
“Maaf Mas, aku akan segera mengambilkan selimut dan bantal untuk kamu,” Melati langsung bangkit dan berjalan menuju kamarnya.
Dia berusaha menghindar dari Kevin karena tak ingin Kevin melihat wajahnya yang memerah karena gugup saat kedua manik mata mereka saling beradu. Melati tidak ingin hanyut terbawa oleh suasana malam ini.
Setelah beberapa menit dia keluar dengan membawa sebuah bantal dan selimut dari dalam kamarnya. Namun rasa canggung masih terlihat jelas di wajah Melati. Setelah memberikannya kepada Kevin, Melati langsung kembali ke kamarnya. Namun Kevin sempat menarik tangan Melati saat akan meninggalkan Kevin.
“Sayang, kamu nggak mau ngucapin selamat tidur buat aku?” tanya Kevin. Wajah Melati kembali merona.
Kini debaran detak jantungnya lebih kencang dari sebelumnya. Melati menoleh ke arah Kevin lalu tersenyum indah sembari berkata, “Gute Nacht Schatz.”
Karena rasa malu yang menyergah seluruh hati, Melati sudah langsung menghambur sebelum ia mendengar balasan dari Kevin, dan Kevin tersenyum sangat bahagia malam itu.
Keduanya sama - sama terbaring tapi di tempat yang berbeda, namun memiliki hati dan perasaan yang sama. Kedua hanyut dengan lamunannya masing – masing bersama malam yang mengiringi mimpi – mimpi indah mereka.
# # #
Jarum jam terus berputar membuat perputaran hari pun berganti. Namun pagi ini tidak seperti hari kemarin, sepertinya kali ini mentari sedikit enggan untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
Kevin lebih dulu bangun dari Melati. Dia berjalan dan perlahan mengintip keluar dari balik vitrase jendela, dilihatnya rintik hujan mulai turun memberi sedikit kesejukan pada bumi yang kian hari kian gersang karena lapisan ozon yang semakin menipis.
Kemudian dia berjalan ke belakang menuju kamar mandi melewati kamar Melati, dibukanya pintu kamar itu, dan dia hanya berdiri memandang wajah pulas Melati yang terlihat menggemaskan saat sedang tidur.
Lalu ditutupnya kembali dan ia segera ke belakang. Setelah itu membuka lemari pendingin yang ada di dapur dan melihat persediaan makanan yang ada disana. Hanya ada beberapa telur lengkap dengan bahan – bahan untuk memasak.
Akhirnya dia memutuskan untuk membuat cheese bread omlete panggang. Ia tampak begitu piawai dalam mengerjakannya, seperti sudah terbiasa. Dan semuanya selesai sampai Melati bangun dari tidur.
Kevin sedikit terkejut saat melihat Melati sudah berdiri di depan pintu memperhatikan bagaimana Kevin melakukan semuanya.
“Hai, Mel! Kamu sudah dari tadi di situ?” tanya Kevin gugup.
Melati tersenyum lalu mengangguk. Kemudian dia berjalan mendekati Kevin sambil berkata, “Mas, ngapain sih repot – repot begini? Aku bisa masak juga lho.”
“Sudah nggak papa, ya hitung – hitung sebagai bayaran aku sudah boleh nginap disini,” sahutnya sambil tersenyum_ “lagian aku sudah terbiasa melakukan semua sendiri. Meskipun di Indo ada keluarga dari Papaku, tapi aku lebih memilih untuk mandiri,” papar Kevin.
__ADS_1
“Wah, pria idaman banget tuh,” puji Melati polos.
“Mel!” Panggil Kevin sambil menunjuk sudut bibirnya ia mencoba memberi isyarat pada Melati. Melati bingung dan dengan lugunya ia kembali bertanya, “Apaan sih, Mas?”
“Bekas encesnya tuh panjang banget,” sahut Kevin sambil tertawa kecil.
Melati merasa sudah membersihkan wajahnya dengan benar bahkan ia sudah menggosok giginya sebelum dia mendatangi Kevin. Tapi tetap saja tangannya refleks ikut mengusap – usap kedua sudut bibirnya. Dan itu membuat Kevin tertawa geli.
