
Awan terang berubah menjadi gelap. Berganti dengan gemerlapan cahaya bintang yang bertabur menghiasi langit hitam yang menyelimuti sebagian permukaan bumi.
Ada jiwa yang sedang gundah gulana, memandangi indahnya ciptaan Sang Maha Kaya pemilik langit dan bumi beserta isinya.
Gadis cantik itu duduk di ayunannya sambil memandangi bintang – bintang yang bertabur memancarkan keindahan bagi setiap pasang mata yang melihatnya. Melati hanyut dalam lamunannya sembari mengayunkan ayunan yang sedang didudukinya.
Dia juga tidak tahu pasti dengan perasaannya saat ini setelah dia melihat hasil test _nya tadi siang. Apakah dia harus bersedih atau senang. Di satu sisi dia pasti akan sangat merindukan kota kelahirannya tempat ia tumbuh dan berkembang, di sisi lain dia harus mengejar mimpinya yang saat ini sudah jelas di depan mata.
Dia terus memikirkan keputusan apa yang harus dipilihnya. Memang takdir adalah hak prerogatif Allah kepada setiap makhluk ciptaannya yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun. Dan hidup, hidup adalah sebuah pilihan setiap hamba untuk dia berbahagia ataupun bersedih.
Dan Melati memilih untuk berbahagia dalam hidupnya dengan mengambil keputusan untuk terus melanjutkan perjalanan pendidikannya di Jerman. Setelah dia memantapkan hati dan membulatkan tekadnya. Lalu dia beranjak dari ayunannya.
Dengan membawa amplop putih yang berisi hasil test akhir dirinya siang ini, Melati berjalan menemui kedua orang tuanya dan Kakaknya yang sedang bersantai di ruang TV.
Dengan wajah sedih dia menyodorkan amplop putih itu kepada Papanya tanpa bersuara. Papanya pun menerimanya sambil melihat istrinya yang sedang duduk tepat di sebelahnya. Bu Hilda pun mengangguk, lalu perlahan Pak Heru membuka dan membaca isi dari kertas pengumuman itu.
“Kepada saudari Melati Kemalya dinyatakan LULUS!” baca Pak Heru perlahan lalu kembali memandang wajah istrinya.
Tiba – tiba..,” Yeeaaaaaah!! Congratulation sayang! I’m so proud of you dear,” teriak Pak Heru sambil memeluk anaknya.
Tak kalah dengan Bu Hilda, ia pun membentangkan kedua tangannya selebar yang dia bisa menyambut hangat pelukan dari sang anak. Keduanya pun meneteskan air mata, air mata bahagia juga air mata kesedihan.
“Mama bangga sama kamu sayang. Doa Mama dan Papa akan senantiasa menyertai kamu,” ucap Bu Hilda sambil mencium kedua pipi anaknya.
“Makasih banyak Ma,” sahut Melati dengan senyum terindahnya.
Melati beralih pada seorang wanita muda yang berdiri di sebelah Mamanya. Seorang perempuan yang senantiasa mengalah dan memberikan kasih sayangnya sebagai seorang teman, sebagai sahabat dan juga sebagai seorang kakak.
“Mel! You’re so great! Kamu sungguh hebat!” puji Dona sambil memberikan pelukan hangat pada adiknya.
Melati menyeka air matanya berkali – kali, betapa beruntungnya dia dikelilingi oleh orang – orang yang sangat mencintai dan sangat menyayanginya tulus bukan hanya di saat dia sedang bahagia, bahkan di saat dia sedang sangat berduka keluarga selalu ada mendampinginya.
__ADS_1
Karena apapun yang terjadi dengan dirinya apakah itu baik atau buruk maka selalu saja keluarga menjadi tempat terakhir untuk kembali. Karena hanya keluargalah yang mampu menerima dengan tulus dalam kondisi apapun.
“Oh ya Mel, jadi kapan kamu berangkat?” tanya Pak Heru.
“Insya Allah satu minggu ke depan Pa. Karena Melati harus menyiapkan semua dokumen kelengkapan yang harus di bawa ke sana,” jawab Melati.
“Mama sedih deh..,” sahut Bu Hilda sambil menggenggam tangan Melati.
“Nanti kalau Mama rindu, Mama bisa kok jenguk Melati di sana. Liburan bareng sama Kak Dona atau Papa juga. Karena Melati juga pasti bakalan sangat merindukan kalian semua,” tutur Melati manja.
Jarum terus berputar pada porosnya melewati detik, menit dan jam hingga hari berganti. Melati harus di sibukkan dengan proses keberangkatannya menuju Jerman. Mulai dari mempersiapkan semua dokumen, paspor dan lainnya. Dan yang paling utama dipersiapkannya adalah mental. Persiapan mental untuk memasuki dunia baru yang benar – benar sangat asing baginya.
