
“Ting tong.. ting tong...” Kevin menekan tombol bel di dinding pagar depan rumah orang tuanya.
Tak berapa lama kemudian pintu gerbang terbuka otomatis. Kevin pun melangkah dengan perasaan bahagia. Rindu yang akan segera terobati karena bertemu dengan orang – orang terkasih terutama Mommy_nya, Ibu dan juga sahabat terbaiknya.
Kevin mendapat sambutan hangat dari Mommy yang lama sekali tidak pernah bertatap muka dengannya, biasanya hanya melalui video cal**l.
“Assalammualaikum, Mom.”
“Waalaikumsalam.. akhirnya jagoan Mommy pulang juga. Welcome back sayang,” ucap Mommy sambil memeluk hangat tubuh anak semata wayangnya.
“Mommy apa kabar, sehat?”
“Seperti yang kamu lihat, Mommy sehat. Kamu sendiri gimana?”
“Sehat. Bahkan teramat sehat,” sahut Kevin dengan senyum sumeringah.
“Hmm... sepertinya ada yang...,” goda Mommy_nya Kevin sembari tersenyum penuh makna.
“Yang apa?” ucap Kevin tersipu.
“Ya sudah bersih – bersih dulu gih. Nanti kita ngobrol lagi, Mommy mau nyiapin makanan buat kamu.”
Kevin mengangguk. Kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Kemudian dia mundur beberapa langkah bertanya pada Mommy_nya, “Mom, Daddy kemana?”
“Masih ada meeting katanya, mungkin sebentar lagi juga pulang.”
Kevin hanya mengangguk – anggukkan kepalanya kemudian melanjutkan kembali langkahnya.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, dia masih berdiri sembari memutar kepalanya tiga ratus enam puluh derajat, memandangi setiap sisi dinding kamarnya. Lalu berjalan perlahan memeriksa setiap benda yang ada di kamar itu. Masih dengan posisi yang sama sejak dua tahun lalu saat dia meninggalkan Jerman karena waktu liburannya telah berakhir.
Dia menyunggingkan sudut bibirnya melihat setiap benda tertata rapi dan masih berada di posisinya semula, dan terawat dengan baik. Meski sudah dua tahun berlalu, kamarnya tetap rapi dan bersih. Dia meletakkan ranselnya di atas tempat tidurnya.
Kemudian dia menjatuhkan tubuh sintalnya ke atas kasur empuk miliknya, tangan kirinya meraih bantal guling di sebelahnya, lalu memeluknya erat. Sebagai luapan kerinduannya.
Kevin kemudian terperanjat dari pembaringannya. Dia teringat akan sosok gadis yang tadi dihantarnya. Kemudian dia mengambil kameranya, men_scroll kembali potret - potret yang telah di ambilnya.
“Gadis ini sepertinya gadis yang sama dengan yang pernah aku potret saat di pantai waktu itu,” gumam Kevin sambil memandangi kameranya.
Dia menelisik masing – masing foto candid yang pernah di shoot-nya beberapa waktu lalu dengan foto candid yang baru di ambilnya saat di bandara.
“Ya Tuhan.. ternyata dia adalah gadis yang sama,” ucapnya lirih sambil melebarkan kedua sisi bibirnya sambil terus memandangi gadis dalam foto itu.
Kevin tertawa renyah sambil memegang dada sebelah kirinya. Dia meletakkan kameranya kembali, kemudian bergegas ke kamar mandi membersihkan diri. Menghilangkan peluh tubuhnya selama perjalanan.
__ADS_1
Selesai mandi ia kembali pada kameranya bahkan handuk yang digunakannya pun masih melekat di tubuhnya. Lagi dan lagi ia memandangi wajah gadis dalam kamera itu. Sampai Mommy_ nya mengetuk pintu kamar dan memanggilnya dari balik pintu, baru ia bergerak sambil menjawab, “iya Mom, lagi ganti baju.” Kevin berlari untuk memakai bajunya.
“Ya sudah Mommy tunggu di meja makan ya.” Mommy pun meninggalkan kamar Kevin dan kembali ke meja makan.
Beberapa menit kemudian Kevin pun selesai.
Cekleeekkk..!
Kevin membuka pintu kamarnya lalu berjalan menuju ke meja makan. Di sana sudah ada Mommy dan Daddy yang sudah menunggunya.
“Hello, Dad. Sehat kan?” sapa Kevin sambil memeluk Daddy_nya erat.
“As you see now son,” sahut Daddy_nya sambil menyambut hangat pelukan putranya.
