Dia Suamiku, Kak!

Dia Suamiku, Kak!
BAB 25. SESAKIT INIKAH?


__ADS_3

“Kak! Bukankah Kakak menginginkan Kak Aris? Lalu kenapa Kakak menolak lamarannya?” tanya Melati yang duduk di ujung bibir tempat tidur Dona sambil memperhatikan Dona yang sedang sibuk berbenah.


Dona hanya tersenyum tipis mencoba menyembunyikan perih hatinya. Sambil terus membereskan barang – barang di kamarnya.


“Kak! Jika itu cinta Kakak, mestinya Kakak berjuang untuk mempertahankannya. Bukan membiarkannya pergi begitu saja,” imbuh Melati yang kecewa dengan sikap Kakaknya.


“Mel.. Sekeras apapun usaha kita untuk mengejar apa yang kita inginkan jika itu bukan untuk kita, maka kita juga tidak akan pernah mendapatkannya,” ucap Dona tersenyum sambil memegang bahu kanan adiknya.


Dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang terhenti. Membereskan buku – buku dan barang – barang yang menurutnya sudah layak untuk di simpan. Sejenak ia termenung saat melihat sebuah box kecil berwarna hitam yang saat ini ada di tangannya.


Box hitam kecil yang berisi jam tangan pria. Jam yang di belinya saat Aris ulang tahun. Namun ia membatalkan niatnya karena takut Aris menolaknya.


“Seandainya kamu tau Mel, betapa sakitnya Kakak menahan semua ini. Tapi Kakak juga nggak mau membangun sebuah hubungan hanya satu pihak. Karena bukan Kakak yang dia mau, tapi kamu!” ucap Dona dalam hatinya dengan mata berkaca – kaca.


Melati membiarkan Dona melanjutkan pekerjaannya. Tanpa mengucapkan apapun Melati melangkah keluar meninggalkan Dona sendiri.


Meski ada rasa kecewa dengan sikap Dona malam itu, tapi Melati juga masih menaruh rasa bangga pada Kakaknya. Seandainya dia ada di posisi Dona saat itu mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama seperti Dona.


Itu semua karena cinta dan kasih sayang yang terjalin di antara mereka sejak kecil. Sejak mereka tumbuh bersama. Kini Dona telah menyelesaikan pendidikannya setelah menyelesaikan 8 semester sampai akhirnya ia mendapatkan gelar S.Ked (Sarjana Kedokteran).


Saat ini yang dibutuhkannya hanyalah istirahat sejenak untuk memulihkan hatinya yang sedang terluka. Jadi dia memutuskan untuk liburan sebelum akhirnya  dia harus kembali melanjutkan studinya.


Agar bisa membuka praktik mandiri dia harus kembali mengambil Program Profesi Dokter selama satu setengah atau dua tahun, dan masih harus melewati beberapa tahap lagi.


Karena Dona memang benar – benar ingin menjadi seorang Dokter profesional, dia akan rela menghabiskan waktunya untuk terus belajar melewati tahap demi tahap. Mulai dari mengikuti UKDI agar bisa menyandang gelar dr. di depan namanya.


Dia juga harus mengikuti Program Internship selama satu tahun, setelah itu baru dia bisa mengurus Surat Izin Praktik untuk membuka Praktik Dokter Mandiri. Jadi secara keseluruhan dia akan menghabiskan waktu enam tahun setengah sampai ia bisa membuka praktik sendiri.


Jadi sebelum semua itu benar - benar dijalaninya. Dia ingin me_refresh hati dan pikirannya. Lalu dia meminta izin pada Mama dan Papanya saat makan malam tiba.


“Ma, Pa. Dona izin ya untuk liburan beberapa hari,”


“Hmm.. bagus itu, Papa setuju.”


“Mau liburan kemana Kak?” tanya Melati sembari ******* makanan di mulutnya.


“Enaknya kemana ya Mel?”


“Memangnya mau liburan sama siapa Kak?” tanya Bu Hilda.

__ADS_1


Dona hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala sambil terus menikmati makan malamnya.


“Mama nggak izinkan kamu pergi sendiri. Mama nggak mau anak gadis Mama yang cantik ini kenapa – kenapa ya.”


“Ya sudah, gimana kalau kita semua pergi liburan bersama,” ujar Pak Heru.


“Boleh, asik juga tuh Pa,” sahut Melati.


Akhirnya mereka merencanakan waktu kapan yang tepat untuk pergi liburan keluarga. Saling menyesuaikan jadwal masing – masing.


Ya setidaknya ini bisa mengurangi sakit yang dirasakan Dona karena Aris.


