Dia Suamiku, Kak!

Dia Suamiku, Kak!
BAB 1. OSPEK PERTAMA


__ADS_3

“Mel, buruan! Kakak kamu udah selesai nih. Ntar telat lho!” teriak Mama dari bawah.


“Iya, Ma! Bentar lagi juga turun kok,” sahut Melati dengan nada yang sama tingginya dengan Mamanya agar terdengar sampai ke bawah.


Melati pun masih sibuk membereskan perlengkapan yang akan di bawanya ke kampus. Karena terlambat bangun, dia harus terburu – buru bersiap. Tak lama kemudian, Melati keluar dari kamarnya dan sedikit berlari menuruni anak tangga menuju ruang makan.


Di sana sudah menunggu Papa, Mama, dan kakaknya di meja makan. Serempak mereka bertiga melihat melati, menatap dengan seksama dari kepala hingga ujung kaki. Melati juga ikut memperhatikan penampilannya. Sementara Papa dan kakaknya sudah menahan tawa di mulutnya. Hanya Mamanya yang masih terdiam memperhatikan anak gadisnya.


“Pada kenapa sih?! Kayak lagi pada liat hantu aja,” tanya Melati sambil mengoleskan selai bluberry di atas roti yang sedang dipegangnya.


“Mel, kamu yakin ke kampus dengan dandanan seperti ini?” tanya Mama perlahan.


Sementara Dona kakaknya sudah terbahak – bahak menertawakan penampilan adiknya.


“Yakin lah! Ma, anak Mama ini cantik, jadi mau dibuat gaya kayak mana juga tetep aja kelihatan cantik. Udah cantik dari lahir Mama,” jawab Melati dengan kepedean yang hampir mencapai 1000%.


“Cantik sih cantik, tapi kalau seperti itu jadi nggak cantik sayang,” ucap Mama sambil menunjuk ke kepala Melati.


“Kamu mau ke kampus atau mau ke kamar mandi sih?” tanya kakaknya.


Melati perlahan meraba kepalanya. Sampai tangannya menyentuh sesuatu yang ada di kepalanya.


“Haaaaaaa!!!” teriak melati histeris kemudian berlari menuju kamarnya.


Dengan sangat tergesa – gesa Melati membebaskan rambutnya dari balutan handuk yang membungkusnya dan melemparkan handuknya di atas tempat tidur.


“Mampus deh gue! Kalau begini bisa telat banget nih nyampek kampus. Mana hari pertama gue ngampus lagi, masak iya sih penampilannya nggak oke,” rengek Melati dalam hatinya sambil terus merapikan rambutnya.


Sementara Dona berangkat lebih dulu ikut dengan mobil Papanya. Dona adalah mahasiswi terbaik sejak awal dia duduk di bangku perkuliahan, jadi dia tidak ingin merusak reputasinya yang selama ini telah ia dapatkan hanya karena terlambat masuk ke kampus.


Dona selalu berusaha memberikan hasil yang terbaik sebisanya untuk kedua orang tua angkatnya. Semua ini ia lakukan sebagai bentuk terima kasih dan balas budi atas kebaikan mereka selama ini setelah kepergian kedua orang tua kandungnya.


*****


Di Kampus


Dona tampak begitu cemas. Dia berjalan kesana – kemari sambil melihat jam tangannya dan sesekali memandang ke arah pintu masuk Aula.


“Kamu kenapa Don?” tanya salah seorang temannya.

__ADS_1


“Eh, enggak.. nggak ada apa – apa kok” jawab Dona kikuk lalu tersenyum.


“Oh ya sudah kalau begitu,  aku ke sana dulu ya,” sahut temannya dan berlalu pergi dari hadapan Dona. Dona pun menganggukkan kepalanya.


“Duh Mel kemana sih kamu jam segini belum nongol juga!” gumam Dona dalam hatinya.


“Don, yuk gabung sama anak – anak di sana,” kata ketua panitia ospek sambil terus melangkahkan kakinya.


“Duluan saja Kak nanti aku menyusul,” sahut Dona.


Dona tidak akan mengatakan kalau dia sedang menunggu adik angkatnya itu. Dan dia juga tidak akan mengatakan kalau Melati adalah adiknya. Bukan karena malu mengakuinya sebagai adik, tetapi justru dia ingin adiknya dikenal banyak orang karena prestasinya bukan karena embel – embel ‘Dona’ mahasiswi terbaik di kampus. Dia tidak ingin Melati diperlakukan istimewa dibanding dengan mahasiswa lainnya.


Priiiiiiiitttttt  Priiiiiiiiiittt....!


Ketua panitia ospek membunyikan sempritnya sebagai tanda kegiatan ospek akan segera dimulai. Dan para mahasiswa/ mahasiswi baru berkumpul mengikuti arahan yang diberikan. Tetapi Dona masih belum menemukan wajah cantik adiknya di dalam barisan.


