
“Aduh...!” ucap Melati mengadu kesakitan.
“Ternyata kamu!” kata Aris sambil melihat Melati yang berusaha untuk berdiri.
Aris segera menepikan sepeda motor yang di dikendarainya dan bergegas membantu Melati yang tampak kesulitan untuk bisa berdiri kembali.
“Makanya kakak tuh kalau naik motor liat – liat dong! Jangan ngebut! Jadi begini nih hasilnya,” gerutu Melati kepada Aris.
“Lah, kok jadi aku yang disalahin. Yang ada kamu tuh jalan enggak fokus, enggak lihat kanan kiri kalau mau menyeberang,” tampik Aris.
“Ya sudah ayo kita obati dulu luka kamu di ruang Klinik!” imbuh Aris.
“Klinik?! _ Cuma luka kecil gini aja mau di bawa ke Klinik, Kak?” tanya Melati.
“Sudah jangan bawel, ayo naik!” titah Aris yang sudah berada di atas sepeda motornya.
Akhirnya Melati patuh, dia segera naik ke sepeda motor Aris.
“Katanya mau di bawa ke Klinik! Kenapa jadi di bawa ke kampus Kakak?” tanya Melati sambil mengerutkan kedua ujung alis matanya.
Aris tidak memperdulikan kata – kata Melati, dia terus saja memapah Melati menuju Klinik kecil milik kampus mereka.
“Gini – gini kampus kita ini punya Klinik ngerti!” ucap Aris sembari mempersiapkan perlengkapan untuk membersihkan luka kecil di kaki dan tangan Melati.
Melati hanya mengernyitkan dahinya sambil memanyunkan bibirnya.
“Kenapa bibir kamu, luka juga?” tanya Aris ketus.
“Ternyata seperti ini,” ucap Melati lirih.
“Seperti apa?” tanya aris yang sudah memegang alkohol di tangannya.
“Ya seperti i_ni, Kliniknya,” jawab Melati gugup.
Dengan sorot mata yang tajam Aris menatap Melati sejenak sebelum ia membersihkan luka – luka di kaki dan tangan Melati dengan kain kasa yang sudah diberi alkohol. Sementara Melati langsung mengalihkan pandangannya dari sorot mata Aris.
“Pantesan saja banyak cewek – cewek yang klepek - klepek sama makhluk Tuhan yang satu ini. Sudah baik, tampan cerdas lagi. Tahan – tahan Mel! Ingat! Misi kamu adalah mendekatkan Aris dengan Kak Dona,” batin Melati sembari menghela nafas.
“Ough! Pelan dong Kak, sakit tau,” kata Melati sambil melemparkan tatapan tajam.
Aris tak bergeming sedikit pun. Dia terus fokus mengobati luka – luka Melati. Karena mendengar suara kasak – kusuk dari balik daun pintu, Aris menghentikan kegiatannya. Lalu menuju ke pintu dan membukanya.
“Aaaaaaaaaaargh!!” teriak Fiona dan gengnya.
Tentu saja pemandangan pagi ini membuat Aris dan Melati tertawa terbahak – bahak, melihat Fiona dan gengnya tersungkur ke lantai di depan mata mereka.
__ADS_1
“Kalian mau pada ngapain? Kalau mau masuk itu ya masuk aja enggak perlu intap – intip begitu,” ucap Aris yang kembali mengobati luka Melati.
“Ya terus kalian ngapain di sini berduaan?!” ucap Fiona nyolot.
“Kamu lihat kan aku lagi ngapain!” seru Aris.
“Alaa, dasar dia aja tuh yang keganjenan sama kamu. Cari – cari perhatian kamu, biar bisa dekat sama kamu. Masak kamu enggak ngerti!” tutur Fiona yang sedang meradang dan kelihatan seperti cemburu.
“Kalaupun iya, apa masalahnya sama kamu? Kakak aku bukan, sahabat bukan, pacar apalagi. Kok malah kamu yang keberatan?” tanya Aris sambil tersenyum.
Melati tampak melemparkan senyum kemenangan. Tentu saja Fiona merasa dipermalukan lalu pergi meninggalkan Aris dan Melati sambil menghentakkan kakinya di ikuti oleh gengnya.
“Kamu harus berhati – hati sama Fiona, dia tipe orang yang suka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau,” tutur Aris.
“Memangnya sebegitu horornya ya Kak sosok Fiona di mata anak – anak?” tanya Melati.
“Ya begitu, mereka bukan tidak berani sih sebenarnya. Cuma karena Papanya adalah salah satu pemilik saham di kampus ini aja. Jadi anak – anak pada enggak mau ribet aja,” jelas Aris.
