
Pagi ini Feby melihat pemandangan yang tidak biasa. Dia melihat sahabatnya yang sudah lebih awal datang ke kampus.
Dia melihat Melati yang sedang duduk sambil melamun. Feby mendatangi Melati sambil menyenggol lengan kanannya sembari bertanya, “Hei! Kok bengong? Lagi ada masalah ya?”.
“Kamu..ngagetin orang aja,” sahut Melati.
“Ya habisnya pagi – pagi gini udah manyun kayak ikan cucut begitu.”
“Tapi tetep cantik, kan?!” Jawab Melati menyeringai sambil bangkit dari tempat duduknya.
“Mel! Tungguin dong,”
“Aku mau masuk,” sahut Melati sambil terus melangkahkan kaki jenjangnya dan membiarkan Feby mengekor di belakangnya.
“Mel! Kamu kenapa sih nggak kayak biasanya, kalau kamu punya masalah ngomong dong, cerita. Siapa tau aku bisa bantu kasih solusi atau pendapat, gitu. Ini mah malah aku yang di cuekin. Emang salah aku apa coba,” gerutu Feby sambil mengerucutkan kedua bibirnya.
Lalu Melati menoleh ke belakang, melihat wajah Feby yang sudah seperti segitiga tak beraturan.
Melati tersenyum sembari berkata, “Feby sayang, ini nggak ada hubungan sama kamu. Sama sekali nggak a da. Jadi jangan seperti ikan cucut begitu dong, jelek tau! Kalau aku mah cantik.”
“Emang! Selalu lebih cantik kamu ketimbang aku. Tapi selalu lebih manis aku, kan?” Sahut Feby dengan PeDe.
Akhirnya kedua sahabat itu pun tertawa bersama dan terhenti oleh suara Pak Dosen yang tiba – tiba sudah ada di antara mereka. Seisi kelas pun ikut tertawa melihat ekspresi yang mereka tunjukkan.
“Sepertinya lagi happy!?” ucap Pak Dosen sambil membulatkan sorot matanya tajam.
“I – iya Pak, sekali,” sahut Feby sambil mengernyitkan keningnya.
“Kalau begitu tugas dari saya pasti sudah selesai dong.”
“Tu..tugas Pak?”
“Iya tugas. Memangnya apa?? Pizza?!”
“Hehee..nggak juga sih Pak. Oya Pak! Hari ini kan hari jum’at, jadi kalau kita berbuat baik kepada orang lain, pahala kita akan dilipatgandakan oleh Tuhan. Benar kan Pak?” tutur Feby menguji kesabaran Pak Dosen.
Pak Dosen sudah semakin membulatkan kedua biji matanya, sementara anak – anak sudah menahan gelak tawa mereka masing – masing. Namun Feby mesam – mesem melihat Dosennya.
“Sudah! Sudah! Kamu saya beri tugas tambahan, dan besok pagi harus kamu berikan sama saya sebelum kelas di mulai! Dan kamu Melati, kumpulkan tugas kamu!”
“Huuuuuu,” sorak anak – anak untuk Feby.
Melati mengeluarkan tugasnya dari dalam tas dan memberikannya kepada Pak Dosen.
Pak Dosen pun manggut – manggut setelah melihat tugas Melati halaman demi halaman.
__ADS_1
“Oke good!” kata Pak Dosen.
“Dan kamu, jangan lupa besok tugasnya dikumpul PAGI! Faham?!” seru Pak Dosen.
“Baik, Pak!” sahut Feby lesu. Melati hanya tersenyum tetapi juga terbesit rasa kasihan.
Pembelajaran hari ini di lalui Melati dengan baik meskipun ada perasaan sedih yang sedang menyelimuti hatinya.
Seperti biasanya jika kelas telah usai, Melati tidak pernah langsung pulang ke rumah. Dia selalu menyempatkan diri untuk ke perpustakaan sejenak atau ke sebuah cafe yang tenang hanya sekedar menghabiskan satu gelas jus sambil searching sesuatu dengan laptop – nya.
Kebetulan hari ini Melati memilih cafe x yang selalu jadi tempat favoritnya yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya.
Entah kenapa Aris juga berada di tempat yang sama. Namun Melati tidak mengetahui keberadaan Aris. Hanya Aris yang melihat Melati di situ.
Tampak Melati sedang menikmati jus yang telah di suguhkan namun sorot matanya tetap fokus pada laptopnya.
Tiba – tiba saja Aris duduk di sebelah Melati tanpa meminta izin terlebih dahulu.
“Hai! Mel. Sendirian aja.. kok nggak bareng Feby?” sapa Aris mengejutkan Melati yang spontan menutup laptopnya.
“Kak Aris ngapain di sini?” tanya Melati.
“Ya aku udah dari tadi di sini, lalu aku lihat kamu masuk. Jadi aku pikir nggak ada salahnya juga kan aku sapa kamu, kamu nggak keberatan, kan? ” tanya Aris.
“Mm, sepertinya aku harus pulang Kak. Maaf,” ucap Melati sembari membereskan barang – barang bawaannya.
“Maaf Kak, sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan. Nggak ada yang penting juga,”
“Tapi buat aku sangat penting, Mel!”
Melati terdiam sejenak sambil memandang wajah Aris yang duduk di sebelahnya.
“Mel.. Aku mohon dengarkan penjelasan aku dulu, please!”
Hati Melati pun luluh. Dia kembali duduk dengan pandangan lurus ke depan.
“Lima menit cukup! Jika lebih aku nggak mau dengar apapun lagi dari mulut Kak Aris!”
“Oke.. oke! Jadi gini,” Aris menarik nafas perlahan _ “apa yang aku katakan semalam adalah tulus dari palung hatiku terdalam, dan aku mau..,”
“Maaf Kak, aku tidak bisa membalas seperti apa yang Kak Aris mau,” sela Melati memotong ucapan Aris.
“Tapi Mel, aku bener – bener sayang sama kamu,”
“Tapi aku nggak bisa Kak, aku nggak punya perasaan apapun ke Kakak! Ada hati yang dengan tulus mencintai dan menyayangi Kakak, sejak lama! Sejak pertama kali dia melihat Kakak dan yang harus Kakak tahu It’s not me!” jelas Melati menegaskan.
__ADS_1
“Tapi Mel...,”
“Sekali lagi maaf Kak, kalau Kakak seperti ini terus lebih baik kita nggak pernah kenal,”
“Oke.. oke..! Aku minta maaf, aku nggak akan memaksa kamu. Tapi kamu juga harus tahu kalau kamu nggak bisa memaksa aku untuk tidak suka sama kamu, karena sampai kapan pun rasa ini akan selalu ada untuk kamu, selamanya,” titah Aris.
Melati hanya diam tak bergeming, dia terus saja mengayunkan langkahnya pasti tanpa menoleh ke belakang.
Dengan hati gundah Melati melangkah pulang.
“Assalamu’alaikum,” sapa Melati pada Mbok Suti yang membukakan pintu.
“Wa’alaikumsalam, Non.”
“Papa Mama belum pulang, Mbok?” Tanya Melati.
“Kalau Bapak pulangnya agak malam kata Ibu, karena ada tamu Bapak. Sedangkan Ibu tadi keluar sama Non Dona. Katanya mau cari baju buat wisuda Non Dona minggu depan. Bukannya Non juga di ajak Ibu?” tanya Mbok Suti.
“Apa iya ya Mbok?” Sahut Melati sembari mencari handphone – nya.
Setelah Melati menemukan apa yang dia cari, dia langsung melihat ada beberapa panggilan tak terjawab.
“Hmm.. bener Mbok, ternyata Mama beberapa kali nelepon. Tapi Melati aja yang nggak dengar,” terang Melati.
“So, Non ndak mau nyusul gitu!”
“Nggak lah Mbok, Melati capek mau istirahat. Melati naik dulu ya,” sahut Melati tak bersemangat.
“Tumben..,” gumam Mbok Suti lirih.
Melati terus saja menapaki setiap anak tangga sampai ke atas hingga dia masuk ke dalam kamarnya.
Setelah meletakkan tas dan laptopnya di atas tempat tidur, dia bergegas ke kamar mandi sembari menyambar handuk yang kebetulan tergantung di atas kursi tempat duduk meja belajarnya. Karena ia terburu – buru tadi pagi.
Melati memendamkan tubuhnya pada bathtub yang sudah terisi air hangat di dalam kamar mandinya. Perlahan dia memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikiran untuk mengembalikan mood - nya.
Karena dia meyakini dengan berendam di air hangat dapat melancarkan kembali sirkulasi udara dalam tubuhnya, merelaksasi otot – otot yang tegang karena seharian lelah bekerja dan yang paling di sukai Melati dari manfaat berendam di air hangat adalah meningkatkan kualitas tidurnya.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Bersambung....
Happy READING..
Jangan lupa tuk tinggalkan JEJAK
__ADS_1
Thank You.. 😘😘