Dia Suamiku, Kak!

Dia Suamiku, Kak!
BAB 10. PAPA PULANG


__ADS_3

**HAPPY READING... **


Malam telah berganti, kini tabuh mulai berbunyi menggemparkan kesunyian malam yang perlahan beranjak pergi berganti mentari yang menemani bumi . Suara azan mulai dikumandangkan, mendayu, menggema memecah kesunyian alam, membangkitkan jiwa – jiwa yang terlelap dalam tidurnya.


Suara ayam mulai terdengar saling bersahutan dari segala pelosok penjuru, membuat Melati dan seisi rumah mulai bangun melaksanakan perintah Tuhannya.


Biasanya jika Papa Melati berada di rumah, mereka selalu berjamaah bersama. Berhubung sudah hampir satu minggu lebih Papanya belum pulang maka mereka sholat masing – masing di kamarnya. Setelah itu berkutat dengan aktivitas mereka masing – masing.


Pagi ini Melati menyempatkan diri untuk melakukan berolah raga sejenak, hanya sekedar berjalan di halaman rumah.


“Ya Allah, Melati! Kamu ngapain?” jerit Mama dari teras balkon kamarnya kemudian segera turun dengan terburu – buru menemui Melati.


“Luka – luka kamu saja belum kering begitu, kamu sudah..,” ucap Mama menggelengkan kepalanya sembari menghela nafas panjang.


“Ma, justru kalau Melati hanya berdiam diri saja di kamar, luka – luka ini tidak akan segera pulih. Lagian Melati cuma jalan santai kok. Biar saraf – saraf tubuh ini enggak tegang, Ma,” jelas Melati.


“Kamu itu yah suka ngeyel kalau dibilangin! Pokoknya hari ini kamu tidak boleh keluar rumah, titik!” tegas Mama.


“Terus kuliahnya gimana?” tanya Melati.


“Ya enggak kuliah,” jawab Mama.


“Ya enggak bisa gitu dong, Ma. Hari ini tuh Melati ada kuis dari Mr. Hans. Mata kuliah favorit Melati,” sanggah Melati.


“Pokoknya enggak! Nanti biar Mama yang telpon siapa tadi.. Mr. Hans?” tanya Mama lagi.


“Ish! Mama malu – maluin deh. Kayak anak TK aja,” gerutu Melati cemberut.


“Kalau Papa kamu tahu nih, pasti Papa juga akan melakukan hal yang sama seperti Mama,” tukas Mama.


“Ya kalau begitu jangan sampai Papa tahu dong,” sahut Melati sambil menyeringai menunjukkan susunan gigi putihnya yang rapi.


“Memang Papa kapan pulangnya, Ma?” tanya Melati.


“Pagi ini! Katanya sih Papa mau sarapan bareng kita, ” jawab Mama.


“What!!” teriak Melati terperangah mendengar jawaban Mamanya.


“Dan sekarang lagi on the way dari bandara. Tadi habis subuh Pak Man sudah berangkat untuk jemput Papa kamu,” imbuh Mama.

__ADS_1


“Ma.. please! Jangan kasih tahu Papa ya,” bujuk Melati sembari merapatkan kedua telapak tangannya.


“Lagian kasihan kan Papa baru pulang harusnya senang, bahagia bisa berkumpul kembali bersama keluarga. Bukan malah mendengar kabar duka, Mama enggak kasihan apa?” rayu melati.


“Benar juga sih yang dibilang Melati,” batin Mama.


“Gimana ya Mel..,” dalih Mama sambil melirik Melati dari sudut kanan matanya.


“Ya.. it’s your choice. Kalau Mama sayang sama Papa.. Mama tidak akan bilang tentang accident semalam. Tapi.. kalau Mama bilang ke Papa. Itu artinya Mama jahat,” tuduh Melati.


“Kok jadi Mama yang jahat?” kritik Mama.


“Ya iyalah, Mama tega menghancurkan kebahagiaan seseorang. Dan Mama bisa kena undang - undang pasal.. .”


“Aaah, sudah – sudah. Apaan sih pakek undang – undang segala. Ngaco kamu nih,”potong Mama.


Melati tertawa melihat ekspresi wajah Mamanya yang akhirnya ikut tertawa juga. Di ikuti oleh Mbok Mun yang memperhatikan keakraban anatara ibu dan anak itu dari jendela dapur.


“Gusti.. kekalkanlah kebahagiaan keluarga ini,” do’a Mbok Suti dalam hatinya dengan mata berkaca – kaca lalu melanjutkan kembali tugasnya.


