
Selesai berendam di air hangat, Melati mengenakan celana pendek selutut berwarna coklat tan berpadu dengan kaos lengan pendek berwarna hijau, memilih duduk di atas ayunan gantung yang terbuat dari rotan di teras balkon kamarnya.
Dia menyandarkan kepalanya pada bantal – bantal yang tersusun rapi pada ayunan itu. Dengan headphone di kepalanya perlahan dia memejamkan matanya sembari mendengarkan alunan nada – nada indah yang dapat merelaksasi kembali hati dan pikirannya.
Untuk sesaat Melati tidak ingin memikirkan apapun sampai akhirnya alunan musik yang di didengarkannya saat ini membuatnya terpejam dan akhirnya terlelap.
“Aaaaarrrrrrrghhh!! Emang kebangetan kamu ya Mel! Kamu tahu kalau aku yang lebih dulu jatuh cinta sama Kak Aris, aku yang lebih dulu mengenal Kak Aris. Tapi kenapa? Kenapa malah kamu yang jadi pasangannya! Kenapa bukan Aku?!” Teriakan Dona pada Melati.
“Tapi Kak, aku tidak punya perasaan apapun pada Kak Aris! Aku hanya sekedar mengaguminya, Nggak lebih!” sergah Melati.
“Bohong! Kamu pasti suka sama dia, kan? Dan kamu juga ingin menjadi pendampingnya, iya kan?!” tuduh Dona dan Melati menggelengkan kepalanya.
“Oke! Kalau begitu nggak ada gunanya lagi aku hidup. Jadi lebih baik aku mati. Aku akan segera berkumpul dengan keluargaku!” ucap Dona sambil menggoreskan pisau tajam di pergelangan tangannya.
“Kak.. Jangan Kak.. Kak.. Kak Dona!!!” Teriak Melati sekuat tenaga.
Melati tersentak dengan keringat yang membanjiri seluruh tubuhnya. Dia tertegun sambil berusaha mengatur nafasnya yang ngos – ngosan.
Melati turun dari ayunan kemudian melangkahkan kaki dan mengambil air minum yang tersuguhkan di atas meja belajarnya.
Dia meneguk air dalam gelas itu secara perlahan. Menarik nafas pelan dari hidung dan menghembuskannya dari mulut. Hal itu beberapa kali di lakukan Melati sampai dia merasa lega.
“Astaghfirullah.., ternyata hanya mimpi,” ucap Melati sembari mengusap rambutnya yang tergerai.
Kemudian Melati mengambil jam waker yang bertengger dekat dengan deretan buku – buku yang tersusun rapi. Di lihatnya jarum jam yang berputar lalu ia berkata, “Ya Allah ternyata sudah hampir magrib.”
Melati berjalan ke luar. Dia merapikan beberapa buku yang agak berserak di atas meja. Kemudian masuk kembali ke kamarnya dan menutup daun pintu yang terbuka lebar sembari menarik kain gorden yang tergantung hingga tidak terlihat cela jendela itu sedikit pun.
Beberapa menit kemudian terdengar kumandang suara adzan pertanda waktu magrib telah tiba. Melati segera berbenah untuk melaksanakan kewajibannya.
“Mel! Mel!” panggil Dona sambil terus mengetuk pintu kamar Melati. Karena sejak siang Melati tidak dapat dihubungi.
Melati membukakan pintu dan membiarkan Dona masuk.
“Hei! Look at this. I bring something special for you,” ucap Dona sembari menyodorkan sebuah paper bag yang berlogo brand sebuah product ternama.
“Wow! This is really nice. I love it! Thank you Kakakku yang paling baik sedunia,” ucap Melati sambil melingkarkan kedua tangannya di pundak Dona.
“Pokoknya saat wisuda Kakak nanti, ini harus kamu pakai,” pinta Dona.
“Siiip! Laksanakan!”
__ADS_1
“Haiissh! Kamu ini, dah ah buruan yuk.. turun. Papa sama Mama udah nungguin tuh,” ucap Dona.
Kedua kakak beradik itu menapaki anak tangga menuju ke ruang makan.
“Mel, kamu kemana aja? Dari siang Mama call nggak bisa. Padahal mau Mama ajak fitting baju lho.”
“Bukannya cuma Kak Dona aja yang akan di wisuda, Ma?” sahut Melati sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
“Betul, cuma Papa mau setelah acara wisuda Dona selesai kita akan foto keluarga di studio,” jelas Pak Heru.
Melati hanya manggut – manggut sambil terus mengunyah.
“Jadi besok kamu pergi sama Donna untuk fitting bajunya.. Don, anter adik mu ya,” ucap Bu Hilda.
Dona hanya mengangguk karena mulutnya masih penuh dengan makanan.
Selesai makan Dona dan Melati masuk ke kamar mereka masing – masing.
Dona merapikan barang – barang di meja belajar yang sedikit berantakan. Menatanya kembali seperti semula. Namun perhatian Dona terusik pada satu benda yang sudah lama tersimpan.
Diambilnya, kemudian dia membuka mainan liontin itu. Lama Dona memandangi foto yang ada dalam mainan itu. Lalu Dona mengangkat kedua sudut simetris bibirnya ke atas.
