Dia Suamiku, Kak!

Dia Suamiku, Kak!
BAB 4. TERPESONA


__ADS_3

“Baik Kak, tapi di kampus ini ada biolanya kan Kak?” ucap Melati.


“A..ada,” jawab Aris gugup.


“Kamu pandai main biola?” tanya Aris sambil menunggu biolanya datang.


“Nggak sih Kak, cuma bisa, sedikit,” jawab Melati sambil menyengir.


Tak butuh waktu lama akhirnya biolanya sudah ada ditangan Melati. Semua terdiam, semua tampak ikut larut dalam alunan nada yang terdengar dari biola tersebut. Semua mata memandang  takjub dan terpesona dengan kepiawaian Melati menggesekkan bow itu pada tali senar di papan biolanya. Kecuali Fiona yang teramat sentimen terhadap Melati.


“Sudah – sudah, sakit telinga gue dengerin musik jelek kayak gitu!” celetuk Fiona.


Tentu saja hal itu membuat Melati menghentikan aksinya, dan membuat semua orang yang ada menjadi kecewa.


“Huuuuuuu.....,” ramai sorak orang – orang meneriakin Fiona. Namun Fiona tetap saja cuek bebek.


“Waktu kamu sudah habis, dan kamu belum juga menyelesaikan tugas. Jadi, hukuman kamu harus ditambah, ngerti!” seru Fiona.


“Tugas selesai dan tidak akan ada lagi hukuman tambahan,” sahut Aris sambil menunjukkan kertas tugas Melati.


“Tapi Kak..,” lanjut Fiona.


Lalu Aris menunjukkan kertas yang sudah ditanda tanganinya. Melati pun tersenyum sumringah ke Fiona dan itu membuat Fiona semakin kesal lalu pergi meninggalkan aula.


“Huuuuuuuuu...,” sorak anak – anak kembali mengiringi kepergian Fiona and the gank.


“Mm.. boleh nggak satu lagu lagi. Yang lain setuju, kan?” tanya Aris kepada forum.


“Setuju....,” jawab mereka.


Akhirnya Melati memenuhi permintaan mereka, Melati memainkan sebuah lagu Hindi _ Mohabbatein. Suasana hening, semua tampak begitu menikmati nada – nada indah yang terdengar. Aris terpukau menatap takjub oleh pesona yang dipancarkan Melati.

__ADS_1


Dalam diam Aris hanyut dalam lamunannya, bahkan sampai lagunya selesai dia masih tersenyum memandang Melati.


“Apa mungkin Aris suka pada Melati?” batin Dona.


“Men, udah selesai lagunya,” kata salah seorang teman sembari menepuk pelan pundak Aris. Dan Aris pun terkejut, wajahnya bersemu kemerahan. Namun secepatnya dia dapat menguasai dirinya.


“Ops! Oke semua kembali ke barisan dengan kelompok masing – masing,” titah Aris kepada seluruh anggota ospek.


Aris menarik nafas panjang.


“Kok bisa sih gue kayak tadi! Lalu apa pemikiran mereka ke gue ya? Aris.. Aris..,” gumamnya dalam hati sembari menggeleng – gelengkan kepalanya.


Moderator mengambil alih acara dan menyampaikan beberapa daftar acara penutupan ospek tahun ini. Dan pada kesempatan kali ini Melati lah yang di tunjuk untuk menyampaikan pesan dan kesan selama mengikuti kegiatan ospek mewakili seluruh anggota peserta ospek.


“Baiklah kepada saudari Melati Kemalya dipersilahkan ke depan untuk menyampaikan pesan dan kesan mewakili seluruh peserta ospek,” kata moderator.


“Emang nggak ada orang lain selain dia! Memang bisa?!” kata Fiona.


“Fi, kita lihat saja dulu lagian semua setuju kok,” sahut Dona dan Fiona hanya melengos tak menjawab.


“Terima kasih sebelumnya atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mewakili teman – teman sekalian. Yang pertama saya akan menyampaikan kesan saya secara pribadi yang mungkin juga mewakili pemikiran teman – teman semua. Siapa sih yang tidak mengenal kampus kita? Salah satu universitas terbaik di Indonesia yang sudah banyak menciptakan orang – orang kreatif, imajinatif, dan inspiratif. Dengan infrastruktur bangunan yang megah dan didukung dengan fasilitas yang sangat memadai sehingga memiliki daya tarik bagi banyak orang, dan itu membuat saya bangga bisa menjadi salah satu bagian dari kampus ini yang banyak diminati orang, dan membuat saya terkesan sejak pertama kali menjejakkan kaki di sini,” tutur melati secara gamblang.


