
Sebagai seorang ibu, tentu saja Bu Hilda mengkhawatirkan anak gadisnya pulang sendirian ke Bandung. Meskipun ini bukan kali pertama untuk Melati.
Bu Hilda masih duduk di sofa yang terletak di sudut kamar sembari memandangi ponselnya. Mesti Pak Heru sudah beberapa kali mengingatkan istri tercintanya, namun Bu Hilda masih juga cemas. Hal ini dikarenakan Melati tidak berpamitan dengannya secara langsung.
Pak Heru sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur mencoba menenangkan istrinya yang masih duduk dengan wajah sedih. Hatinya masih belum tenang sebelum ia mendapat kabar dari anaknya.
“Sudah dong Ma, bentar lagi juga Melati bakalan ngabarin kalau dia sudah sampai.”
Bu Hilda masih terdiam sembari menyokong kepalanya dengan tangan kanannya.
“Sudah ayo tidur.” Ajak Pak Heru karena matanya sudah ingin sekali di pejamkan
“Apa Papa nggak khawatir sama Melati?! Melati itu anak kita lho Pa..,”sahut Bu Hilda dengan nada kesal.
Pak Heru hanya menyunggingkan kedua sudut bibirnya ke atas sembari memejamkan kedua bola matanya yang terasa lelah. Tanpa memberi jawaban sepatah kata pun. Dan itu membuat Bu Hilda semakin kesal bertubi – tubi.
Akhirnya Bu Hilda menggiring tubuhnya untuk ikut berbaring di sebelah suaminya. Bu Hilda menarik kain putih yang tidak terlalu tebal menyelimuti setengah dari tubuhnya. Tapi sebelumnya ia sempat memukulkan bantal guling ke tubuh pria yang sudah lebih dulu berbaring di sampingnya sebagai ungkapan kekesalannya. Dan suaminya hanya menyambutnya dengan senyuman saja.
Bu Hilda pun memunggungi suaminya sambil berkata, ”Pokoknya besok pagi kita harus balik ke Bandung. TITIK!”
“Kita udah booking hotelnya untuk lima hari lho, Ma.”
Bu Hilda balik tak merespon seperti yang di lakukan suaminya tadi. Dia hanya berbalik sesaat hanya untuk menunjukkan senyuman lebar yang terpaksa kemudian kembali memunggungi suaminya. Dan suaminya hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
💗
💗
Jam berputar pada porosnya, menggulir waktu berganti hari. Bu Hilda sudah bangun sejak waktu subuh kemudian berjalan ke luar kamar menuju kamar Dona. Karena pada saat di telepon ke handphone Dona tidak ada jawabannya.
Bu Hilda mencoba mengetuk pintu kamar Dona. Dona pun langsung membukakan pintunya setelah mendengar suara Mamanya memanggil.
“Kita balik ke Bandung pagi ini juga, jadi bersiaplah!” titah Mamanya.
“Tapi Ma!” omongan Dona terputus.
“Tidak ada tapi – tapian,” sela Bu Hilda memotong ucapan Dona sambil membalikkan tubuhnya untuk kembali ke kamarnya.
Dona hanya menghela napas pelan sembari memandangi punggung Mamanya yang berlalu pergi. Dona kembali menutup pintunya dan dengan terpaksa dia membereskan barang – barang bawaannya ke dalam koper.
Setelah semuanya beres dan mereka pun sudah selesai sarapan, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju bandara dan terbang ke Bandung.
__ADS_1
Pesawat mendarat di Bandar Udara Husein Sastranegara. Pak Man sudah standby menunggu kedatangan majikannya. Dan membawa mereka pulang.
“Assalamualaikum, Mbok!” panggil Bu Hilda.
Mbok Suti masih asyik di dapur menyiapkan masakannya. Bu Hilda menghampiri Si Mbok ke dapur.
“Mbok.. Mbok Suti!” panggil Bu Hilda sedikit mengeraskan suaranya karena Mbok Suti bekerja sambil mendengarkan lagu – lagu lawas sehingga ia tidak mendengar suara yang menyapanya.
Mbok Suti berbalik dan betapa terkejutnya ia saat melihat majikannya sudah berdiri di belakangnya.
“Ibu sudah sampai toh, kok ndak manggil saya. Kan bisa saya bantu bawakan barang – barang Ibu,” tuturnya sambil tersenyum. Bu Hilda hanya tersenyum simpul.
“Melati kemana Mbok?”
“Ke kampus, Bu. Tadi pagi – pagi sekali Non Melati sudah berangkat di anterin sama Pak Man. Sepertinya sejak tadi malam kelihatannya Non Melati sibuk sekali Bu,” terang Mbok Suti.
Bu Hilda hanya mengangguk lalu meninggalkan Mbok Suti, kemudian mengayunkan kakinya menapaki anak tangga menuju kamarnya. Melihat suaminya sudah rapi dengan setelan jas berwarna hitam yang membalut tubuhnya membuat Bu Hilda menajamkan sorot matanya.
“Papa mau kemana?”
“Ya ngantor lah Ma, ngapain juga Papa stay di rumah. Mending ke kantor nyiapin kerjaan.”
Pak Heru menyunggingkan bibirnya lalu berpamitan kepada istrinya. Bu Hilda pun mencium punggung tangan suaminya. Bu Hilda masih terpaku di depan kamarnya melihat suaminya menuruni anak tangga. “Ya sudah kalau nggak mau stay,” kata Bu Hilda dalam hatinya.
Sementara Dona melanjutkan kebebasannya mengekspresikan diri setelah empat tahun setengah bergelut dengan modul – modul yang tebalnya seperti sepatu boot para astronot yang hendak mendarat di bulan.
