
Kini Melati telah berpisah dari keluarganya, penerbangannya menuju impiannya akan dimulai. Seorang pria yang sedang duduk di lobi tunggu keberangkatan memperhatikan Melati yang sedang melintas di depannya.
“Perfect!” kata pria itu spontan sembari tersenyum simpul.
Dia adalah Kevin Dhanu Atmadja, seorang mahasiswa dan juga bekerja sebagai fotografer muda pada sebuah majalah di Indonesia. Saat ini dia sedang berlibur ke rumah orang tuanya di kota Munich, Jerman.
Pesawat yang membawa Melati dan Kevin sudah lepas landas dari bandara. Kini mereka berdua berada dalam satu badan pesawat yang sama dan dengan tujuan kota yang sama pula. Hanya saja tempat duduk mereka yang tak sama. Melati mendapatkan tempat duduk di depan Kevin selisih jarak dua kursi.
Kevin selalu berusaha memperhatikan perempuan cantik yang tengah mengusik perhatiannya. Bahkan matanya tak lekat saat Melati berjalan menuju toilet. Manik matanya mengikuti kemana tubuh Melati bergerak.
Sampai – sampai penumpang yang duduk di sebelahnya merasa sedikit terganggu.
“Excuse me! Be calm please. You broke my concentrate.”
“Ops! I’m so sorry,” sahut Kevin sambil mengernyitkan dahinya.
Dengan terpaksa dia harus diam. Kemudian dia mengeluarkan kamera dari dalam tas yang di sandangnya saat ini. Sambil tersenyum dia memutar beberapa foto yang sempat di ambilnya saat di lobi bandara sebelum berangkat.
“You look so beautiful,” ucapnya lirih sambil terus memandangi wajah dalam foto tersebut. Membuat wanita bule paruh baya yang duduk di sebelahnya merasa tersanjung. Wanita yang awalnya jutek kini melemparkan senyuman manisnya kepada Kevin yang membuat Kevin jadi merinding.
Kevin hanya menyeringai menunjukkan susunan gigi – giginya sambil membatin, ”Sial gue! Ada apa dengan nenek lampir ini ya.”
Akhirnya setelah berada di udara selama kurang lebih tiga belas jam, pesawat landing dengan sempurna di Munich International Airport.
Kevin kembali mengedarkan pandangan ke semua arah, manik matanya seperti sebuah drone yang sedang berputar menangkap semua spot di setiap sudut tempat yang dapat di jangkaunya. Dan dia harus menyerah, karena pada akhirnya dia tidak dapat menemukannya. Dan dia memutuskan untuk segera mencari taksi menuju rumah orang tuanya.
Dia berdiri di pinggir jalan dan mendapatkan taksi yang beberapa menit di tunggunya. Dia pun meminta sopir itu untuk tidak segera melajukan mobilnya.
“Können wir kurz anhalten? Ich warte auf einen Freund." ujar Kevin.
__ADS_1
(“Bisakah kita berhenti sejenak? Saya sedang menunggu seorang teman,” ujar Kevin)
“Konnen. Aber wir konnen hier nicht zu langesthen bleiben. Kann bestraft werden,” tutur sopir taksi itu.
(“Bisa. Tapi kita tidak bisa terlalu lama berhenti di sini. Bisa kena sanksi,” tutur sopir taksi itu.)
“OK! Ich verstehe.”
(“Baiklah saya mengerti.”)
Tiba – tiba saja Melati membuka pintu mobil taksi yang sedang terparkir di dekat pintu masuk bandara. Satu – satunya mobil taksi yang ada saat itu. Dan Melati tidak mengetahui jika taksi tersebut sudah ada penumpangnya.
Dia membuka pintunya, lalu di lihatnya seorang pria tampan sudah duduk di dalamnya. Melati pun terkejut dan merasa bersalah, “Oh! Sorry.”
Melati menutup kembali pintu mobilnya dan mundur ke belakang beberapa langkah. Tapi secepat kilat Kevin langsung turun dan mendatangi Melati.
“Hai! Kamu dari Indonesia?” tanya Kevin.
“Kalau kamu mau bisa kok satu taksi dengan saya. Dan saya akan antar kamu sampai tujuan,” terang Kevin.
Melati tampak berpikir sejenak. “Sudah nggak perlu takut, saya bukan orang jahat kok,” ucap Kevin tersenyum.