Seharian penuh Melati mempersiapkan berkas – berkas kelengkapan yang akan di bawanya. Setelah kembali ke rumah dia beristirahat sejenak.
Mungkin karena lelah dia tertidur sampai hampir magrib. Mbok Suti membangunkannya.
“Non..Non Melati!” panggil Mbok Suti sambil mengetuk pintu kamar Melati. Namun tidak ada jawaban. Akhirnya Mbok Suti memberanikan diri masuk ke dalam kamar dan membangunkan Melati secara pelan – pelan.
Melati menggeliat, menarik kedua tangannya ke atas. Meregangkan otot – ototnya yang lelah. Lalu perlahan membuka kedua kelopak matanya. Lalu ia tersenyum pada Mbok Suti.
“Ya sudah nanti Mbok Suti telepon buat bangunin Non Melati ya,” sahut Mbok Suti kelakar.
Melati pun tertawa sambil menganggukkan kepala. Lalu dia bangun dari tempat tidurnya, mengambil handuk yang tergantung di balik pintu kamarnya kemudian melangkah ke kamar mandi. Sementara Mbok Suti kembali dengan pekerjaannya di dapur.
Selang beberapa menit kemudian kumandang suara adzan terdengar mengalun indah menunjukkan bahwa waktu sholat magrib telah tiba. Melati yang baru selesai mandi langsung mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya.
Setelah selesai sholat Melati kembali melihat dokumen – dokumen yang telah ia persiapkan. Ia kembali membaca kertas yang menunjukkan hasil test_nya. Ia merasa sangat bersyukur sekali bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa melakukan yang terbaik, untuk negaranya, kampusnya, keluarga besarnya dan terkhusus untuk dirinya secara personal.
“Ya Allah lindungi aku dan berkahi setiap langkahku, usahaku dan bimbinglah aku dalam setiap perjalananku dalam meraih kebaikan dunia dan akhiratMu, Aamiin ya Allah,” doa Melati dalam batinnya sambil terus memandangi kertas putih ditangannya.
Tiba – tiba Dona muncul dari balik pintu, dia terlihat sudah rapi dan wangi dengan rambut hitam ikalnya yang tergerai. Melati langsung menajamkan pandangannya. Melati bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan memutari kakaknya.
__ADS_1
“Tumben..,” ucap Melati.
“Kamu kok belum siap?! Ayo buruan!” seru Dona.
“Memangnya kita..,” ucapan Melati terhenti karena Dona langsung mendorong tubuh Melati untuk segera mengganti bajunya.
“Sekarang buruan ganti baju. Kita mau keluar,” terang Dona sambil melangkahkan kaki keluar kamar.
Melati hanya menghela napas panjang. Karena dia tidak tahu sebenarnya mau kemana dan acara apa. Tapi tetap saja dia mengikuti omongan kakaknya . Setelah selesai dia cepat – cepat turun dan bergabung bersama keluarganya.
“Sebenarnya mau kemana sih Ma?” tanya Melati.
“Lho! Memangnya Mbok Suti nggak ada bilang waktu bangunin kamu tadi?” sahut Bu Hilda sambil melihat ke arah Mbok Suti. Dan Melati pun dengan polos menggelengkan kepalanya.
“Maaf Bu, soalnya tadi Non Melati nyenyak sekali tidurnya. Jadi Si Mbok nggak tega mau banguninnya, terus lupa,” jawab Mbok Suti dengan rasa bersalah.
“Ya sudah nggak papa, Mbok. Ayo kita berangkat sekarang,” kata Pak Heru menengahi.
Akhirnya mereka pun berangkat untuk makan bersama di sebuah restoran sebagai ungkapan perpisahan untuk melepas Melati pergi ke Jerman keesokan paginya.
Bandar Udara International Husein Sastranegara
Papa, Mama dan juga Kakaknya ikut mengantarkan Melati ke bandara untuk melepaskan keberangkatannya. Wajah sedih terpancar di setiap wajah mereka terutama Bu Hilda yang merasa sangat bersedih, sebagai ibu yang tidak pernah berpisah dengan anaknya. Kini ia harus ikhlas untuk tidak bertemu anaknya untuk satu atau dua tahun ke depan.
Pelukan hangat Melati mengakhiri perjumpaan mereka hari ini untuk bertemu kemudian.
“Bye Pa, Ma. Kak Dona. I’ll missed you forever. Muuach.. muach..,” peluk cium Melati kepada mereka.
Melati mengayunkan langkahnya sembari melambaikan tangannya.
“Mel! Jangan lupa calling Mama!” seru Bu Hilda sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
BERSAMUNG....
Jangan pernah berhenti untuk terus mendukung akoh.. tinggalkan 'jejak' Selalu ya 😍😍😍