Dona menenggelamkan tubuhnya ke dalam bathup, sembari memutar kembali memori – memori indahnya yang hanya beberapa hari di Bali. Sesekali dia tampak menyunggingkan kedua sudut bibirnya ke atas. Lantas apakah dia sudah melupakan perasaannya terhadap Aris, jawabnya belum. Dia hanya berusaha keras memaksa dirinya untuk segera melupakannya meski terasa sulit.
Namun dia bersyukur bisa mengenal dr. Rafindra walaupun waktunya sangat singkat pertemuan antara keduanya. Setidaknya dapat membantu Dona melupakan pria yang pernah mendapatkan tempat hampir di seluruh ruang hati Dona. Dengan pandangan mata yang liar kesana kemari dia berpikir bahwa dia harus bisa menghapus jejak Aris tanpa sia. Sambil terus menggosok lembut tubuhnya dia terus berbicara dalam hatinya.
Tiba – tiba dia teringat akan kata – kata dr. Rafindra. Dona segera bangkit dan keluar dari tempatnya berendam.
Dona berjalan ke dapur membuat jus apel sendiri kemudian membawanya kembali ke kamarnya. Meletakkannya di atas meja luar yang ada di balkon teras kamarnya. Mengambil laptopnya, kemudian dia mulai berselancar santai di sana.
Dona mulai mencari informasi agar bisa menentukan pilihan yang tepat yang akan di ambilnya saat pemilihan jurusan nanti. Akhirnya jemari – jemari indah tangannya terhenti pada pencarian kata ‘Bedah’. Ya dia tertarik pada 'bedah digestif'.
Bedah Digestif adalah pembedahan yang di lakukan untuk menangani berbagai gangguan pada sistem pencernaan. Penanganannya dilakukan dengan melakukan operasi untuk memperbaiki atau bahkan menghilangkan bagian yang bermasalah.
Dokter bedah digestif adalah dokter spesialis bedah umum yang memiliki kapasitas untuk melakukan tindakan operasi pada saluran cerna dan organ-organ dalam sistem pencernaan. Saluran cerna meliputi kerongkongan, lambung, usus kecil, usus besar, dan rektum. Organ lain yang termasuk dalam sistem pencernaan adalah hati, pankreas, dan kantung empedu.
Setelah mempelajari dan memahami akhirnya Dona menjatuhkan pilihannya pada jurusan spesialis tersebut. Dan dia memantapkan hatinya.
__ADS_1
Biiiiiip.....biiiiiiip...
Handphone Dona berbunyi. Kemudian dia lihat layar handphone – nya ada pesan masuk dari dr. Rafindra. Senyum Dona pun merekah. Dengan mata berbinar dia perlahan membaca pesannya, lalu mengangguk – anggukkan kepalanya.
Kemudian Dona menutup kembali laptopnya beralih pada buku kecil berwarna soft pink. Dia mulai menorehkan goresan – goresan tinta hitam pada lembar – lembar buku hariannya. Menuliskan semua luapan perasaannya maupun keluh kesahnya.
Sementara Melati di sibukkan dengan urusan administrasinya di kampus, menyiapkan kelengkapan berkas – berkasnya untuk bimbingan khusus sebelum benar – benar di terbangkan ke Jerman.
“Mel, kamu akan dibimbing untuk dua bulan ke depan bersama tiga orang lainnya. Jadi saya harap kamu dan yang lainnya bisa benar – benar ready untuk kesana,” terang Pak KaJur yang menangani program tersebut.
“Baik, Siap Pak! Saya akan melakukan yang terbaik semampu saya,” jawab Melati dengan semangat yang tinggi.
Pak Dosen pun mengangguk penuh harap bahwa anak – anak didiknya akan membawa nama baik untuk kampus mereka dan menorehkan prestasi yang gemilang.
Semua selesai, Melati kembali ke rumah dengan taksi. Dengan raut wajah yang berbinar penuh kebahagiaan dia masuk ke dalam rumah. Ibarat orang yang sedang bucin – bucinnya dia akan selalu tersenyum dan merasa bahagia apapun pekerjaan yang sedang dilakukannya akan terasa indah dan menyenangkan.
“Darimana kamu?! Mama tidak pernah mengajarkan anak Mama untuk tidak hormat sama orang tua!” sentak Bu Hilda yang seketika menghentikan langkah Melati saat akan menaiki anak tangga.
Melati memundurkan langkahnya kemudian menolehkan kepalanya. Lalu mendekati Mamanya sambil tersenyum.
“Kamu nggak liat Mama lagi marah!” seru Bu Hilda.
“Tahu. Justru itu Melati mau ngasih penawarnya supaya Mama nggak marah lagi,” jawab Melati sambil mengeluarkan amplop putih dari dalam tasnya.
“Kamu mau nyogok Mama?”
Melati menghela napas panjang lalu berkata, “Udah.. Mama buka aja dulu.”
Bu Hilda masih menunjukkan wajah marahnya dan dengan sorot matanya yang tajam perlahan membuka lalu membaca isi amplopnya.
“Mama TIDAK izinkan. Faham!”
Respon yang benar – benar sangat di luar dugaan Melati dan membuat Melati tercengang dengan sikap Mamanya yang tidak seperti biasanya.
Bersambung...
Happy Reading 😍
Akhirnya kembali Up.
Jangan lupa untuk selalu mampir dan tinggalkan Like, Komen dan jika berkenan beri 🌹🌹dan Vote jg untuk menyemangati kuv😀😀😘
__ADS_1