Dia Suamiku, Kak!

Dia Suamiku, Kak!
BAB 12. HAPPY SHOPPING


__ADS_3

Seperti yang sudah dijanjikan oleh Papanya Melati. Mereka pergi ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota mereka tinggal. Seluruh penghuni rumah turut serta tak terkecuali Pak Man dan Mbok Suti.


Tampak senyum sumringah di wajah keduanya. Bagaimana tidak, sangat jarang sekali ditemui majikan yang mau memboyong para asisten rumah tangga mereka untuk ikut shopping bersama – sama dengan mereka.


Mereka bebas memilih apa yang ingin mereka beli. Ini adalah rezeki yang sangat luar biasa bagi Pak Man dan Mbok Suti. Mereka mendapatkan majikan yang sangat baik hati, memperlakukan mereka seperti keluarganya sendiri.


Untuk alasan itulah mereka bisa bertahan sampai belasan tahun mengabdikan diri pada keluarga Kemalya, yang ramah dan selalu rendah hati.


“Mbok, silahkan pilih mana yang mbok suka. Jangan sungkan, anggap saja sebagai bonus buat Mbok sudah bersedia menghabiskan waktunya bersama Kemal’s Family,” tutur Papanya Melati.


“Ayo Pak Man juga! Jangan sungkan ya Pak!” imbuhnya lagi.


“Pak! Terima kasih banyak lho, Bapak baik banget sama kita. Sejak dulu sampai sekarang nggak berubah. Matur suwun nggeh Pak, ( terima kasih banyak ya Pak),” kata Mbok Suti.


“Iya, Pak. Terima kasih, semoga Bapak sekeluarga selalu dalam lindungan Allah, sehat selalu dan dilapangkan rezekinya, Aamiin,” timpal Pak Man.


“Aamiin, harusnya saya yang berterima kasih pada kalian berdua. Kalian sangat berjasa untuk keluarga saya,” sahut Papanya Melati.


“Duh duh duh.. ini mau shopping atau mau memberi kata - kata sambutan sih,” protes Melati sambil perlahan menggeret tangan Mbok Suti.


“I..i..iya Non, sabar dong. Pelan – pelan, nanti Mbok Suti terjatuh gimana? Bisa repot,” sahut Mbok Suti yang terus mengikuti langkah kaki Melati.


Sementara Mama dan Kak Dona sudah asik memilah – milah barang yang mereka suka.


“Mel! Sini!” jerit Dona memanggil adiknya yang berjalan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seperti anak ayam yang sedang kehilangan induknya.


Melati dan Mbok Suti segera bergabung bersama Dona dan Mamanya. Mereka berhenti di salah satu toko yang menyediakan semua jenis pakaian wanita dan pria dewasa. Tampak Mama yang sedang mencoba salah satu baju model tunik yang lagi trend saat ini. Baju tunik berwarna soft pink dengan taburan manik – manik swarovski di sekitar pinggang yang membuat tampilannya jadi lebih anggun dan elegan.


“Hello girls! What do you think of me?” tanya Mama sambil memutarkan badannya bak seorang model yang sedang berjalan di atas catwalk memperagakan baju rancangan para designer ternama.


“Wow! You look so beautiful, Mom!” kata Dona.


“Mama tuh cantiknya awet ya, nggak pernah luntur deh,” imbuh Melati.


“Iya Bu bagus. Ibu kelihatan tambah cantik,” timpal Mbok Suti.

__ADS_1


“Oke.. kalau begitu yang ini bungkus ya Mbak,” ucap Mama kepada pelayan toko baju itu.


“Mbok juga harus pilih mana yang Mbok suka, jangan sungkan. Anggap saja ini hadiah dari saya dalam rangka memperingati anniversary kami,” imbuh Mama Melati lagi sembari tersenyum pada Mbok Suti.


“Tapi Bu.. bajunya mahal – mahal semua, ndak pantes di badan saya,” tolak Mbok Suti yang merasa sungkan setelah melihat harga bajunya terlalu mahal untuk sekelas Mbok Suti.


Dona tersenyum melihat kepolosan Mbok Suti, “Mbok, rezeki itu nggak boleh di tolak. Kita nggak pernah tahu kapan rezeki itu akan datang dan dari arah mana datangnya. Jadi Mbok harus pilih, ya.”