Dengan rasa haru dia berkata, “Ma, Pa. Akhirnya Dona dapat menyelesaikan kuliah Dona dengan baik dengan nilai cumlaude. Dan Dona dapat memenuhi keinginan Mama bahwa Dona akan menjadi seorang Dokter kelak. Sekarang gelar itu sudah menempel di belakang nama Dona, Ma.”
Sementara Melati, ia masih asik mencoba sepatu boot yang baru di beli oleh Kakaknya.
“Tau aja Kak Dona seleraku,” gumamnya pelan.
Satu minggu Kemudian
“Melati! Ayo buruan sayang. Jangan sampai kita telat. Kasihan Kakak kamu!’ teriak Bu Hilda karena Melati belum muncul juga.
Tidak lama kemudian Melati muncul, dia berjalan perlahan dan sangat hati – hati saat melangkah menuruni anak tangga.
Pak Heru sekilas melirik ke arah Melati, lalu tersenyum simpul sembari berkata, “Makanya kamu harus sering – sering berlatih jalan dengan memakai heels.”
“Papa..,” ucap Bu Hilda.
Beberapa jam kemudian mereka tiba di lokasi tempat Dona di wisuda. Dengan penuh hikmat seluruh undangan mengikuti prosesinya dengan baik satu persatu sampai selesai.
Kini tiba waktunya untuk saling ber _ swafoto.
__ADS_1
Tampak Dona yang masih memakai jubah wisuda lengkap dengan topi di atas kepalanya dengan membawa sebuah map di tangannya.
Perlahan dia berjalan menuju tempat keluarganya menanti. Dengan senyum bahagia Dona memeluk erat Mama dan Papa angkatnya. Karena Dona merasa berkat mereka lah ia bisa sampai pada titik ini.
“Selamat ya Bu Dokter, akhirnya..,” ucap Melati sambil melebarkan rentang tangannya bersiap untuk memberikan pelukan terbaik pada Kakaknya.
“Ma, Pa, dan kamu juga Mel. Makasih banyak ya, tanpa kalian aku nggak akan bisa jadi seperti ini. Dan ini, aku persembahkan untuk Papa dan Mama,” ucap Dona dengan mata berkaca – kaca ia memberikan medali emas yang diraihnya sebagai apresiasi untuk gelar mahasiswa terbaik setiap tahun sampai dia menamatkan kuliahnya.
“Sayang.. ini milik kamu, jadi kamu yang harus menyimpannya dengan baik. Kami ikhlas melakukan yang seharusnya memang kami lakukan,” kata Bu Hilda sembari mengembalikan medali emas yang diberikan Dona tadi.
“Ayo dong kita berfoto dulu,” sela Melati mencairkan suasana.
Akhirnya mereka ber _ swafoto. Dari gaya formal sampai gaya bebas sepuasnya.
Ketika mereka masih asik berfoto tiba – tiba saja Pak Heru teringat akan Aris dan menanyakannya pada Dona.
“Don, kok Aris nggak keliatan? Bukannya dia juga wisuda hari ini?”
“I – iya Pa. Mungkin masih berkumpul bersama rekan atau keluarganya,” sahut Dona.
Orang yang dimaksud akhirnya muncul dari sebuah kerumunan. Dengan senyum lebar ia menyapa keluarga Dona. Menjabat tangan kedua orang tua Dona juga Melati.
Melati tersenyum getir sembari memberi ucapan selamat kepada Aris. Dengan tatapan mata yang tajam seakan langsung menembus sampai ke jantung, Aris berterima kasih.
“Bagaimana kalau kalian bertiga berfoto bersama,” celetuk Bu Hilda.
“Boleh Ma,” sahut Dona.
Sementara Melati dan Aris saling berpandangan. Melati merasa kurang nyaman saat mata mereka beradu tatap dan pemandangan itu sempat tertangkap oleh mata Dona. Sehingga perasaan yang waktu itu pernah ada kini seakan muncul kembali.
Perih. Namun Dona tetap berusaha menutupi sakitnya. Hingga saat berfoto bersama, mata Aris tak pernah lepas menatap Melati hangat penuh kasih. Ada cinta tulus yang terpancar dari sorot mata Aris.
Melati tersentak ketika tangan kanan Aris melingkar di pundaknya saat berfoto dan kembali mereka beradu tatap.
Pak Heru dan Bu Hilda saling berpandangan. Mereka merasa ada sesuatu yang janggal saat melihat sikap Aris yang berbeda. Begitu juga dengan kedua putrinya.
Setelah mereka selesai berfoto, Aris berjalan mendekati Pak Heru dan Bu Hilda.
Dia mengutarakan perasaannya, “Om, Tante. Sebelumnya saya minta maaf jika saya kurang sopan. Tapi saya harus mengatakannya sekarang, dan itu pun jika Om dan Tante merestui, bahwa saya.. saya ingin melamar anak Om dan Tante.”
Mereka terperangah mendengar kata – kata yang terucap dari mulut Aris.
__ADS_1
Bersambung...
Hai beloved readers, jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya..