
“Pagi Ma,” sapa melati pada mamanya yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk Melati dan Dona.
“Pagi sayang, kakak kamu mana kok enggak ikut turun?” tanya Mama.
“Tuh panjang umur,” jawab Melati sambil menoleh ke arah Dona yang sedang berjalan menuruni anak tangga.
“Tumben, biasanya lebih awal dibanding princess mama yang satu ini,” ucap Mama sambil melirik ke Melati.
“Melati aja yang sekarang berubah jadi lebih awal dan lebih disiplin Ma. Oh ya Ma tahu enggak kalau sekarang dia jadi idola kampus lho!’ tukas Dona.
“Uhuk..uhuk...,” Melati tersedak mendengar ucapan Dona.
“Oh ya! Hebat dong anak mama,” sahut Mama sembari tersenyum.
“Idola apaan, bohong tuh Ma jangan percaya dengan berita yang belum ada buktinya,” ucap Melati sambil terus menikmati sandwich yang dioles dengan selai coklat.
“Beneran deh Ma, sekarang itu ya setiap orang di kampus selalu bicara tentang Melati, Melati dan Melati lagi. Pokoknya setiap hari jadi ‘Tranding Topic’ _nya kampus,” tutur Dona.
“Beneran Mel?” ucap mama sambil memberikan segelas jus apel hangat kepada Dona.
“Enggak Ma, kakak aja tuh yang hiperbol. Malah sebaliknya, bisa menjadi asisten dosen dan kakak tuh Ma menjadi sumber inspirasi banyak orang bahkan jadi idola cowok – cowok di kampus, Cuma.. kakaknya aja yang –“ pungkas Melati.
“Yang....,” tanya Dona penasaran dengan lanjutan kalimat yang diucapkan Melati.
“Yang enggak tertarik sama cowok kali,” ledek Melati sambil tertawa ringan.
“Enak aja, siapa bilang! Apa kamu pikir kakak ini jeruk makan jeruk! Ya enggak lah,” bantah Dona tegas.
“Berarti ada dong, boleh tahu enggak?” goda Melati sembari memainkan kedua alisnya.
“Apaan sih! Udah yuk berangkat, ntar telat lagi,” kilah Dona sambil mencium punggung tangan mamanya dan meninggalkan Melati.
“Kak tunggu!” kata Melati sambil berlari mengejar kakaknya setelah mencium pipi mamanya.
“Mel.. Mel, suka banget kamu ngusilin kakak,” kata Mama sambil membereskan meja makan.
__ADS_1
****
Di Kampus
Setiap jejak langkah Melati menjadi perhatian banyak orang. Dia juga mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru dikenalnya. Melati banyak belajar hal – hal baru dan ikut berkecimpung dalam berbagai kegiatan yang ada di kampusnya.
Bukan hanya di lingkungan cewek saja, nama Melati pun tak luput dari pembicaran para cowok – cowok kampus dari berbagai tingkatan sampai anak – anak elit kelompok borjuis.
“Oh jadi loe yang namanya Melati,” tanya salah satu cowok dari kelompok anak – anak yang kelihatannya bukan dari kelas sembarangan.
“Iya, memangnya kenapa? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Melati ramah sembari tersenyum.
“Hah kenapa?! Sehebat apa sih loe sampai seluruh kampus ngomongin tentang loe!” tanya anak laki – laki itu kembali sambil berputar mengitari Melati.
“Mana gue tahu, mulut.. mulut mereka ya terserah mereka dong mau ngomongin apa. Karena gue cuma punya dua tangan, nggak mungkin juga kan gue bisa nutup semua mlut di kampus ini, lagian itu hak mereka kok selama masih dalam batas yang wajar,” jawab Melati datar.
“Jago ngomong juga ya loe. Selain jago ngomong, jago apalagi loe?” tanya anak itu kembali.
“Jago ngebor kali bro,” celetuk salah satu dari mereka. Mereka pun tertawa terbahak – bahak.
Melati tampak sangat kesal, dia mengepalkan kedua tangannya. Namun Melati masih dapat menahan emosinya.
