
Dengan mata yang masih belum terbuka sempurna, Bu Hilda berjalan menuruni anak tangga dan berniat untuk mengambil air minum di dapur.
Matanya menjadi awas seketika saat mendengar suara – suara berisik namun masih samar sampai ke telinganya. Bu Hilda menajamkan pendengarannya sambil berjalan mengendap – endap. Kemudian mengambil sebuah gagang sapu yang ada di dapur.
Dengan sangat hati – hati Bu Hilda terus berjalan sambil memasang kuda – kuda dan mengedarkan pandangannya ke semua arah.
“Awas saja kalau sampai ketangkap habis kamu aku bantai!” gumam Bu Hilda dalam hatinya.
Sesampainya di ruang TV tiba – tiba Bu Hilda berteriak, “Hiiaaaaaattch......!”
Bu Hilda membelalakkan kedua bola matanya sambil memonyongkan bibirnya. Lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Ternyata hanya suara TV dan tak seorang pun ada di situ.
“Hmm...ini pasti kerjaan Melati. Kebiasaan deh!” omel Bu Hilda sambil mengambil remote lalu menekan tombol off dengan kesal.
Kemudian Bu Hilda berbalik hendak kembali ke kamarnya. Lalu di lihatnya pintu ke arah balkon samping masih terbuka.
..."Masya Allah, Melati!!” jerit Bu Hilda dalam hati sambil mendenguskan nafasnya....
Bu Hilda berjalan mendekati pintu dan bermaksud akan menutup lalu menguncinya, namun di lihatnya ada bayangan hitam yang sedang duduk termenung. Bu Hilda mendekatinya pelan – pelan, dengan gagang sapu yang masih lekat di tangannya.
“Astagfirullah.., Melati!!! Ngapain kamu di sini?” tegur Mamanya.
“Mama! Ngejutin aja.”
“Lagian kamu tuh, ngapain coba bengong sendirian begitu. Kamu tahu sekarang jam berapa?”
Melati hanya menggelengkan kepalanya.
“Jam 11 malam Melati..., udah ayo sekarang masuk,” suruh Bu Hilda sambil menarik lengan Melati.
Melati masih antara sadar dan tidak, sambil berjalan dia melihat Mamanya yang masih melanjutkan omelannya.
“Kamu kenapa? Punya masalah? Cerita sama Mama.”
Melati menepuk – tepuk pipi kanannya, mengucek – kucek matanya berusaha meyakinkan diri kalau yang dilihatnya beneran Mamanya.
“Nggak ada Ma, ternyata cuma khayalan Melati saja,” sahut tersenyum lebar.
Mamanya hanya menghela nafas panjang.
“Kamu tuh ada – ada aja Mel. Udah ah! Mama balik lagi ke kamar. Kamu juga, tidur udah malam,” ucap Bu Hilda sambil mengayunkan langkah kakinya menaiki anak tangga. Di susul oleh Melati.
Melati masuk ke dalam kamar. Lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Menarik selimut hingga menutupi setengah dari badannya. Tak lupa “Si Mochi” dalam pelukannya.
Kini Melati dapat tidur dengan nyenyak, karena kejadian tadi ternyata hanyalah permainan di bawah alam sadarnya.
__ADS_1
***
Jam weaker Melati berdering kencang tepat pukul 4.30 WIB. Kini pagi telah datang menyapa seluruh umat yang ada di muka bumi. Suara adzan kembali berkumandang, membangunkan hamba – hamba yang terlelap dalam tidurnya.
Melati membuka matanya, dengan rasa malas tangan kanannya meraba – raba mencari jam weaker_nya. Dan mematikannya setelah tangannya berhasil mendapatkannya.
Melati merentangkan kedua tangannya, menggeliat ke kanan dan ke kiri untuk merefleksikan kembali otot – otot yang baru saja beristirahat dari aktifitasnya.
Melati bangun lalu ke kamar mandi untuk mengambil wudhu kemudian melaksanakan kewajibannya.
Seperti biasanya Melati selalu menyempatkan diri untuk berolahraga minimal lima belas menit setelah selesai sholat subuh. Dengan tujuan untuk menjaga kebugaran dan stamina tubuhnya.
Seulas senyum tersungging di sudut bibir Melati saat Dona melintas dari depannya.
“Rajinnya tuan putri, takut ndut ya?” ledek Dona sambil berjalan membawa secangkir teh panas menuju ruang TV.
