
Karena tidak berhasil mendapatkan informasi yang diinginkan dari Melati, Aris mencoba untuk menemui Dona yang tentunya lebih mudah karena mereka satu fakultas meski berbeda kelas.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Orang yang diharapkan melintas dari pandangan tidak terlalu jauh.
“Don! Dona!” teriak Aris memanggil Dona.
Namun sayang Dona kurang memperhatikan dan tidak menggubris teriakan itu. Karena dia memang tidak mendengarnya.
Tapi semakin lama Dona merasa seperti ada yang memanggil - manggil namanya. Dona pun menoleh mencari sumber suara itu berasal.
“Dona!” panggil Aris lagi.
“Kak Aris! Mau apa dia?” gumam Dona pelan.
Dengan nafas sedikit tersengal – sengal karena lari Aris berkata, “Duh! Kamu tuh ya, susah banget di temui.”
“Oh ya? Memangnya Kak Aris mau perlu apa sampai sampai harus mencari saya segala,” sahut Dona sembari tersenyum.
“Hari ini kelas penuh enggak?” Tanya Aris.
Dona menggelengkan kepalanya lalu bertanya, “Memangnya kenapa, Kak?”
“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama kamu, nanti habis kelas aku jemput ya, mau kan?” tanya Aris serius. Dan dibalas anggukan oleh Dona.
“Ya udah kalau gitu aku ke kelas dulu ya Kak,” pamit Dona sambil mengayunkan langkah kakinya meninggalkan Aris yang masih berdiri memperhatikan Dona.
Tentu saja hal itu membuat Dona sedikit canggung, sambil melangkah sesekali Dona menoleh ke belakang dan mendapati Aris masih berdiri di posisinya. Membuat Dona harus menganggukkan kepalanya kembali dan di balas senyuman oleh Aris.
Waktu berlalu, berganti dari detik ke menit dan dari menit ke jam. Akhirnya Aris harus menunggu beberapa menit di depan kelas Dona.
Sambil setengah berlari Dona menghampiri Aris.
“Maaf ya Kak udah buat Kakak menunggu,” sesal Dona.
“Ah nggak.. ya sudah sekarang kita cari tempat yang nyaman ya untuk ngobrol. Nih pakai helmnya,” ucap Aris.
Dona pun naik ke atas sepeda motor yang sudah di starter Aris setelah ia memakai helmnya. Sepeda motor pun melaju menuju ke sebuah tempat yang tidak jauh dari lokasi Kampus mereka.
Sebuah cafe tempat nongkrong anak – anak muda umumnya, yang menyuguhkan suasana sejuk yang dapat memberikan ketenangan bagi setiap pengunjungnya.
Memang cafe itu tampak sederhana sekali jika di lihat dari tampilan luarnya. Namun jika kita menelisik lebih jauh ke dalam, cafe itu bisa memberikan kemewahan interior yang kentara yang dapat memanjakan setiap pasang mata yang memandangnya.
Aris sengaja memilih tempat yang tidak terlalu ramai, dia memilih bagian pojok belakang yang hanya menyediakan beberapa meja dan kursi saja. Bisa di katakan setengah dari kelas privat room.
“Don, mau minum apa?” tanya Aris sembari membuka – buka daftar menu yang disajikan oleh pelayan cafe.
“Hot Chocolatte Coffee satu,” sahut Dona.
__ADS_1
“Black Tea Macchiato satu,” ucap Aris.
“Ada yang lain, Mas?” tanya pelayan itu.
“Nggak mbak itu saja dulu,” jawab Aris.
“Baik, mohon tunggu sebentar ya Mas, Mbak,” tutur pelayan itu lagi.
Aris dan Dona menganggukkan kepalanya sembari melemparkan seyumannya.
Suasana hening tak satu pun di antara mereka yang bergeming. Rasa canggung menguasai diri Dona, irama degub jantungnya mulai tak berirama manakala Aris memandang wajah manis Dona. Rona pipinya juga sudah mulai tampak merona.
“Duh, Dona. Kenapa jantung loe berdetak lebih kenceng begini?? Tarik nafas dari hidung, lalu buang dari mulut. Pelan - pelan loe pasti bisa,” ucapnya dalam hati mencoba menenangkan dirinya.
“Kenapa Don, nggak suka ya?” tanya Aris memecah ketegangan di antara mereka.
“Suka, tempatnya juga enak. Sejuk malah,” sahut Dona sambil mengepak – ngepakkan tangan seperti orang yang sedang kepanasan.
“Katanya sejuk tapi kok...,” ucapan Aris terpotong karena minuman yang pesan sudah datang.
“Silahkan Mas, Mbak,” kata pelayan itu mempersilahkan dengan ramah.
“Makasih ya Mbak,” balas Dona dengan ramah.
Pelayan itu menganggukkan kepalanya sembari menyunggingkan senyum dibibirnya.
“Kak!”
“Don!”
Ucap mereka secara bersamaan. Kelakar terdengar..