Namun salah satu dari mereka mencoba menahan Melati untuk tidak pergi dengan menarik tangannya. Dengan refleks Melati menghujamkan sebuah pukulan ke anak tersebut, lalu pergi.
“Busyeeeettt.... hebat bener nih anak!” ucap salah satu dari ke empat kawannya.
Sementara anak yang menarik tangan Melati tadi mengerang kesakitan di bagian perutnya. Dan itu hanya sebagian kecil dari banyak jurus yang dikuasai Melati saat ia mengikuti kegiatan Taek Wondo sejak kelas 1 SMA.
“Boleh juga nih cewek,” kata salah satu dari mereka yang menjadi ketua geng tersebut.
Mereka hanya bisa memandang punggung Melati yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangan mereka.
Setibanya Melati di dalam kelas, dia melihat ada amplop berwarna biru muda di atas mejanya. Melati mengambil lalu membukanya dan ada sebuah tulisan yang berbunyi..
“Mel.. Ntar sore ada jadwal nggak?”
__ADS_1
“Gue jemput ya jam 7”
Salam dari orang yang mengagumi mu
Mr. X
Melati tersenyum setelah membaca isi kertas itu kemudian memutarkan kepalanya 360 derajat. Tetapi Melati tak menemukan orang yang dicarinya. Kemudian dia berbalik lagi ke belakang, ada seorang anak laki – laki tertunduk malu saat Melati mengedarkan pandangannya.
“What!! Apa mungkin dia yang ngirim ini ke gue? Tuhan lindungi lah hambamu ini,” kata Melati dalam batinnya.
“Mel, kamu kenapa?” tanya Feby.
Melati hanya menyodorkan kertas biru itu sambil menunjuk ke arah belakang. Kemudian Feby menoleh ke orang itu lalu membaca isi kertas tersebut. Feby tertawa terbahak – bahak sampai seisi kelas menatap tajam ke Feby.
“Maaf! Tapi guys gue mau tanya nih, siapa sih Mr. X di kelas ini?” kata Feby sambil menunjukkan kertas biru di tangannya.
“Feby!” pekik Melati bermaksud agar Feby tidak melanjutkannya lagi.
“Kamu penasaran, kan Mel?” _ “ya udah, siapa yang merasa Mr. X angkat tangan dong!” sambung Feby.
Anak yang menulis itu merasa dipermalukan oleh Feby, dia mengambil tasnya lalu keluar dan akhirnya tidak ikut kelas hari ini.
“Feby! Kamu keterlaluan deh, lihat tuh kan kasihan jadinya,” ucap Melati.
“Iya Mel, maaf ya. Aku nggak bermaksud buat dia malu. Dasar anaknya aja tuh yang baper plus kuper,” kata Feby sedikit membela diri.
“Iya, tapi bukan berarti kayak gitu juga, kan? Itu namanya mempermalukan orang di depan umum, bisa – bisa kena KUHP lho kamu,” tutur Melati.
“Iiih apaan sih Mel bawa – bawa KUHP segala. Serem tau,” sahut Feby. Melati hanya menghela nafas panjang.
Kelas selesai, hari ini Melati pulang lebih awal dari biasanya. Dia ingin segera pulang ke rumah, berlatih membawakan beberapa lagu untuk acara pentas seni yang diadakan pihak kampus minggu depan.
“Halo kak, kakak udah selesai kelas belum?” tanya Melati kepada Dona melalu handphone_nya.
“Halo Mel, kamu duluan aja ya. Kakak masih ada kelas tambahan. Menggantikan dosen Anatomy yang kebetulan berhalangan masuk hari ini. Nanti kakak pulang naik taksi aja. Jangan lupa sampaikan juga pada Pak Man ya,” kata Dona.
__ADS_1
“Ya udah deh kak kalau begitu, aku duluan ya. Kakak hati – hati,” ucap Melati lalu menutup handphone_nya.
Melati terus melangkahkan kakinya menuju parkiran. Sementara Pak Man sudah menunggu Melati beberapa menit yang lalu. Tanpa disadari oleh Melati, ternyata ada sepasang mata yang selalu memperhatikannya dari kejauhan.