Dia Suamiku, Kak!

Dia Suamiku, Kak!
BAB 16. NGE_PRANK


__ADS_3

Tok.. tok.. tok..


Bu Hilda mengetuk pintu kamar Melati yang terkunci.


“Mel! Boleh Mama masuk?” ucap Bu Hilda.


Melati bangkit dari tempat duduknya dan membukakan pintu untk Mamanya. Lalu Bu Hilda pun masuk.


“Mel! Mama nggak suka ya dengan sikap kamu yang seperti ini,” tukas Bu Hilda.


Melati tersenyum manis.


“Kok malah senyum gitu,” Tanya Bu Hilda heran.


Akhirnya Melati membisikkan sesuatu di telinga Mamanya.


“Oh.. Jadi begitu, tapi inget ya. Mama nggak mau hubungan kalian jadi renggang hanya kerena salah faham, bahkan sampai berakibat fatal,” kecam Bu Hilda.


Sambil mengacungkan jempolnya Melati berkata, “Siiiippp! Beres Mama ku sayang.”


“Ya sudah kalau begitu Mama ke bawah dulu,” ucap Bu Hilda sembari menutup pintu _ “Oh iya, Mama buat dessert tuh. Resep baru, enak lho Mel,” imbuhnya lagi.


“Iya Ma, nanti Melati ke bawah.”


Bu Hilda mengayunkan kakinya menuruni anak tangga rumahnya menuju ke taman belakang sambil membawakan dessert buatannya. Tampak Pak Heru sedang membaca surat kabar di temani secangkir kopi hangat.


Bu Hilda meletakkannya di atas meja lalu berkata, “Pa, nggak ada jadwal hari ini?”


“Mm.. Sepertinya nggak tuh. Memangnya kenapa Ma?”


“Mama kangen di ajak nge - date sama Papa,” sahut Melati yang tiba – tiba muncul dan langsung mengambil dessert yang tersaji di meja.


“Husssh! Apaan sih kamu Mel, bikin Mama malu aja.”


“Tuh kan Pa bener. Mama pengen jalan bareng cuma berduaan aja sama Papa, pacaran...” ucap Melati sambil tertawa.


“Mama.. Mama.. kayak AbeGeh aja, pakek acara malu segala. Lihat nih anak kita aja udah segini gede,” sambil membelai rambut Melati.


“Itu artinya kita ini udah nggak muda lagi,” imbuh Pak Heru.


“Iya ya Pa udah tua, nggak terasa waktu begitu cepat berlalu,”


Dona yang sedari tadi berdiri di depan pintu tengah memperhatikan mereka yang sedang berkelakar, melihat batapa bahagianya mereka.


“Beruntungnya kamu Mel, memiliki kesempurnaan hidup yang tidak di miliki oleh semua orang. Didampingi oleh kedua orang tua yang sangat menyayangi dan mencintai kamu. Tidak seperti aku,” batin Dona.


Tanpa disadari butiran air mata memenuhi kedua sudut bola matanya dan siap untuk terjun bebas. Cepat – cepat ia membalikkan tubuhnya lalu menyeka air mata di kedua matanya.


Mbok Suti yang saat itu melihat kesedihan Dona juga ikut menyeka air matanya yang sudah lebih dulu mengalir bebas tanpa penghalang.


Bu Hilda sekilas merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka lalu menolehkan kepalanya, dan melihat Dona yang sepertinya akan melangkah.


“Dona! Kemari sayang,” panggil Bu Hilda.


Dona menghela nafas pelan lalu berkata, “Iya Ma.”


“Nih cobain dessert terbaru buatan Mama, di jamin endess!” ucap Bu Hilda sembari mengambilkan salah satu *dessert box _*nya.

__ADS_1


Seketika suasana yang tadinya kelakar berubah hening seketika. Pak Heru yang melihat sikap kedua putrinya menjadi tersulut emosi.


Dengan serius dan sorot mata yang tajam Pak Heru bertanya, “ Boleh Papa tahu, apa sebenarnya permasalahan di antara kalian??”


Tak satu pun dari mereka yang bergeming.


“Jawab!!” bentak Pak Heru.


“Melati?” tanya Pak Heru datar. Melati yang menunduk hanya menggelengkan kepalanya.


“Dona??” tanya Pak Heru kembali, dan Dona pun hanya menggelengkan kepalanya.


Sementara Mbok Suti dan Pak Man hanya bisa terdiam kaku di depan pintu tengah yang juga melihat amarah yang meluap dari seorang Heru Kemalya. Karena selama bertahun – tahun Pak Heru tidak pernah semarah ini.


“Atau mungkin karna ini?” tanya Bu Hilda sembari mengeluarkan foto dari saku bajunya.


Dona dan Melati sangat terkejut melihat foto yang ada di tangan Bu Hilda.


“Bagaimana foto itu bisa ada di tangan Mama?” ucap Dona dalam batinnya.