“Bener tuh Mbok! Saya aja ya Mbok jika punya kesempatan seperti Mbok saat ini, saya pasti akan memilih lebih dari satu, bahkan tiga atau empat sekaligus! Karena jarang – jarang dapat rezeki nomplok kayak gini,” ucap Melati memprovokasi wanita yang tidak lagi muda yang bersama mereka saat ini.


“Huuhh! Kamu itu ya pantang lihat ada kesempatan lewat di depan mata,” balas Mamanya.


Gelak tawa pun terpancar dari mereka yang sedang berbahagia saat ini. Mereka menjajaki beberapa toko – toko yang menyediakan barang – barang yang memang mereka butuhkan. Sama halnya dengan Papa dan Pak Man.


Masing – masing dari mereka sudah menenteng tas jinjing yang berisi beberapa barang pilihan mereka.


“Oh iya Mel! Bukannya minggu depan kamu mau tampil dalam pagelaran seni itu?” tanya Dona.


“Tampil?” tanya Papa yang baru mendengar info terkini tentang Melati.


“Iya Pa. Jadi minggu depan tuh kampus mengadakan pagelaran seni dan Melati di undang untuk mengisi salah satu acara di sana,” terang Dona.


“Jadi dress untuk tampil nanti sudah ada?” tanya Mama.


Melati hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


“Ya sudah kalau begitu kita cari sekarang ya,” ucap Mama lagi.


“Toh masih minggu depan Ma, masih lama. Nanti aja ya,” kata Melati.


“Sekarang juga nggak apa-apa, kan Mel?” tanya Papa.


“Ya memang nggak, sih Pa. Cuma Melati mau lihat konsep panggungnya dulu seperti apa baru setelah itu melati cari dress_nya biar menyesuaikan aja,” jawab Melati.


“Oh begitu, ya sudah kalau menurut kamu seperti itu. Lalu sekarang kita mau kemana?” tanya Mama.

__ADS_1


“Ma, Pa. Gimana kalau kita makan? Ya nggak perlu lah di restoran mahal kayak kemarin. Di warung sederhana pinggir jalan juga nggak kalah enak lho Pa,” tutur Melati.


“Iya bener, Pa. Ada warung nasi soto pinggir jalan yang rasanya tuh enak banget, tempat favorit kita, ya nggak Mel,” tutur Dona dan Melati mengangguk setuju dengan pendapat kakaknya.


“Ya sudah kalau begitu ayo kita berangkat, tunggu apalagi. Perut Papa juga udah nyanyi,” tukas Papa.


Setelah selesai berbelanja barang – barang yang mereka suka dan mereka butuhkan, akhirnya mereka meninggalkan pusat perbelanjaan itu menuju warung nasi soto langganan Melati dan Dona.


Kedua mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju warung yang dimaksud. Mobil Pak Man memimpin di depan di ikuti oleh mobil yang di tumpangi oleh Papa dan Mamanya Melati. Beberapa menit kemudian mobil mereka sampai di parkiran.


Mereka pun masuk ke dalam warung dan mengambil posisi meja yang besar di sudut belakang. Melati segera memesan nasi soto komplit untuk enam porsi.


Ketika Melati hendak membalikkan tubuhnya menuju ke kursi duduknya, dia bertabrakan dengan seorang pria yang sudah tidak asing lagi baginya. Orang yang pernah beberapa kali menolongnya di kampus.


“Ough! Maaf mas saya tidak sengaja,” ucap Melati.


Lalu pria itu menoleh dan melihat wajah Melati.


“Melati!” serunya.


“Kak Aris!” sahut Melati.


“Wah nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini, kamu sendiri?” tanya Aris.


Melati tersenyum lalu berkata, “Aku sama keluarga, Kak.”


Dengan polos Melati menunjukkan posisi duduk keluarganya. Dia lupa bahwa di kampus tidak ada yang mengetahui rahasia mereka, kalau dia dan Dona adalah kakak beradik.  Aris pun menoleh mengikuti arah tangan Melati.


“Astaga lupa gue!” ucap Melati dalam hati.


“Bukannya itu Dona?” tanya Aris.


Melati menganggukkan kepalanya sembari menyeringai.


Bersambung.....

__ADS_1


Selalu tinggalkan jejak ya reader semua,


LIKE dan KOMEN kalian menjadi penyemangat ku 😍😍 jgn lupa tekan ❤️ dan jg Vote 😊


__ADS_2