Semua orang terdiam, terkesima dengan penuturan Melati yang disampaikan dengan bahasa yang apik.


“Nah, saya juga punya pesan nih. Bukan cuma untuk para kakak senior saja yang kebetulan saat ini mendapat amanah menjadi panitia tetapi untuk kita semua, dan juga sebagai reminder buat saya secara pribadi,” ujar Melati.


“Nggak usah sok deh loe!” celetuk suara dari sudut belakang dan ternyata suara itu adalah milik Fiona.


Tentu saja seluruh pasang manik mata yang ada di ruangan itu menuju ke satu arah yang sama. Sementara Melati hanya meresponnya dengan senyum terindah yang dimilikinya. Dan anak – anak kembali ramai menyoraki Fiona.


“Boleh saya lanjutkan kembali Kak?” tanya Melati kepada moderator.

__ADS_1


“Ya silahkan,” jawab moderator.


“Terima kasih, pesan saya sederhana. Kita semua adalah manusia, manusia yang diciptakan oleh Tuhan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan kita semua sama di mata Tuhan. Jadi jangan pernah memandang rendah ataupun sepele terhadap orang lain, karena setiap individu memiliki kemampuan dengan kapasitasnya masing – masing sebagai anugerah terindah dari yang Maha Kuasa. So, jangan ketika kita sedang berada di titik atas lantas dengan mudahnya kita merendahkan seseorang. Karena bisa saja suatu saat nanti ketika kita yang berada di titik rendah tersebut, orang yang pernah kita anggap rendah, kita pandang hina bahkan tidak pernah kita anggap  ada keberadaannya justru orang itulah yang datang dengan senyum tulus, ikhlas mengulurkan tangannya untuk kita tanpa rasa dendam,” ucap Melati tersenyum dengan mata yang berkaca – kaca.


Semua masih terdiam, hening. Bahkan Fiona pun tidak dapat mencela kata – kata yang dituturkan Melati, tetapi masih tetap menunjukkan wajah ketidaksukaannya.


“Jadi kita semua yang sudah diberi kesempatan bisa belajar sampai di level ini untuk menggali begitu banyak ilmu, jangan pernah menyia – nyiakan waktu dan kesempatan yang ada hanya untuk hal – hal yang tidak bermanfaat. Mari kita bentuk pribadi dan mind set kita menjadi lebih baik sehingga memiliki personal branding dengan kualitas terbaik setelah kita selesai dari sini. Ukirlah senyum terindah untuk orang – orang terkasih dengan prestasi, terima kasih,” ucap Melati mengakhiri kata – katanya.


Ramai pujian dan tepuk tangan ditorehkan untuk Melati, membuat setiap orang terkesima. Kecuali Fiona and the gank yang langsung pergi meninggalkan ruangan.


“Kamu hebat Mel. Ternyata kamu tidak seperti apa yang selama ini kakak kira. I’m so proud of you,” ucap Dona bangga dalam hatinya.


“Mel...! Kamu luar biasa, hebat kamu Mel,” pekik Feby sambil memeluk teman barunya.


Kegiatan ospek tahun ini berakhir penuh makna berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya. Dan sejak saat itu kemanapun Melati melangkahkan kakinya dilingkungan kampus, selalu menjadi pusat perhatian banyak orang. Terutama Aris yang sudah terpesona sejak pertama bertemu. Dengan karakter Melati yang supel dan periang membuatnya mudah bergaul dan di kenal diberbagai tingkatan.


Justru hal inilah yang membuat Fiona dan gengnya membenci Melati. Sehingga tidak bosan – bosannya dia membuat kegaduhan dengan Melati, namun Melati lebih sering mengabaikannya dan menganggapnya seperti angin lalu. Bahkan tidak pernah menaruh dendam.


Bersambung...


################################


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya 😍


jgn sungkan untuk memberikan KriSannya juga, agar bisa menjadi motivasi penulis untuk belajar lebih baik lagi..


Like


Komen


Vote

__ADS_1


dan favorit yaa agar langsung dapat notifikasi jika sudah update 😍😍


terima kasih... 😘


__ADS_2