“Jadi.. Melati boleh kuliah kan, Ma?” tanya Melati.


“Siap Komandan, laksanakan perintah!” sergah Melati.


“Udah, buruan mandi! Siap – siap, sebentar lagi Papa sampai,” ujar Mama sambil mengajak Melati masuk ke dalam rumah.


Keduanya bersama melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Mama ke dapur membantu Mbok Suti untuk menyiapkan sarapan sedangkan melati kembali ke kamarnya. Sementara Dona sudah rapi dan wangi.


“Duh cantiknya anak Mama, pagi - pagi sudah rapi..wangi lagi,” puji Mama kepada Dona.


“Mama bisa aja. Oh iya Ma, pagi ini Dona enggak bisa ikut sarapan bareng ya. Dona ada janji dengan Bu Dosen,” tutur Dona.


“Lho.. masak iya sih kamu enggak ikut nyambut kepulangan Papa, katanya Papa rindu sarapan bareng sama kita,” papar Mama.


“Papa pulang pagi ini, Ma?!” sahut Dona kegirangan.


“Iya, makanya itu.. apa enggak bisa di tunda ketemu Bu dosennya?” usul Mama.


“Dona yang enggak enak Ma, sudah terlanjur janji,” ucap Dona.

__ADS_1


“Ya sudah kalau begitu, nanti Mama sampaikan sama Papa,” sahut Mama sambil tersenyum.


Akhirnya Dona pamit ke kampus, karena taksi online yang di pesannya sudah menunggu di depan pintu gerbang rumah mereka. Dona segera masuk ke dalam mobil taksi itu dan segera melaju pergi meninggalkan rumah.


Melati dan Mama sudah bersiap diri duduk di meja makan menyambut kepulangan Papa. Hampir lima belas menit mereka menunggu tapi Papa belum juga tiba. Mama mengambil *handphone_*nya, beberapa kali mencoba menelepon tapi tidak terhubung.


Akhirnya Mama menelepon Pak Man, juga tidak ada jawaban. Mama mulai panik dan sangat cemas.


“Kenapa, Ma?” tanya Melati.


“Ini.. nomor Papa kamu di telepon enggak aktif, terus Pak Man juga dihubungi enggak ada jawaban,” terang Mama.


“Coba deh Mama ulang sekali lagi, siapa tahu jaringannya memang lagi nggak bagus,” usul Melati.


Mama mengikuti usul Melati. Mencoba berkali – kali tapi hasilnya tetap sama seperti yang tadi.


“Mel! Mama jadi khawatir terjadi sesuatu sama Papa kamu dan juga Pak Man,” tutur Mama.


“Ma.. jangan khawatir ya, kita do’akan saja Papa dan juga Pak Man baik – baik saja, dalam lindungan Allah dan kembali ke rumah dalam keadaan sehat walafiat,” sahut Melati.


“Aaamiiin Ya Rabb,” ucap Mama.


“Aaamiiin,” timbrung Mbok Suti yang ikut mengaminkan ucapan Melati.


“Ya sudah, kalau begitu Melati pamit dulu Ma. Takut terlambat sampai di kampus,” ucap Melati sambil mencium punggung tangan Mamanya juga Mbok Suti.


Meskipun Mbok Suti hanyalah seorang asisten rumah tangga, tapi Melati sangat menghormati dan menyayanginya. Mbok Suti sudah dianggap seperti keluarganya sendiri, dan sudah lama bekerja dengan orang tuanya sejak Melati Masih bayi.


“Mel, Hati – hati!” teriak Mama ketika Melati keluar dari pintu gerbang rumahnya.


Dan Melati pun melambaikan tangannya sambil berjalan pelan – pelan menunggu taksi yang lewat di depan gang rumahnya. Tiba – tiba sebuah mobil berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan Melati berdiri. Dan sepertinya Melati mengenali sang empunya mobil itu.


“Hai cantik.. mau ke kampus? Ayo bareng kita - kita aja.. aman kok sampai kampus,” ucap salah seorang pria dari balik pintu mobilnya.


Melati sama sekali tidak memperdulikannya, dia terus berjalan di pinggiran tepi jalan, lalu tampak sebuah sepeda motor berhenti dan memanggil nama Melati.


“Mel! Mau bareng?” tanya pria yang memakai jaket berwarna hitam yang sedang menunggangi kuda besinya dengan warna senada.


Melati yang merasa kenal dengan pria itu langsung ikut naik bersamanya tanpa harus berpikir panjang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2