
“Mas! Kamu kenal nggak? Kok diam sih?!” desak Melati ingin tahu.
“Mm..nggak, cuma pernah dengar namanya aja.”
“Pernah dengar?! Dari siapa?” tanya Melati antusias.
Kevin berpikir sejenak untuk mencari jawaban yang tepat. Karena sejujurnya dia tidak ingin memberi tahu Melati yang sebenarnya.
“Mm, aku kan seorang fotografer dan aku juga adalah seorang mahasiswa jadi punya banyak teman. Baik cewek maupun cowok. Jadi sepertinya aku pernah dengar nama itu disebut, dan siapa yang menyebutnya juga aku kurang tahu pasti,” kilah Kevin untuk menghindari pertanyaan – pertanyaan yang bakalan menyusul berikutnya.
Melati mencoba mencerna kata – kata Kevin, lalu menganggukkan kepalanya membenarkan jawaban Kevin.
“Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu ya, Mas.”
Melati berdiri dari duduknya kemudian melangkahkan kaki ke kamarnya mengambil handuk menuju kamar mandi yang ada di belakang dekat dapur. Tak lupa ia membawakan handuk satu lagi untuk Kevin.
“Mas, ini handuk buat kamu.” Melati memberikan handuk berwarna abu – abu tua pada Kevin.
“Sayang... boleh bareng nggak?” goda Kevin sambil tersenyum genit.
“Haiissshhh! Apaan sih Mas?!” sahut Melati sambil tersenyum lalu pergi dengan langkah kaki seribu.
Kevin pun tertawa geli Melihat ekspresi yang ditunjukkan kekasihnya.
Setelah Melati selesai, kini giliran Kevin yang masuk ke kamar mandi. Saat Melati tengah berbenah diri, samar terdengar suara yang menyebut – nyebut namanya.
“Melati! Melati! Melati!,” teriak Kevin memanggil nama Melati.
Melati pun mencoba menajamkan pendengarannya dengan baik. Lalu ia tersadar dengan suara yang sudah sangat familiar di telinganya. Ia pun segera berlari menuju ke sumber suara.
“ Ada apa sih, Mas? Teriak – teriak begitu!” tanya Melati.
“Tolong ambilkan handuknya, aku lupa membawanya,” jawab Kevin dari dalam kamar mandi.
“Mel! Kamu harus waspada. Ini adalah salah satu modus cowok untuk bisa mengelabui cewek, padahal sebenarnya dia punya niat yang lain yang sedang ia jalankan. Oke! Kalau begitu. Maaf Mas Melati tidak akan mudah tertipu,” monolognya.
Melati berpura – pura tidak melihat handuk yang diberikannya tadi. Padahal benda itu sudah berada si ruangannya. Namun ia masih berfikir keras.
“Kalau aku langsung memberikannya pada Mas Kevin, bisa saja dia langsung menarik tanganku dan mengajaknya masuk ke dalam. HMmm..,” pikir Melati sembari menggelengkan kepalanya.
“Mas! Dimana kamu taruh handuknya tadi,” ucap Melati sedikit berteriak.
“Masih di dekat meja tadi!” Kevin menjawab dengan jujur dengan suara bassnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Melati mengetuk pintu kamar mandinya dan berteriak memanggil Kevin.
“Mas! ini handuknya,” ucap Melati yang berdiri di samping pintu tanpa melihat sedikitpun.
“Mel! Yang benar dong, mana handuknya? Tanya Kevin seraya meraba – raba dimana posisi handuk itu.
Tentu saja itu membuat mata Melati langsung terbelalak, ia membuka sebelah matanya yang tertutup. Ternyata handuk yang diletakkan di ujung gagang sapu itu terjatuh hanya gagang sapunya saja yang disodorkan Melati.
Cepat – cepat Melati mengambil kembali handuknya, namun saat ia membungkukkan diri untuk mengambil handuknya, pintu kamar mandinya masih terbuka sedikit, karena Kevin menunggu benda itu benar – benar diberikan di atas tangannya. Tiba – tiba saja Melati berteriak, “Tidaaaaakkk!!” dan Melati langsung berlari kembali masuk ke dalam kamarnya.
Mendengar teriakan Melati membuat Kevin terkejut lalu mengeluarkan kepalanya untuk melihat situasi. Lalu ia mengambil handuk yang terjatuh tadi dan segera melihat keadaan Melati karena dia merasa khawatir terjadi sesuatu padanya.
