhirnya mereka sampai di kos – kosannya Melati, ia pun segera turun dari dalam mobil seraya berkata, “Mas.. terimakasih untuk malam yang terindah hari ini.”
Kevin mengangguk lalu berpamitan, “Mel! Aku pamit ya. Semoga mimpi indah sayang.” Melati membalasnya dengan anggukkan lalu masuk ke dalam rumah.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like, Komen, dan giftnya ya..
thanks for reading