“Ya sudah ladies first,” ucap Aris.
“Aku Cuma mau tanya, apa sebenarnya yang ingin Kakak tanyakan,” jawab Dona
“Oh iya,... Mmm apa benar kamu dan Melati Kakak beradik?” tanya Aris yang masih penasaran.
Dona mengangguk dan berkata, ”Iya benar Kak.”
“Lalu kenapa kalian merahasiakannya? Apa kalian malu jika bersaudara?” cecar Aris pada Dona.
“Bukan begitu Kak, kita punya alasan tersendiri hingga membuat keputusan seperti ini,” tutur Dona.
“Lalu?”
“Melati adalah adik angkat ku, dan kedua orang tuanya adalah orang tua angkat ku. Dan kenapa kita menyembunyikan identitas asli kita, ya karena kita punya kisah tersendiri dengan itu,” papar Dona.
__ADS_1
“Dulu sebelum Papa dan Mama ku meninggal, kehidupan kami sangat bahagia layaknya keluarga utuh yang harmonis...” ungkap Dona.
Flash Back On
“Oliv! Papa bangga sama kamu sayang, kamu bisa mempertahankan prestasi mu dengan baik. Dan sebagai hadiahnya, kamu bebas pilih tempat liburan yang kamu mau.!” Puji Papa.
“Serius, Pa?” tanya Dona sumeringah dan dibalas anggukan oleh Papanya.
“Enaknya kemana ya Ma? Mmm.. ntar deh Oliv pikirkan dulu, biar nggak salah pilih,” jawabnya ragu.
“Oke..,” sahut Papa.
“Oh iya Liv, besok ada lomba kontes story telling tingkat SD loh. Dan adik kamu salah satunya. Besok ikutan ya?” ajak Mama.
“Sepertinya nggak bisa deh Ma, Oliv mau nyiapin tugas Bimbel dari Buk Intan. Mama sama Papa saja bolehkan?” pinta Oliv.
“Ya sudah kalau begitu,” ucap Mama.
“Makasih ya Ma, Mama baik deh,” rayu Dona Olivia.
Keesokan harinya seperti yang sudah disepakati kedua orang tua Dona Olivia pergi menghadiri konter story telling Danish. Sedangkan Dona tinggal di rumah bersama dua orang asisten rumah tangga.
Terasa begitu lama detak jarum jam itu berputar. Dona Olivia tampak gelisah menantikan kepulangan orang tua beserta adiknya. Tidak seperti biasanya. Kali ini hati Dona begitu gelisah. Tidak lama kemudian datang seorang polisi membawa berita kecelakaan yang dialami oleh kedua orang tua Dona.
Pembantu rumah yang menerima kabar itu langsung pingsan seketika. Dia sangat shock mendengar kabar kedua majikan beserta anak laki – lakinya meninggal dalam kecelakaan tragis itu.
Kedua orang tua Melati yang saat itu tampak sibuk mengurus semua untuk pemakaman Papa, Mama, dan Adiknya.
Tangis Dona tak dapat tertahankan, dia terus berteriak memanggil Papa, Mama dan juga Adiknya. Membuat semua orang yang hadir dalam acara pemakaman itu ikut merasakan kesedihan yang sangat mendalam.
“Papa..! Mama..! Danish..! Jangan tinggalin Oliv sendirian Ma, Pa,” teriaknya dalam tangisnya yang tak henti – henti.
“Kenapa kalian tega ninggalin Oliv sendiri? Oliv mau ikut sama kalian, Oliv nggak mau sendirian disini,” ucap Oliv lagi.
Suasana semakin mengharu biru. Betapa tidak, kehilangan orang – orang terkasih pada waktu bersamaan untuk selama – lamanya.
“Sayang, kamu jangan takut dan kamu juga tidak perlu khawatir akan tinggal dengan siapa. Kamu punya tante dan om yang akan menjadi orang tua kamu sayang! Kamu tidak sendirian. Kamu mau kan tinggal dengan Tante?” Ucap tante Hilda dengan uraian air mata yang tak henti – hentinya sambil memeluk hangat tubuh Dona. Aku hanya membalasnya dengan anggukkan kepala.
Flash Back Off
“Jadi mulai saat itu hingga sekarang aku tinggal bersama mereka, menjadi anak angkat mereka dan menjadi kakak dari Melati kemalya. Mereka adalah keluarga baruku, yang tulus dengan suka rela memberikan kasih sayangnya kepadaku dan janjiku ‘tidak akan pernah membuat mereka kecewa’,” papar Dona mengenang kejadian masa lalu yang pernah ia duga.
“Maaf ya Don kalau aku terlalu jauh menanyakan hal ini,” ungkap Aris.
“Nggak apa – apa kak. Dan masalah tentang hubungan aku dengan Melati cukup Kakak saja yang tahu ya,” ucap Dona sambil mununjukkan susunan giginya yang rapi.
Bersambung...
__ADS_1