
Keributan yang terjadi semalam di kampus berakhir dengan damai. Di ruang sekretariat, dengan bijaksana Aris mampu menyelesaikan perseteruan antara Fiona dan Melati hingga membuat keduanya saling berjabat tangan tanpa ada yang merasa dirugikan.
Hal inilah yang membuat orang suka kepada Aris, bukan hanya dari sisi ketampanan yang dimilikinya tetapi juga kepiawaiannya dalam menyelesaikan setiap permasalahan tanpa ada kegaduhan. Banyak kaum hawa yang mengidolakan Aris, tanpa terkecuali Dona.
Namun Dona tidak seperti cewek – cewek kebanyakan, yang berani secara terang – terangan menyatakan cinta pada Aris tanpa rasa malu sedikit pun. Tapi Melati dapat menangkap sinyal dari tatapan mata Dona saat memandang Aris yang tidak seperti biasanya.
Pagi ini mereka berdua berangkat bareng ke kampus, dengan mobil dinas pemberian papanya. Mobil yang di khususkan untuk mengantar _ jemput mereka lengkap dengan sopirnya.
Sepanjang perjalanan menuju kampus Melati berusaha menggoda kakaknya yang selalu menyempatkan diri membaca modul perkuliahannya.
“Kak..” panggil Melati.
“Hmmm,” sahut Dona sambil terus membaca.
“Aris itu tampan ya? Berwibawa, kharismatik, baik lagi,” ucap Melati berusaha mencari tahu pendapat kakaknya.
Mendengar nama Aris, seketika Dona menghentikan bacaannya lalu melanjutkannya kembali tanpa memberikan komentar apapun. Tapi Melati belum menyerah untuk mengetahui bagaimana perasaan kakaknya.
“Perempuan yang bisa memenangkan hatinya pasti sangat beruntung, memiliki kekasih seorang Aris,” imbuh Melati sambil tersenyum melirik ke arah Dona.
Pipi Dona merona saat mendengar ocehan adiknya, jantungnya mulai berdetak tak menentu. Namun tetap berusaha setenang mungkin untuk menutupi perasaannya.
“Kamu suka?” tanya Dona tanpa memalingkan pandangannya dari modul yang sedang ia baca.
“Kalau kakak sendiri gimana, suka?” tanya Melati sembari menyenggol lengan Dona.
“Apaan sih malah balik tanya,” dalih Dona yang semakin tidak dapat menyembunyikan rona pipinya yang semakin memerah dan membuat Melati semakin bersemangat menggoda kakaknya.
“Sssssttt! Suka nggak?” tanya Melati lagi sambil bertopang dagu memandang wajah kakaknya.
“Apaan sih Mel..,” sahut Dona yang tampak tersipu malu.
“Suka?” goda Melati lagi sambil mesam – mesem.
__ADS_1
“Kalau suka bilang suka, Non. Nanti keburu di ambil orang, bisa – bisa nyesal seumur hidup lho,” Pak Man ikut menimpali ucapan Melati.
“Pak Man...,” sahut Dona manja.
“Udah ya, tidak perlu pembahasan. Dan sekarang kita sudah sampai, jadi adikku yang cantik, baik hati dan tidak sombong..kakak duluan ya..bye,” ucap Dona yang dalam sekejap sudah menghilang dari pandangan Melati.
Melati kenal betul karakter kakak angkatnya itu. Dia tidak ingin terlihat sangat akrab dengan Melati ketika berada di lingkungan sekolah. Dia tidak ingin di anggap sebagai parasit oleh orang yang tahu tentang statusnya di keluarga Kemalya, yang hanya memanfaatkan kedekatannya dengan Melati untuk bisa ikut menikmati kekayaan orang tua Melati.
Dan Melati sangat menghormati keputusan Dona yang seperti itu. Sehingga dia berusaha untuk sedikit menjaga jarak ketika sedang di kampus.
Hari ini adalah hari kedua Melati ke kampus, dan masih dalam masa OSPEK. Mereka kembali dikumpulkan di ruang aula sesuai dengan kelompoknya untuk mendapat pengarahan dari kakak – kakak pembimbing.
Kebetulan dari daftar yang sudah ditentukan sebelumnya, Fiona mendapat tugas sebagai pembimbing kelompok Socrates. Dimana Melati termasuk dalam kelompok tersebut. Dona yang mengetahui hal itu merasa sedikit khawatir terhadap Melati. Karena Dona tahu bagaimana perangai Fiona.
Jadi, dia mengajukan permohonan kepada Aris selaku ketua panitia untuk mengganti petugas pembimbing kelompok tersebut.
“Mmm, Kak maaf mengganggu sebentar boleh?” tanya Dona dengan sedikit gugup.
“Ya silahkan Don. Ada apa?” jawab Aris.