Entah kenapa Melati merasa nyaman meskipun ini adalah pertemuan pertama mereka. Dengan pasti Melati mengangguk dan ikut bersama Kevin. Sepanjang perjalanan mereka saling berkenalan, “Nama saya Kevin Dhanu Atmadja.” Dan Melati membalas, “Melati Kemalya,” sahut Melati.
Akhirnya mereka bercerita banyak hal seakan sudah lama saling mengenal, terlihat akrab tanpa rasa canggung.
Kevin mengantarkan melati ke kantor Kedutaan Indonesia untuk Jerman. Disana sudah menunggu seorang laki – laki yang akan memandu Melati selama berada di Jerman. Laki – laki itu juga merupakan utusan dari kampus Melati di Bandung.
“Mm, Maafkan saya Melati. Seharusnya saya yang menjemput kamu di bandara tadi. Cuma karena..,” ucapan laki – laki itu terhenti di potong oleh Melati.
__ADS_1
“Sudah nggak papa kok, untung saja ada Mas Kevin yang mau nganterin saya ke sini,” sahut Melati sambil melemparkan senyumnya pada Kevin.
“Dan buat Mas Kevin, terima kasih banyak sudah mau nganterin saya,” tutur Melati.
“Nggak papa kok, Mel! Justru saya sangat bahagia sekali bisa nganterin kamu. Bahagia banget malah,” sahut Kevin tersenyum indah.
“Mel! sepertinya saya harus pamit dan nanti jika kamu butuh sesuatu kamu bisa call saya,” ujar Kevin.
“Oh pasti Mas, tapi saya harus menghubungi kemana ya,” ucap Melati dengan nada sedikit meledek. Keduanya pun tertawa karena pada dasarnya mereka memang belum saling bertukar nomor handphone.
Kemudian Kevin pamit dan segera menghilang dari pandangan Melati. Dan Melati mengikuti pembimbingnya. Pembimbingnya menjelaskan beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh Melati.
Universitas yang di tuju Melati adalah salah satu universitas ternama yang ada di Jerman tepatnya di kota Munich. Ludwig Maximilians University (LMU) Munich, berdiri pada tahun 1472. LMU adalah sebuah institusi pendidikan tinggi yang berlokasi di kota München, Bavaria. Terakreditasi/diakui secara resmi oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya, Sains dan Seni Bavaria, LMU adalah universitas besar yang telah berumur 545 tahun dan menawarkan beragam program gelar seperti bachelor/S1, master/S2, dan doktorat/S3 untuk berbagai bidang studi. Universitas ini menerima mahasiswa internasional yang berhasil lolos ujian masuk dan menyediakan beragam fasilitas seperti perpustakaan, fasilitas/ aktifitas olah raga, kesempatan studi ke luar negeri dan pertukaran mahasiswa.
Dan Melati merasa sangat bersyukur dan bangga bisa menjadi salah satu bagian dari masyarakat belajar di universitas tersebut.
Kini Melati diajak berkeliling – keliling mengenal tempat barunya untuk belajar menimba ilmu dan memperluas pengetahuannya. Inilah dunia baru Melati sekarang. Dia berdiri tegak di depan pintu kampusnya yang baru. Dengan kedua tangannya memegang tali ranselnya di bagian depan sisi kanan dan kiri menatap takjub bangunan tua di hadapannya saat ini, dia menundukkan kepalanya sesaat melihat kedua ujung kakinya sebelum akhirnya ia memantapkan langkah kakinya menyusuri setiap sisi dari bangunan tua itu.
“Aku akan berusaha menaklukkan mu!” ucapnya dalam hati saat berhenti memandang bagian ujung tower atau menara bangunan kampusnya.
Melati pun melanjutkan perjalanannya kembali mengikuti sang guide.
“Mel! Nanti kamu akan ikut bergabung dengan rekan – rekan mahasiswa lainnya yang berasal dari Indonesia, dan biasanya mereka berkumpul di ruang kelas yang di sebelah pojok sana,” ucap pemandu itu sambil menunjukkan ruangannya.
“Oke baik Kak,” jawab Melati.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Masih Bersambung ya....
Jangan lupa selalu tinggalkan LIKE, Komen, Vote juga atau gift jika berkenan 😍😍