“Nggak ada Mas.. aku sudah mencuci wajahku bahkan aku juga sudah menggosok gigi,” akunya Melati.
Kevin diam dan hanya tersenyum manis. Membuat Melati ikut terdiam, sementara detak jantungnya mulai berdebar saat Kevin benar - benar menatap mata Melati.
Perlahan Kevin datang mendekat, lalu kedua tangannya mencoba menyentuh kedua sudut bibir Melati sambil berkata, “You are so beautiful, schatz. I love you and I’ll never leave you.”
Kevin mencium kening Melati dengan lembut dan membuat Melati tersanjung dan ia benar – benar merasakan ketulusan hati Kevin. Dia mendongakkan kepalanya dan menatap mata Kevin dalam seraya berkata, “I do schatz.” Lalu keduanya saling berpelukan.
Tiba – tiba terdengar suara yang tidak asing lagi dikala seseorang sedang dalam perut kosong dan kelaparan. Tentu saja hal itu membuyarkan romantisme yang sedang berlangsung dan membuat keduanya tertawa geli.
“Kamu lapar Mas?” tanya Melati dengan senyum meledek.
“Harus ya Mas? Bukannya gitu aja sudah enak?” tukas Melati.
“Enak sih, tapi seharusnya pas lagi panas di santap lebih nikmat.”
“Kenapa tadi nggak langsung di makan, jadi kerja dua kali, kan?” imbuh Melati.
“Habisnya ada pemandangan indah, sayang sekali jika harus dilewatkan begitu saja. Karena besok pagi tidak aku dapatkan lagi pemandangan seperti tadi,” rayu Kevin sambil melirik gadis yang sedang duduk manis memperhatikan Kevin bekerja.
Melati hanya tersenyum simpul, dengan kedua tangannya menopang dagunya dan pipinya kembali bersemu merah. Lalu beberapa saat kemudian, “Tarrraa, cheese bread cinta siap untuk tuan putri penguasa hatiku.”
Kevin meletakkan cheese bread panggangnya yang sudah di taruh di atas piring dihadapan Melati. Melati masih tersenyum sambil memandangi Kevin, hatinya berdecak kagum. Sementara Kevin sudah beberapa kali menikmati masakannya.
“Ternyata memang benar kata pepatah ya? Jika kita sedang jatuh cinta, hanya dengan memandangi wajah orang yang kita cintai saja sudah cukup membuat kita kenyang sehingga lupa untuk makan,” celetuk Kevin dengan senyum percaya diri menyindir Melati namun tetap fokus dengan hidangan di depannya.
__ADS_1
Melati langsung salah tingkah mendengar sindiran Kevin yang jelas – jelas sangat mengena dengan dirinya.
“Sudah, biasa aja. Nanti kamu tersedak. Aku lagi yang di salahin,” ujar Kevin sambil menyungut.
“Hmm, kenapa Mas yang jadi di salahin?”
“Itulah resikonya orang tampan,” sahut Kevin dengan PeDenya. Dan membuat Melati tertawa ngakak.
“Mas, Mas.. kamu tuh bisa aja ya.”
Akhirnya mereka selesai menyantap sarapannya, lalu mereka berpindah tempat ke ruang tamu. Disana mereka kembali melanjutkan perbincangan mereka kembali.
“Oh iya Mel, hari ini kamu ada kelas?” tanya Kevin serius.
“Nggak Mas, Aku Cuma mau pergi ke perpustakaan saja, ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan. Memangnya kenapa, Mas?” selidik Melati.
“Nggak ada sih. Aku ikut ya, nemenin kamu,” pinta Kevin.
“Mm, baju kamu gimana? Baju kamu kan masih basah, belum kering. Nggak mungkin pakai piyama gitu, kan?” tunjuk Melati.
“Tenang sayang, yang penting aku bisa nemenin kamu,” tukas Kevin.
Melati hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu nggak berniat ketemu...," ucapan Melati terhenti.
"Kamu masih belum mempercayai aku, Mel?" tanya Kevin sedih.
Bersambung....
Happy Reading my beloved readers 😍
Dukung selalu karya aku ya..
__ADS_1
jgn lupa untuk meninggalkan JEJAK 👣
Terimakasih buat yang sudah sudi mampir n memberikan dukungannya 😘😍😍😍