
Happy Reading... 😍😍
Setelah membaca jangan lupa Like, Komen, Vote dan Hadiah. Untuk menambah imun Author rajin UP 🤭😄😄
***********************************************************************************************************************************
Deru suara mesin sepeda motor Aris terdengar sampai ke telinga Melati. Kebetulan sore itu melati sedang berlatih mengasah keterampilannya menggesekkan biolanya.
Melati berada di balkon depan kamarnya, sambil menikmati sejuknya udara di sore hari. Dari atas Melati memperhatikan Dona turun dari sepeda motor Aris. Aris yang kebetulan melihat Melati langsung melambaikan salah satu tangannya, menyapa Melati. Melati hanya membalasnya dengan sebuah anggukan saja.
Dona juga ikut melihat Melati, dia menatap dalam diam. Akhirnya Dona masuk ke dalam rumah setelah Aris berpamitan pergi.
Dona langsung masuk ke kamarnya. Sejenak dia merebahkan tubuhnya di atas kasurnya, kemudian memejamkan matanya. Mungkin karena merasakan tubuh yang sangat lelah akhirnya dia tertidur pulas tanpa sempat mengganti baju yang di pakainya.
Tanpa terasa jam berlalu, menunjukkan jam 7 tepat. Mamanya Melati merasakan adanya sesuatu yang janggal dengan sikap kedua putrinya. Sampai waktunya jam makan malam keduanya belum juga muncul.
Sambil menyiapkan makan malam bersama Mbok Suti, sesekali Mamanya Melati menoleh ke arah anak tangga yang menuju ke lantai atas.
Mbok Suti ternyata memperhatikan Ibu suri rumah itu lalu berkata, “Mau saya panggilkan Non Dona dan Non Melati, Bu?"
“Oh, nggak usah Mbok biar saya saja yang panggil mereka. Mbok tolong lanjutkan ya,” ucap Bu Hilda.
Mbok Suti pun mengangguk sambil terus menata meja. Sementara Bu Hilda Suryo sudah berada di kamar Melati.
“Mel! Ayo kita makan sayang, Papa sudah nunggu tuh di bawah,” teriak Mamanya karena Melati sedang berada di dalam kamar mandi.
Kemudian tampak Melati keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya dengan handuk kecil di tangannya.
“Ih buruan, kasihan Papa nunggu tuh,” kata Mama lagi.
“Iya Ma, ntar lagi Melati turun,” sahutnya.
Sambil keluar Mama berkata,” buruan lho!” Melati membalasnya dengan senyuman terbaiknya.
Lalu Mama berpindah ke kamar Dona karena beberapa kali di ketuk tidak ada jawaban, Mama langsung membuka pintu kamarnya dan mendapati Dona yang masih tertidur dengan sesekali terdengar suara Dona memanggil – manggil Mama kandungnya.
“Don! Dona! Dona sayang! Bangun Nak! Ini Mama di sini,” ucap Mama perlahan sambil menepuk – nepuk pipi kanan kirinya.
__ADS_1
“Mamaaa!!” Jerit Dona, kemudian tersadar lalu membuka kedua matanya dan melihat Mama angkatnya yang ada di depan matanya.
“Dona, kamu kenapa sayang?” tanya Mama dengan perasaan was – was.
Setelah Dona berhasil menenangkan dirinya, Dona langsung memeluk erat tubuh perempuan yang seumuran dengan Mama kandungnya.
Sambil menitiskan air mata Dona berkata, ”Ma, jangan pernah tinggalin Dona ya. Selamanya Dona akan tetap jadi anak Mama, kan?”
“Hei, sini lihat Mama. Sampai kapan pun Dona Olivia binti Hermawan akan tetap menjadi anak Mama. Dan tidak ada yang bisa merubah itu. Dan Mama juga tidak akan pernah meninggalkan kamu sayang. Kamu anak Mama,” tegas Bu Hilda sembari menyeka air mata yang mengalir di kedua pipi Dona.
“Ma, terima kasih untuk kasih sayang yang selama ini tercurah untuk Dona. Jika waktu itu tidak ada Mama dan Papa, mungkin Dona sudah jadi anak gelandangan tanpa kedua orang tua yang hidup di jalanan,” ucap Dona.
“Sssstt! Sampai kapan pun Mama akan selalu sayang sama kamu, apapun yang terjadi kamu tetap anak Mama dan Papa, juga kakak dari Melati. Kamu harus ingat itu,” tukas Mama. Dona pun mengangguk.
“Ya sudah sekarang buruan mandi, Mama tunggu di bawah. Kita makan bersama,” imbuh Mama.