“Astaghfirullah! Apa tadi yang barusan aku lihat.. Ya Allah ampunilah dosa hambaMu ini. Bukan niatku untuk melihat, tapi tak sengaja..,” racau Melati dalam hatinya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Lagi – lagi Melati berteriak karena terkejut mendengar suara Kevin yang menyapanya.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Kevin Panik.
Melati merenggangkan salah satu jarinya untuk mengintip keberadaan Kevin tapi dia langsung menjerit dan membuat Kevin semakin bingung.
“Haaaaaaa!!!! Mas, keluar please,” pinta Melati dengan nada lembut ia mengiba.
“Sa... .”
“Hei! What’s wrong with you. Kamu kenapa?! Jangan buat aku panik.”
Melati tak menjawab, ia hanya menunjuk ke arah Kevin dengan kedua mata yang masih tertutup. Lantas Kevin pun ikut memperhatikan dirinya dari atas sampai ke bawah, meskipun awalnya dia merasa bingung namun pada akhirnya dia pun mengerti dengan apa yang di maksud oleh Melati. Lalu ia tertawa terbahak – bahak.
“Haa..haa...haaa........, sayang sayang. Aku pakai handuk dan aku juga pakai boxer. Mau lihat, Hah?!” Kevin mendekat ke Melati seraya membuka handuk yang menutupi sebagian dari tubuhnya.
Perlahan Melati memercingkan sebelah matanya yang tertutup. Setelah dia yakin baru disusul oleh mata yang satunya.
“Hmm, kamu tuh ya pikirannya mesum,” tukas Kevin sambil menggelengkan kepalanya.
“Kok aku?! Kamu tuh yang mesum! Kamu sengaja kan buka pintu kamar mandi tadi, biar kelihatan sama aku. Hayo ngaku!” cerocos Melati dengan galaknya.
“Ya jelas aku buka pintu dong, kan aku minta ambilkan handuk. Kalau pintunya nggak di buka, gimana dong ngasihnya? Terus kenapa ada sapu dan handuk di lantai? Hmm, aku tahu nih. Kamu ngintip aku, kan?” tuduh Kevin dengan senyum nakalnya menggoda Melati.
“Hiisssh! Tidak! Asal kamu tahu ya Mas, gara – gara kamu kesucian mata ini aku jadi ternoda.”
“Kok bisa?!”
“Ya iya lah, kamu mandi tanpa....,” suara Melati tercekat di tenggorokannya, membuatnya menelan air salivanya agar tidak sesak.
__ADS_1
“Oh...aku tahu sekarang, jadi kamu lihat..,” ucap Kevin mendekatkan diri ke Melati sambil melihatnya nakal.
“Lihat apa?” sahut Melati sambil meringkukkan tubuhnya dan menutupi wajahnya dengan bantal.
Kevin semakin tergelitik untuk terus menggodanya.
“Sayang..” bisik Kevin ditelinga Melati membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Sementara Kevin sudah siap dengan pakaian rapi.
“Wake up lah, katanya mau ke Perpus. Jadi tidak?” imbuh Kevin.
Perlahan Melati menurunkan bantal yang menutupi wajahnya. Dan dia terheran karena melihat Kevin sudah berpakaian rapi.
“Sejak kapan Mas Kevin sudah mengenakan pakaiannya?” monolog Melati sambil mengernyitkan dahinya.
“Kamu kira aku lelaki murahan yang dengan mudahnya coblos sana coblos sini?! It’s not me, okay. So come on, just wake up. We’ll late to get there.”
Kevin melangkah keluar dari kamar Melati sambil menghela nafas keras. Akhirnya Melati pun berdiri dan segera bersiap diri. Namun ia jadi merasa tak enak hati karena tingkahnya. Ia sudah menilai Kevin buruk.
Setelah kedua sejoli itu bersiap, mereka keluar dari rumah dan segera pergi menaiki mobil yang akan membawa mereka ke Perpustakaan.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya saling diam, pandangan Kevin tetap lurus fokus ke depan. Melati semakin merasa bersalah. Duduknya pun tak tenang, seperti sedang duduk di atas bara api yang sedang marak – maraknya.
Sesekali Kevin meliriknya dari sudut ekor matanya. Namun tak sampai hati juga ia melihat Melati yang tampak gelisah, serba salah.
“Kamu kenapa? Diam saja begitu, masih berfikiran kalau saya ini jahat?” terka Kevin sambil terus menyetir.
Melati hanya menggeleng lalu berkata, “Mas, saya.. minta maaf ya. Saya...”
“Minta maaf??”
Bersambung...
Happy Reading... semoga bisa bermanfaat dan menghibur, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya..
Like
Content
Rate ⭐ 5
gift
jg Vote
__ADS_1
thank you. 😍😍