Drrtttt..ddrrrttt...


Ponsel Melati berdering. Diambilnya lalu dilihatnya.


Aris Calling...


Melati me_reject panggilan itu. Lalu bunyi kembali dan Melati hanya melirik ponselnya. Dilihatnya masih dari orang yang sama.


“Kenapa nggak di angkat? Aris?” tanya Dona.


“Emm,” Melati mengangguk.


Melati masih diam mematung sambil melihat Dona yang tampak gusar sehingga bolak – balik menukar channel siaran TV. Entah siaran mana yang ingin di ditontonnya.


Ponselnya kembali berdering dan masih dari orang yang sama. Melati bangkit dari duduknya lalu buru – buru melangkah keluar ke balkon teras samping. Dengan berat hati Melati mengangkatnya.


Dona hanya melirik saat Melati berjalan. Masih terbesit luka dihatinya, masih tersirat cemburu yang menyerbu relung hatinya. Meski ia mengatakan bahwa dia baik – baik saja.


Melati seperti sedang bertengkar dengan orang yang sedang meneleponnya.


“Kak! Maaf aku nggak bisa. Kakak juga nggak bisa dong memaksa aku untuk suka sama Kakak!” seru Melati.


“Tapi Mel, aku beneran sayang sama kamu. Dan sampai kapan pun aku akan selalu menunggu kamu. Sampai kamu bisa terima aku. Aku akan melakukan apapun untuk bisa dapetin kamu!” kata Aris dari seberang sana.


Tuutttt...tuuttt..


Tanpa rasa hormat lagi Melati langsung mematikan ponselnya.

__ADS_1


“Mau menunggu ku sampai kapan pun?? He..tunggu aja terus sampai tua,” ucap Melati merutuki Aris.


Kemudian Melati kembali lagi ke ruang TV sembari me_nonaktifkan ponselnya sambil melangkah. Dan dia sedikit membelalakkan matanya , memutar kepalnya ke kanan dan ke kiri karena melihat Dona yang tidak lagi ada di posisinya.


Melati menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang empuk di depan TV sambil menghela nafas. Kemudian memeluk bantal cinta di sampingnya.


“Semoga aja kamu nggak salah faham lagi Kak,” batin Melati sambil mengambil remote dan mengganti channel siaran TV yang ingin di ditontonnya.


Sampai larut malam Melati masih berada di depan TV, menonton film yang sebenarnya dia juga tidak terlalu fokus dengan alur ceritanya. Dia masih kepikiran dengan kata – kata Aris tadi di telepon.


“Bagaimana jika Kak Aris benar - benar nekat? Terus....”


Tiba – tiba ponselnya berdering.


Melati dapat DM (Direct _ Massage) dari Feby, sahabatnya.


‘Mel, tolongin aku! Aku kecopetan di Jl. Handayani. Sekarang aku nggak punya uang buat ongkos. Aku.. Aku takut Mel. Aku nggak tahu harus minta tolong sama siapa lagi selain kamu.’


Tanpa pikir panjang Melati langsung bergerak menuju alamat yang dikatakan Feby.


Setibanya Melati di sana, dia tidak melihat Feby. Akhirnya dia menelepon Feby.


“Fey (Panggilan sayang Melati) kamu dimana?” tanya Melati sangat khawatir.


Lalu Feby mengarahkan Melati untuk terus mengikuti petunjuknya. Sampai di sebuah gang ternyata Melati masih belum melihat Feby. Lalu tiba – tiba Melati pingsan karena diberi obat bius oleh seseorang dari belakang.


Ketika Melati sadar dia sudah berada di sebuah ruangan dengan tangan terikat pada sebuah kursi dan mulut tertutup sapu tangan.


Kemudian muncul Feby yang sudah sangat ketakutan dengan tangan terikat ke belakang.


“Mel! Maafin aku.. aku dipaksa buat ngelakuin ini semua,” ucap Feby sambil menangis.


Dengan sorot mata yang tajam, Melati melihat orang yang sedang berdiri di belakang Feby.


Kemudian orang itu berjalan mendekati Melati dengan senyum jahatnya, dan dengan sebuah pisau  ditangannya sambil berkata, “Hai sayang.. seandainya kamu menuruti apa yang aku mau pasti ini semua tidak akan pernah terjadi.”


Feby semakin ketakutan dengan apa yang dilihatnya saat ini. Bahkan sangking takutnya dia sampai terkencing – kencing dan hanya bisa menangis..


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih yang sudah setia berkunjung 😍😘


Selalu tinggalkan jejak yaa 🙏🙏🤗


__ADS_2