“Baiklah adik – adik sekalian, di sini saya selaku ketua panitia ospek akan bertanggung jawab dalam membimbing kalian selama kegiatan ospek ini berlangsung dan saya juga akan dibantu oleh rekan – rekan saya dari semua jurusan yang ada di Kampus ini, jadi kalian akan dibimbing langsung oleh kakak – kakak senior yang ada di sini untuk masing – masing kelompok, “ terang ketua panitia.


“Jadi sekarang kalian ikuti arahan dari masing – masing kakak pembimbing sesuai dengan kelompoknya...,” imbuh ketua panitia tersebut.


Mereka para senior sibuk membagi kelompok untuk mahasiswa baru sementara Dona masih sibuk mencari wajah cantik adiknya yang tidak ditemukannya di setiap barisan kelompok. Sesekali Dona tampak melihat arloji yang melingkar di tangan kanannya.


“Don, sebenarnya siapa sih yang sedang kamu tunggu? Semua panitia juga sudah hadir di sini.” bisik Aris di telinga Dona.


Dona belum lagi sempat menjawab pertanyaan Aris. Tiba – tiba saja..


Prraaaakkk...!!


“Haaaaaaaaa!” teriak salah seorang panitia.


Sontak membuat seluruh pasang mata yang ada di ruangan itu membelalakkan manik matanya pada satu arah yang sama. Dan pemandangan yang ada di hadapan mereka saat ini membuat mereka tertawa kekeh berjamaah. Kecuali Dona, dia hanya meringis melihat kondisi temannya karena ulah adiknya.


“Mel, ceroboh amat sih kamu. Setelah ini kamu harus bersiap - siap berhadapan dengan manusia super heboh di kampus ini. Huuft!” batin Dona sembari menghela nafas.


“Kamu kenal dengan anak baru itu?” tanya Aris kepada Dona.


Dona hanya tersenyum masam tanpa menjawab apapun. Ternyata Aris terus memperhatikan Dona. Karena tidak biasanya sikap Dona seperti itu _ cemas yang berlebihan. Percekcokan antara Melati dengan kakak seniornya disaksikan oleh semua orang di ruangan itu.


“Maaf kak saya tidak sengaja,” kata Melati sembari ikut membersihkan tepung yang mengguyur tubuh Fiona_seniornya.

__ADS_1


Namun tangan Melati ditepis oleh Fiona.


“Loe anak baru ya?! Punya mata nggak sih loe!!” teriak Fiona kepada Melati.


Melati pun menganggukkan kepalanya.


“Maaf kak saya terburu – buru,” kata Melati lagi.


“Maaf..maaf! Loe lihat nih muka gue, kotor! Dan ini karena ulah loe, jadi loe harus membayar semuanya.Ngerti!” Seru Fiona penuh amarah.


Melati hanya menyeringai mendengar ucapan Fiona yang membara dan itu membuat Fio semakin meradang.


“Loe dengar nggak!!” teriak Fiona kembali.


Dengan santainya Melati menjawab, “Dengar kok kak.”


“Lagian siapa suruh bawa tepung dengan cara begitu,” ucap Melati lirih sambil memalingkan wajahnya. Namun samar terdengar ditelinga Fiona.


“Loe..,” ucap Fiona sambil melayangkan tangannya ke pipi Melati.


Untung saja Dona berhasil menahan tangan Fiona sehingga tidak sampai mendarat di wajah cantik Melati.


“Don, apaan sih loe! Loe belain anak baru ini? Jelas – jelas dia bersalah dan loe membela orang yang salah,” tanya Fiona kepada Dona.


“Ya, seandainya anak baru ini yang bersalah bukan berarti kamu dengan seenaknya main kekerasan begini, kan?” tanya Dona sedikit membela adiknya.


“Ya benar itu kak,” imbuh Melati sambil mengangguk – anggukkan kepalanya.


“Tunggu – tunggu, kamu bilang tadi ‘seandainya’ jadi kalau begitu, menurut kamu aku yang salah?! Ya, kan!” pekik Fiona kembali kepada Dona.


“Sudah – sudah! Apa kalian tidak malu ribut - ribut begini! Come on girls ini adalah hari pertama kita ospek, so tolong jaga sikap kalian sebagai senior. Tunjukkan wibawa dan profesionalisme kalian untuk memberikan contoh yang baik, bukan seperti ini. Don, Fio, dan kamu anak baru nanti ikut keruangan sekretariat. Kita selesaikan di sana, faham!” seru Aris kepada mereka.


“Dan untuk yang lain, ayo kita kembali ke barisan masing – masing seperti semula,” imbuh Aris.


Baik senior maupun anak baru, mereka semua mengikuti arahan Aris, kembali membentuk kelompoknya masing – masing. Sementara Dona, Fiona dan Melati berjalan menuju ruang sekretariat seperti yang diperintahkan Aris.


BERSAMBUNG.....


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya.. karena itu sangat berarti untuk author..

__ADS_1


Terimakasih.. 😍😍


__ADS_2