Dia Suamiku, Kak!

Dia Suamiku, Kak!
BAB 24. DIA dan BUKAN AKU!


__ADS_3

“Kamu yakin dengan apa yang barusan kamu katakan?” tanya Pak Heru sorot mata yang tajam.


“Iya Pak, bahkan saya sangat yakin..,”


“Mm.. maaf Pa, Melati ke kamar mandi dulu. Kebelet..,” sambil nyengir Melati menyela omongan Aris kemudian buru – buru kabur.


Bu Hilda terdiam hanya bisa memandangi punggung Melati yang dalam sekejap sudah menghilang. Kini pandangan itu beralih pada Dona dan sesekali beralih ke suaminya.


Sementara Dona hanya berani menundukkan kepalanya. Hatinya berdebar tak menentu. Pikirannya juga berkecamuk, apakah dia harus senang dengan ucapan Aris atau sebaliknya.


Karena Dona masih meragukan cinta Aris. Siapa sebenarnya yang dia cintai. Semakin hari dia merasa bahwa Aris tidak ada menyimpan rasa cinta padanya hanya sekedar rasa kasihan setelah mendengar kenyataan tentang Dona.


Suasana hening hadir di antara mereka. Terpaan hembusan angin yang membelai pipi Dona tak mampu membuatnya teduh. Dia terus mengibaskan jari – jemarinya seperti orang yang sedang kegerahan.


“Untuk masalah ini sebaiknya kita bicarakan di rumah saja. Jadi nanti malam saya tunggu di rumah,” tutur Pak Heru memecah keheningan yang menyergap mereka.


“Baik Om, Insya Allah saya akan datang bersama orang tua saya sebagai perkenalan,” sahut Aris sembari tersenyum.


“Okey, akan saya tunggu niat baik kamu.”


“Pasti Om. Kalau begitu saya ke sana dulu Om, Tante. Don..,” sambil tersenyum Aris berpamitan.


Dona menghela nafas pelan setelah Aris berlalu. Kemudian dia berpamitan sama Mama dan Papanya untuk menyusul Melati yang sedari tadi tak kunjung kembali dari kamar mandi.


Belum pun sampai Dona ke kamar mandi, langkahnya harus terhenti oleh pemandangan yang membuatnya terperangah. Dengan cepat Dona membalikkan tubuhnya.


Karena rasa penasaran yang tinggi, Dona perlahan berjalan mendekat ke balik dinding. Dia mencoba menguping pembicaraan antara Aris dan Melati.


Dona menajamkan telinganya dan fokus dengan apa yang mereka bicarakan.


“Mel! Please, jangan perlakukan aku seperti ini.”


“Aku pernah bilang kan, kalau aku TIDAK punya perasaan apapun ke Kakak?”


“Dan itu bohong, kan?! Kamu mengalah demi Dona! Kamu rela mengorbankan perasaan kamu sendiri hanya untuk membuat Dona bahagia.”


“Cukup Kak! Sekali lagi aku tegaskan sama Kakak, AKU TIDAK PUNYA perasaan apapun ke Kakak! Permisi.”


Melati melangkahkan kakinya meninggalkan Aris. Namun Aris menarik tangan Melati sembari berkata, “Nanti malam aku dan orang tuaku akan datang untuk melamar Kamu BUKAN Dona.”


Melati langsung membalikkan badannya, menatap Aris sejenak. Lalu Melati memohon pada Aris untuk tidak mengecewakan Dona yang tulus sepenuh hati memberikan cintanya pada Aris.


“Tapi Mel!”


“Kak! Aku mohon. Please!” pinta Melati.

__ADS_1


“Tapi Mel, aku hanya mencintai kamu. Sampai kapan pun hati ini hanya untuk kamu,” sahut Aris.


Melati menghentakkan tangannya untuk melepaskan cengkeraman tangan Aris. Tanpa menjawab apapun Melati langsung meninggalkan Aris pergi.


Sementara Dona masih menutup mulutnya dengan kedua tangannya untuk menahan isak tangisnya agar tidak sampai terdengar oleh mereka.


Setelah ia mendengarkan pembicaraan antara Melati dan Aris, ada perih yang menghujam sampai ke relung hati terdalam. Bak tertusuk ribuan anak panah.


Dengan berlinang air mata Dona lari meninggalkan lokasi wisuda. Langsung naik taksi yang kebetulan berhenti di depan gerbang.


Pak sopir sesekali melihat dari kaca spionnya.


“Mbak! Biasanya kalau orang baru selesai wisuda itu wajahnya ceria loh, ini kok si mbaknya malah nangis?” tanya Pak Sopir.


“Hee, iya Pak. Ini adalah tangis bahagia Pak," sahut Dina sambil menyeringai.


“Oh.. begitu,” sahut Pak Sopir lagi.


“Pak! Kita ke Taman Makam yang dekat perempatan jalan sebelum jembatan itu ya,” pinta Dona.


“Oh baik Mbak.”