“Kok foto Kak Aris bisa sama Mama?” tanya Melati dalam hatinya.


“Kenapa, heran foto ini bisa ada sama Mama?” tanya Bu Hilda lagi.


“Kenapa pada diam? Nggak ada yang bisa jelasin ke Papa?”


“Se- sebenarnya ini salah Dona Pa, Dona seharusnya tidak menuduh Melati yang bukan - bukan”


“Lalu?” Tanya Pak Heru lagi.


“Dona sudah mencoba untuk meminta maaf sama Melati, tapi sepertinya Melati belum bisa memaafkan Dona,” jelasnya sambil terisak.


“Benar, Pa.”


Pak Heru semakin membulatkan kedua manik matanya, menatap Melati dengan tatapan yang paling sadis. Ibarat seorang ketua gengster yang siap menghabisi musuh – musuhnya.


“Mel! Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk mendendam. Apalagi ini dengan saudara kamu sendiri, kakak kamu Melati!” pekik Pak Heru.


“Ya, Melati tahu. Papa adalah Papa terbaik yang Melati miliki. Papa yang selalu mengajarkan semua kebaikan kepada Melati juga Kak Dona. Melati ngerti, Pa.”


“Pa.. Dona yang salah Pa, tolong Papa jangan marahi Melati lagi ya. Mungkin saat ini hatinya belum bisa menerima maaf dari Dona. Tapi Dona yakin kok Melati akan memaafkan Dona, iya kan Mel?”


“Iya bener! Melati akan memaafkan Kak Dona dengan satu syarat,” kata Melati.


“Syarat?!” pekik Pak Heru.


“Iya Pa, syarat. Dan syaratnya adalah.. Kak Dona harus berkata jujur di depan kita semua tentang perasaannya,” jelas Melati.


“Maksud kamu?” tanya Dona.


“Kamu sayang dia?” tanya Bu Hilda sambil menunjuk orang yang ada di dalam foto.


Dona hanya menunduk tanpa menjawab.


“Jawab dong Kak!” seru Melati.


“Kalau Kakak nggak menjawab, aku juga nggak akan pernah maafin Kakak. Dan menganggap Kakak itu bukanlah Kakak aku.”

__ADS_1


“Dona..?” panggil Pak Heru.


Dona menganggukkan kepalanya seraya berkata, “ I – iya Ma, Dona say...”


“Naahhh!!! Gitu dong, itu baru Kakak Melati,” ucap Melati sembari tersenyum membuat Dona terpelongo.


“Melati!” seru Pak Heru.


“Mama nggak ikutan ya,” kilah Bu Hilda.


“Jadi gini Pa. Sebenarnya Melati itu udah pernah lihat foto cowok ganteng itu di kamar Kak Dona. Nggak mungkin juga kan kalau nggak suka nyimpen fotonya. Terus Melati tanyak ke Kak Dona suka nggak sama Kak Aris? Tapi Kak Dona nggak mau jujur,”


“Oh, jadi namanya Aris?” tanya Pak Heru.


Melati mengangguk, dan melanjutkan penjelasannya panjang lebar.


“Karena Melati bingung gimana caranya, ya udah deh Melati buat seperti ini, dengan bantuan Mama tentunya,” ujar Melati seraya tersenyum ke arah Mamanya.


“Mama nggak ikutan,” ucap Bu Hilda buang badan.


“Oh.. jadi ini semua ini cuma akal – akalan kamu saja Mel? Selamat ya, kamu berhasil! Dan aku nggak pernah nyangka kamu setega ini, Mel!” Seru Dona sambil melangkahkan kakinya.


“Yah.. Ma, kok jadi gini? Niatnya kan cuma nge _ prank, kok jadi marah beneran,” ucap Melati.


“Ini baru kesalahan kamu!” seru Pak Heru.


Dengan wajah masam Pak Heru dan Bu Hilda pun pergi meninggalkan Melati seorang diri.


“Pa.. Ma..,” panggil Melati namun keduanya tetap melangkahkan kakinya.


Dengan perasaan sangat bersalah, akhirnya Melati perlahan ikut masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di pintu tengah.. Pak Heru, Bu Hilda dan juga Dona berbalik dan berteriak, “ Yeee....! Kenak Prank!!!”


Melati tercengang lalu berteriak, ”Kak Dona.....!!!”


Mereka pun tertawa sejadi – jadinya. Sementara Melati dan Dona saling berkejaran.


“Dona! Melati!” seru Pak Heru membuat keduanya terhenti.


“Bawa Aris ke sini! BESOK!” titah Pak Heru.


“What???” Ucap Melati dan Dona bersamaan dan saling berpandangan.


Bersambung....


Happy reading beloved reader


jangan lupa kasih imun othor yaa 😁


👍


💌


❤️


__ADS_1


Thank you... 😘😘


__ADS_2