“Iya Ma,”
Dona beranjak dari tempat tidurnya ke kamar mandi. Sementara Bu Hilda Suryo segera keluar dari kamar Dona. Namun sebelum keluar Bu Hilda melihat sebuah foto yang tergeletak di atas lantai di dekat keset depan pintu kamar Dona.
“Hmm.. apakah ini penyebab masalah antara Melati dan Dona?” batin Bu Hilda. Lalu menyimpannya dalam saku bajunya.
“Mana anak – anak Ma,” tanya Pak Heru Kemalya.
“Ada, sebentar lagi juga mereka turun,” jawab Bu Hilda sambil mengambilkan nasi ke piring suaminya.
Akhirnya yang di tunggu pun turun dari kamarnya.
“Kok sendiri? Kakak kamu mana? Biasanya juga kompakan,” tanya Pak Heru _ Papanya Melati.
“Tuh, orangnya nongol,” sahut Melati datar sembari mengambil nasi ke piringnya.
Papa dan Mamanya saling berpandangan lalu bergantian memperhatikan sikap kedua putrinya. Merek saling diam tak saling menyapa. Namun Pak Heru masih diam membiarkan makan malam mereka tertuntaskan lebih dahulu.
“Don, Mel.. nambah, ini enak lho sambal asam hasil ulekan tangan Mbok Suti. Buat nagih, ya kan Pa?” celetuk Bu Hilda di sela – sela makan mereka.
Namun tak satu pun dari mereka yang menjawab. Mereka tetap fokus dengan piring mereka masing – masing tanpa menghiraukan ucapan Mamanya. Pak Heru kembali memandang wajah kedua putrinya.
__ADS_1
Bu Hilda yang sudah faham betul dengan watak suaminya lalu mengelus lengannya, sembari menganggukkan kepalanya. Suaminya pun mengerti akan maksud istrinya. Dia pun ikut menganggukkan kepalanya.
Selesai makan biasanya mereka berkumpul di ruang keluarga. Terkadang mereka menonton film bareng, mendengarkan Melati memainkan biolanya, bermain game atau hanya sekedar ngobrol. Tapi kali ini suasananya berbeda. Melati dan Dona lebih memilih untuk kembali ke kamar mereka masing – masing.
Hanya Pak Heru dan Bu Hilda yang duduk di depan TV.
Lama saling diam, kemudian Pak Heru membuka percakapan, “Ma, panggil mereka kemari. Papa ingin bicara sama mereka.”
“Biar Mama saja yang menanyakan sama mereka, ada apa sebenarnya. Papa tidak boleh emosi, ingat darah tinggi Papa,” sahut Bu Hilda.
Bu Hilda bangkit dari duduknya dan berkata, “Oh iya, Papa mau ngopi?”
“Nanti saja Ma, Papa masih kenyang,” jawab Pak Heru.
Bu Hilda menemui Dona dan Melati di kamar mereka masing – masing. Menanyakan alasan mereka yang saling diam. Mereka pun menceritakan alasannya dengan versi mereka masing – masing.
Akhirnya Bu Hilda dapat menarik kesimpulan dan membuat keputusan untuk mereka berdua. Mendudukkan mereka di satu meja yang sama.
Setelah mereka berkumpul di balkon teras atas. Bu Hilda mengawali percakapan, “Semua ini hanya salah faham, karena kalian tidak berkomunikasi dengan baik. Jadi Mama minta sama kalian berdua untuk berdamai. Mama tidak mau lagi melihat aksi saling diam di antara kalian. Ngerti!” seru Bu Hilda.
“Tapi Ma,” ucapan Melati terpotong saat Mamanya mengangkat salah satu tangannya.
“Mama tidak mau mendengar alasan apa pun lagi! Mama hanya minta kalian berdamai, jangan sampai Papa kalian yang turun tangan,” sahut Bu Hilda.
“Iya Ma, semua ini salah Dona. Dona yang egois. Tidak seharusnya Dona bersikap seperti ini sama Melati,” ucap Dona.
Sambil mendekatkan diri ke Melati Dona berkata, “Mel, kamu mau kan maafin Kakak.”
“Makanya jadi orang tuh jangan baperan, jangan suka menyimpulkan sendiri tanpa mendengarkan orang lain!” sahut Melati yang masih kesal dengan sikap Kakaknya lalu pergi meninggalkan Mama dan Kakaknya.
Air mata Dona kembali membasahi kedua pipinya. Bu Hilda kembali memeluknya erat.
“Ma, sepertinya Melati tidak bisa memaafkan Dona. Dia sangat marah sama Dona,”
“Sudah, kamu tahu sendiri kan bagaimana adikmu itu. Toh nanti dia akan membaik sendiri. Beri dia waktu ya,” kata Bu Hilda, di balas dengan anggukan oleh Dona.
Bersambung....
__ADS_1