Tatapan Dona jauh ke awan dari balik kaca jendela mobil taksi yang membawa dirinya sambil sesekali menyeka air mata yang sepertinya tak pernah ingin untuk berhenti mengalir.


Sementara Melati bersama kedua orang tuanya sibuk mencari ke sana – kemari di mana Dona berada. Mereka berpencar mencari Dona namun tidak menemukannya dimana pun.


“Oke, kita pulang,” kata Papanya Melati.


Mereka segera berjalan menuju parkiran. Lalu masuk ke dalam mobil.


***


“Assalamu’alaikum, Mbok. Dona udah nyampe?” Tanya Bu Hilda pada Mbok Suti.


“Wa’alaikumsalam, belum Bu,” jawab Mbok Suti.


“Hm..Ma, sepertinya Melati tau deh Kak Dona pergi kemana?”


“Kemana?”


“Ke makam orang tua Kak Dona.”


“Terus kenapa dia nggak ngomong sama Mama, sama Papa. Kita kan bisa sekalian ikut ziarah ke makam orang tuanya,” sahut Bu Hilda sedikit kesal.


“Ma! Mungkin saja dia ingin meluapkan semua isi hatinya. Dia tidak ingin di dengar oleh siapapun,” sahut Pak Heru.

__ADS_1


“Tapi Pa...,”


“Sudah lah Ma, biarkan Dona. Kasih dia sedikit kebebasan, toh selama ini dia selalu menuruti apapun omongan Mama. Apapun! Dia nggak pernah membantah,” tutur Pak Heru.


“Ma, Pa.. Melati ke atas dulu ya,” ucap Melati sambil melangkahkan kakinya.


***


Dona  duduk di samping makam kedua orang tuanya sambil mengusap pusaranya. Dengan suara pelan dan terbata – bata dengan menahan tangisnya dia berkata, “Ma, Pa.. lihat, Dona sudah meraih apa yang menjadi impian Dona sejak kecil dan dengan nilai terbaik. Semoga ini bisa membuat Mama sama Papa bangga.”


Sesekali terdengar suara isak tangisnya, lalu ia terdiam. Terus memandangi tiga pusara yang berjajar di hadapannya saat ini.


“Dona hanya bisa memberikan ini, dan juga do’a yang tidak pernah putus - putusnya untuk Mama, Papa, dan juga Danish. Semoga kalian bahagia di sana dan Dona juga bisa bahagia di sini. Meskipun, terkadang apa yang kita inginkan, kita harapkan tidak semuanya bisa di raih. Mungkin Tuhan punya rencana yang lebih indah untuk kita. Dona pamit dulu Ma, Pa..,”


Dona bangkit dari duduknya, kemudian melangkah sembari tersenyum sedih ia berkata, “Dah Danish, Kakak pamit dulu ya.”


Dona pun meninggalkan taman makam itu dan kembali ke rumah.


***


“Sayang.. Kamu dari mana saja sampai jam segini baru pulang? Mama khawatir sekali tiba – tiba saja kamu menghilang tanpa berpamitan,” sergah Bu Hilda ketika Dona masuk ke dalam rumah.


“Ma.. Biar Dona membersihkan dirinya dulu, istirahat sejenak. Nanti kalau sudah baru..,” ucap Pak Heru.


“Makasih ya Pa, Ma.. Dona naik dulu,” pamit Dona dan langsung pergi menuju kamarnya.


“Ish.. Papa ini. Mama kan khawatir,” bisik Bu Hilda lagi setelah Dona pergi. Pak Heru hanya tersenyum.


Malam yang dinantikan akhirnya tiba. Aris bersama kedua orang tuanya datang ke rumah Melati untuk bersilaturahmi sekaligus menyampaikan apa yang menjadi hajat Aris.


Meski kedua orang tua Melati masih sedikit bingung dan ragu akan jawaban anaknya, namun mereka tetap menyambut Aris dan orang tuanya dengan ramah.


Mereka berkumpul di ruang tamu. Setelah mereka saling kenal akhirnya Papanya Aris menyampaikan maksud dan tujuan mereka berkunjung ke kediaman keluarga Kemalya.


Dona dan Melati saling berpandangan saat Papanya Aris berkata, “Jadi maksud kedatangan kami adalah untuk melamar salah satu putri Bapak menjadi menantu kami.” Papanya Aris menunjuk ke pada Dona.


Melati dan Dona sama terkejutnya saat itu. Hati Melati merasa sedikit lega, lalu ia tersenyum tipis ke Aris sambil menganggukkan kepalanya.


Dona pun ikut tersenyum. Namun tiba – tiba saat semua terdiam dengan menguatkan hati Dona berkata, “Maaf! Mungkin orang yang Om dan Tante maksud adalah DIA dan BUKAN AKU.”


Setelah berkata itu Dona langsung berlari ke kamarnya.


Bersambung...


Happy Reading..

__ADS_1


👍💌❤️⭐


Terimakasih untuk yang setia memberikan dukungannya untuk othor yaa 🤗😍😍😍


__ADS_2