“Memangnya kenapa? Ada masalah?’ tanya Aris kepada Dona sambil melihat daftar petugas pembimbing kelompok.
“Ya bukannya begitu, cu-ma... kakak kan tahu sendiri kalau Fiona semalam baru bertengkar dengan Melati. Dan kakak juga tahu kan bagaimana Fiona, dia tidak akan mengalah begitu saja. Pasti dia akan melakukan sesuatu yang buruk kepada Melati,” terang Dona.
“Sepertinya kamu khawatir sekali dengan keselamatan Melati. Memangnya apa hubungan kamu dengannya?” selidik Aris.
“Emm.. ya khawatir saja, karena Melati itu adalah anak baru di kampus kita. Dan seandainya terjadi sesuatu yang buruk terhadap Melati karena kembali bertengkar dengan Fiona kemudian orang tuanya tidak terima, bagaimana? Kan kampus kita juga yang jelek,” ucap Dona berusaha meyakinkan Aris.
“Bener juga, sih. Tapi kamu jangan khawatir itu tidak akan terjadi. Bisa saya pastikan Fiona tidak akan melakukan sesuatu di luar batas yang dapat mempermalukan almamater kita. Jika itu sampai terjadi, maka saya tidak akan tinggal diam,” tutur Aris sambil menepuk pundak Dona.
Dona akhirnya merasa sedikit tenang setelah mendengar penjelasan yang diberikan Aris. Dan Dona kembali berkumpul bersama rekan - rekan sesama pembimbing. Kemudian masing – masing pembimbing memberikan arahan kepada kelompoknya masing – masing.
Kini giliran Fiona memberi arahan pada kelompok Socrates.
__ADS_1
“Baiklah adik – adik semuanya, tugas kalian kali ini adalah mengumpulkan tanda tangan seluruh kakak – kakak senior yang menjadi pembimbing OSPEK tahun ini, secara berpasangan. Tetapi sebelum itu, silahkan di kumpul tugas kalian yang saya sampaikan semalam,” tutur Fiona.
“Baru tahu rasa kamu Melati! Aku akan memberi balasan yang setimpal dengan apa yang sudah kamu lakukan kepadaku semalam. Sangat menyedihkan pastinya,” gumam Fiona membatin sambil tersenyum sinis kepada Melati.
Melati tampak kebingungan, karena dia tidak mengetahui sama sekali tugas yang diberikan Fiona. Karena pada saat itu melati sedang membersihkan ruangan sekretariat sebagai hukuman karena terlambat.
“Melati Kemalya! Mana tugas kamu? Kenapa belum dikumpulkan?” tanya Fiona membentak.
“Maaf kak, saya tidak tahu jika ada tugas dari kakak. Karena saat itu saya sedang membersihkan ruangan sekretariat dan ketika saya selesai anak – anak sudah pada bubar, dan kakak juga tidak memberikan informasi itu kepada saya,” jawab Melati membela diri.
“Oh, jadi kamu menyalahkan saya!” bentak Fiona kepada Melati.
Karena suara sofran Fiona, membuat beberapa pembimbing menoleh termasuk Dona. Dona hanya bisa memperhatikan dari jarak jauh.
“Yang lain boleh bubar, kecuali kamu Melati Kemalya! Kamu harus mengumpulkan tugas kamu terlebih dahulu baru kamu bisa melanjutkan tugas berikutnya, ngerti! Waktu kamu hanya 15 menit dari sekarang,” kata Fiona.
“Baik kak,” sahut Melati.
Sambil berjalan Melati berfikir dari mana dia bisa mendapatkan kulit jengkol dalam waktu 15 menit sesuai jumlah namanya. Sementara saat ini bukan musimnya. Bersyukur Melati mendapatkan partner yang baik hati.
“Mel! Ini untuk kamu,” ucap partner_nya sambil menyodorkan bungkusan plastik berwarna biru kepada Melati.
“Oh iya, aku Feby,” imbuhnya lagi.
Melati masih bengong menerima bungkusan dari Feby. Kemudian perlahan membuka bungkusan itu. Dia pun melompat kegirangan setelah melihat isi dari bungkusan itu kemudian memeluk tubuh Feby.
“Aku Melati,” ucap Melati riang sambil mengulurkan tangan kanannya.
“Terima kasih banyak ya, kamu penyelamatku Feby..,” kembali Melati memeluk Feby yang memiliki tubuh over size.
Melati tidak lagi berlama – lama, dia segera mengumpulkan tugasnya kepada Fiona. Tentu saja ini membuat Fiona sangat kesal, karena dia gagal mengerjai Melati.
“Jadi sekarang saya bisa melanjutkan tugas saya berikutnya, kan Kak?” tanya Melati sambil tersenyum penuh kemenangan. Fiona hanya mengangguk dengan tatapan sinis kepada Melati.
__ADS_1
Bersambung....