“Sudah makan yuk, kangen – kangenannya nanti lagi,” sela Mommy Kevin.
Mereka pun segera menyantap hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Paket komplit, mulai dari menu pembuka – inti – penutup.
“Ternyata masakan Mommy nggak berubah ya, masih sama seperti dulu, ENAK!” puji Kevin sambil menikmati tumis jamur saus tiram.
“Oh ya?! Kalau begitu kamu harus habiskan semuanya dong,” canda Mommy Kevin sembari mengerjapkan matanya.
“Semua??”
“Ya nggak sanggup dong Mom,” jawab Kevin tersenyum.
Selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga. Bercerita dan berkelakar melepas rindu satu sama lainnya. Bercerita banyak hal. Namun tak lama kemudian Kevin pamit untuk kembali ke kamarnya. Dengan alasan ingin segera beristirahat.
“Mom, Dad, Kevin ke kamar duluan ya?! I feel tired.”
“Okay! Have nice dreams dear,” sahut Mommy.
Kevin hanya membalasnya dengan senyuman manisnya sambil mengerlingkan matanya. Dan buru – buru langsung ngacir kembali ke kamarnya.
“Sayang, sepertinya anak kita sedang falin’ in love deh.”
“Kok Mommy bisa bilang begitu?”
“Soalnya sejak dia sampai ke rumah hingga sekarang, seperti sedang berbunga – bunga gitu. Bawaannya happy aja.”
“Ya jelas happy lah, kan ketemu orang tuanya. Setiap anak pasti akan bersikap seperti itu, kan?”
“Issh, Daddy payah! Masak sih nggak bisa bedain. Kayak nggak pernah ngalamin aja, heran deh,” kesal Mommy Kevin.
__ADS_1
Tuan Hariz Atmadja hanya tersenyum simpul melihat istrinya cemberut.
Sementara itu, Kevin yang pamitnya mau istirahat ternyata kembali dengan kameranya. Kemudian memindahkan foto itu ke dalam memori smartphone_nya.
Setelah dia memilih beberapa foto untuk di save ke galeri smartphone miliknya, dia tak bosan – bosannya memandangi wajah itu kembali. Foto pertama kali saat dia melihat Melati di sebuah pantai di Bali pada saat senja.
“Melati lagi ngapain ya,” pikir Kevin.
Lalu dia memilih fitur WhatsApp. Mengetik beberapa kata untuk menanyakan keadaannya.
💌 ‘Hai Mel, lagi ngapain?’
“Kirim – enggak, kirim – enggak. Kirim aja lah, dibalas alhamdulillah dan kalau nggak dibalas.. samperin ke kampusnya, wkwkk..” Kevin tertawa geli.
Akhirnya dia menekan tombol ‘send’. Lama Kevin menunggu balasan dari Melati namun tak kunjung ada jawaban. Akhirnya dia memilih untuk mengistirahatkan mata dan tubuhnya. Menenggelamkannya dalam mimpi indahnya.
Sementara Melati masih berkutat dengan beberapa buku guidence tentang peraturan – peraturan kampus barunya sehingga dia dia tidak menghiraukan bunyi dering dari handphone_nya. Dia juga belum sempat untuk mengobrol dengan Mamanya. Hanya mengirimkan pesan singkat melalui WA yang menyatakan bahwa dirinya telah sampai ke tempat tujuan dengan selamat.
Dan Mamanya juga memaklumi hal itu.
“Huaaammm,” Melati beberapa kali menguap sambil menggeliat. Di liriknya jarum jam yang masih melingkari tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 waktu Jerman sementara di Indonesia sudah menunjukkan sekitar pukul 00.45 dini hari.
Dia merapikan buku – bukunya, lalu menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sekilas terlihat bantal yang terbungkus kain berwarna abu – abu di atas kasur empuk sedang memanggil dirinya.
Dia pun tak kuasa untuk mengabaikannya. Melati mendekat kemudian menjatuhkan kepalanya pada benda empuk yang membuat nyaman tersebut, lalu menarik selimut yang warnanya senada sampai menutup sebagian tubuhnya.
Melati semakin terbenam di bawah kain tebal berwarna abu – abu itu. Dia semakin menarik kain itu hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya, hanya tinggal kepalanya saja yang terlihat. Melati harus belajar menyesuaikan dirinya terhadap perubahan cuaca di negara yang baru. Dia harus beradaptasi dengan kebiasaan – kebiasaan tempat dia tinggal sekarang.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian DEARs..
👍
💌
🌹
❤️
Thank you... 😘
__ADS_1