Melati hanya menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah Kak, terima kasih ya sudah mau ngobatin luka saya. Saya harus segera masuk, udah telat,” ucap Melati berpamitan.
“Oh iya, biar saya anterin,” kata Aris.
“Eh enggak usah Kak, aku bisa jalan sendiri kok, beneran deh,” sahut Melati menolak tawaran Aris.
“Ya udah tunggu apalagi!” seru Aris karena melihat Melati yang masih diam mematung.
“Beneran enggak apa – apa, Kak? Enggak ada yang marah atau cemburu gitu?” selidik Melati.
“Kalau ada kenapa dan kalau enggak ada juga kenapa?” tanya Aris lagi.
“Ya kalau ada bisa menimbulkan konflik, jadi salah faham. Ribet, kan? Dan kalau enggak ada ya.. syukur deh,” jawab Melati terus memalingkan wajahnya.
Aris tersenyum dengan wajah sedikit memerah.
“Sudah ayo, telat lho,” kata Aris dengan perasaan bahagia.
Melati tidak punya pilihan selain mengikuti perkataan Aris. Akhirnya Melati dengan terpaksa naik ke atas sepeda motor yang sudah terparkir di hadapannya. Aris menurunkan Melati tepat di depan kampusnya.
“Mm, Kak. Makasih banyak yah udah mau nganterin aku sampai depan kampus gini,” ucap Melati sembari tersenyum.
“Siip!” sahut Aris.
“Lain kali lebih hati – hati ya,” imbuhnya kemudian kemudian pergi meninggalkan Melati. Melati pun melambaikan tangannya dan segera melangkahkan kakinya menuju ruangan kelasnya.
__ADS_1
Feby yang sudah memperhatikan Melati sedari tadi langsung nyamperin Melati, dan langsung menghujani Melati dengan beberapa pertanyaan. Membuat Melati bingung harus jawab yang mana.
“Feby sayang, kalau bertanya itu satu – satu biar yang memberi jawaban itu enggak bingung. Mau jawab pertanyaan yang mana duluan,” kata Melati.
“Hehee... ya udah, atu – atu ya..,” sahut Feby menyeringai.
“Nih aku jelasin ya, sejelas – jelasnya jadi dengerin baik – baik. D i s i m a k, oke..,” jawab Melati.
“Iiih, Mel. Kelamaan.. ayo buruan dong udah enggak sabar pengen denger ceritanya,” rengek Feby.
“Cerita enggak ya..??’ tanya Melati lagi yang sengaja menggoda Feby.
“Melati! Ish kamu enggak asik ah,” sahut Feby dengan wajah cemberut.
“Duh, cantik banget kamu kalau begitu. Kayak ada manis – manisnya gitu,” goda Melati lagi sambil memainkan kedua alisnya.
“Mel... aku penasaran!” kata Feby lagi. Melati masih tersenyum manis menatap sahabatnya itu. Feby semakin kesal melihat sikap Melati.
Akhirnya Melati menceritakan secara gamblang kepada Feby bagaimana awal mulanya sampai tangan dan kaki Melati dibalut perban hingga diantar oleh Aris, yang nota bene adalah salah satu idola kampus.
“Terus.. kamu membiarkan si nenek lampir itu pergi begitu saja?” tanya Feby dan Melati hanya mengangguk.
“Kalau jadi aku.. .”
“Memang berani?,” kata Melati memotong ucapan Feby.
“Hehee.. enggak,” sahut Feby menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit.
Akhirnya kedua sahabat itu tertawa bersama sampai Pak dosennya masuk ke kelas dan memulai perkuliahan mereka.
Setelah perkuliahan selesai, Melati pulang bareng Feby naik taksi. Mereka pergi ke toko buku untuk membeli beberapa buku yang diperlukan untuk tugas minggu depan.
Menjelang sore Melati baru pulang ke rumah. Sementara Dona sudah lebih dulu sampai diantar oleh Pak Man.
“Assalamualaikum Ma, Kak,” sapa Melati kepada Mama dan Kakaknya yang sedang bersantai ditemani segelas oren jus dan cemilan ringan.
“Waalaikumsalaam, tumben sampai sore?” tanya Mama.
“Lagi jalan sama cowok kali Ma,” sahut Dona datar sambil terus membaca majalah yang ada di tangannya tanpa menoleh ke belakang.
“Cowok?” tanya Mama heran sembari memutarkan kepalanya memandang kedua anak perempuannya secara bergantian.
Melati hanya mengangkat kedua pundaknya, lalu pergi ke kamarnya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan bosan ya nunggu update dari author 😊
Dan jangan lupa juga untuk tinggalkan jejak kalian yaaa sobat 🙏😍😍😍