Melati sama sekali tidak menggubris ledekan Dona. Dia tetap fokus menyelesaikan gerakan – gerakannya sampai tuntas. Kemudian dengan membawa sebotol air mineral di tangannya ia bergabung dengan Kakaknya.
“Olah raga itu penting Kak, untuk kesehatan. Dan juga baik untuk tubuh jadi kita harus senantiasa melakukannya meskipun cuma sebentar,” ucap Melati sembari meneguk air dalam botol yang ada di tangannya.
“Iya bu guru..,” sahut Dona sambil tersenyum.
“Justru Bu Dokter nih yang harus rajin olah raga, ini malah kebalik.”
“Senang ya Bu, Non Dona sama Non Melati selalu seperti itu sejak kecil. Sama – sama saling menyayangi,” ucap Mbok Suti yang ikut memperhatikan kedua gadis yang sedang beradu argumen di ruang TV.
Tak lama kemudian Melati pun meninggalkan Dona seorang diri. Dia sedikit berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Setelah beberapa menit kemudian Melati sudah kembali lagi ke bawah.
Papa, Mama dan juga Dona sudah menunggu Melati di meja makan. Namun sepertinya Melati tak punya banyak waktu untuk menghabiskan sarapannya.
Dia membawa rotinya sebagai bekal makan di dalam mobil.
“Mel! Minumnya nih..,” kata Bu Hilda sedikit mengeraskan suaranya melihat Melati yang terburu – buru pergi.
Dengan berlari Melati kembali untuk mengambil botol minumnya yang tertinggal.
“Dah Mama, dah Papa.. Dah Kak Dona.” Melati kembali terburu – buru.
Semua orang hanya tertawa geli melihat Melati.
“Memangnya dia mau kemana sih, sampai segitunya,” tanya Pak Heru.
“Sebenarnya hari ini Melati ada test, Pa.”
“Test?” ucap Pak Heru dan Bu Hilda.
__ADS_1
“Mm,” angguk Dona sambil menghaluskan makanannya.
“Memangnya penting banget ya Kak?” Tanya Bu Hilda.
“Sebenarnya Melati mengikuti program pertukaran mahasiswi ke Jerman, Ma Pa. Dan dia sudah melewati dua tahapan, dan sekarang adalah tahapan terakhir,” jelas Dona.
“Jerman? Tapi kenapa dia nggak pernah cerita ke Mama coba?” ucap Bu Hilda.
“Sebenarnya pun Melati minta sama Dona untuk merahasiakan ini sampai dia lulus. Ya mungkin mau kasih kejutan ke Mama dan Papa,” tutur Dona tersenyum sembari mengangkat kedua alisnya.
“Pa..kalau sampai Melati lulus test berarti Melati.... Melati meninggalkan kita dong,” ucap Bu Hilda sedih.
“Ya bagus dong. Berarti anak Papa hebat bisa lulus test begitu,” sahut Pak Heru dengan tenangnya.
“Papa ih!” ucap Bu Hilda kesal.
Dona hanya tersenyum manis melihat kedua orang tuanya berlainan pendapat.
Setelah Pak Heru berangkat ke kantor, tinggal Bu Hilda dan Dona.
Dengan semangat Bu Hilda merawat koleksi bunga – bunganya, dan yang menjadi favoritnya adalah jenis anggrek. Bu Hilda memiliki berbagai macam jenis tanaman anggrek yang tertata rapi di halaman samping rumahnya dan ada pula di teras balkon kamarnya.
Dona berjalan mendekati Mamanya. Jarang sekali dia menemani Mamanya merawat bunga – bunga kesayangannya.
“Pantesan aja bunganya selalu bermekaran indah begini, ternyata diajakin ngomong juga sama Mama?” cetus Dona.
Bu Hilda sambil menyemprot tanaman dengan spayer menjawab, “Bunga – bunga ini juga makhluk hidup sama seperti kita, Dan dia akan tumbuh subur jika kita perlakukan dia seperti layaknya makhluk hidup.”
“Hm..bener juga sih kata Mama.”
“Oh iya Kak, nanti temenin Mama ya?”
“Kemana Ma?”
“Mama mau beli sesuatu untuk acara amal arisan Mama nanti.”
“Boleh,” sahut Dona.
Mereka pun semakin asik dengan tanaman – tanaman koleksi Bu Hilda.
Bersambung...
Selalu tinggalkan jejak yaa
Thank You. 😍😍😘
__ADS_1