
Pagi ini kembali Melati dan Dona pergi ke kampus bareng dan diantar oleh Pak Man. Seperti biasanya terjadi percakapan ringan di antara mereka bertiga.
“Pak, nanti pulangnya tidak usah di jemput ya,” ucap Melati kepada Pak Man.
“Baik Non,” sahut Pak Man singkat.
“Memangnya kamu mau kemana, Mel?” tanya Dona penasaran.
“Ikut yuk Kak,” ajak Melati sambil tersenyum renyah.
“Iya ikut kemana?” tanya Dona lagi.
“Ya just have fun aja, kan udah lama nih kita nggak hangout bareng, kangen...,” ucap Melati manja.
“Nggak ah, kakak masih ada tugas kampus yang belum kelar. Memangnya kamu mau cari apaan?” tanya Dona lagi.
“Cari apa ya,” sahut Melati sambil berpikir.
“Dah ah! Kalau tujuannya nggak jelas begitu, kakak nggak mau ikutan,” kata Dona.
“Ya sudah kalau kakak nggak mau, ntar nyesel lho,” ucap Melati masih berusaha merayu kakaknya.
“Nggak bakalan!” ucap Dona lagi.
“Yakin...?” tanya Melati memastikan. Dan Dona hanya mengangguk.
“Mmm, Mel. Kakak cuma mau ngingetin kamu. Jangan cari masalah lagi ya sama Fiona, sebisa mungkin kamu jangan sampai berurusan sama dia,” ucap Dona mengingatkan adiknya.
“Tenang... bukan Melati namanya kalau tidak bisa mengatasi seorang Fiona,” sahut Melati dengan pedenya.
Sementara Pak Man hanya ikut tersenyum mendengar perbincangan antara kakak dan adik tersebut sambil sesekali memperhatikan dari kaca spionnya.
“Mel.. kakak serius. Dia itu bukan tipe orang yang mudah memaafkan. Dia pasti akan selalu mencari cara untuk membalaskan sakit hatinya sampai dia benar – benar merasa puas,” terang Dona.
“Sudah..jangan khawatir kakakku sayang, semua pasti akan aman terkendali di tangan Melati,” sahut Melati sembari memeluk Dona.
Akhirnya mobil yang membawa mereka pun berhenti di depan pintu gerbang kampus. Seperti biasa salah satu yang turun lebih dulu setelah beberapa menit kemudian satu lagi menyusul. Ini cara kakak beradik ini menyembunyikan identitas persaudaraan mereka.
Dengan begitu mereka dapat mengetahui dengan mudah teman yang mana yang menceritakan keburukan mereka di belakang dengan teman yang benar – benar berhati baik.
Di Aula
__ADS_1
“Baiklah adik – adik semua, dikarenakan misi kegiatan kita semalam belum selesai. Maka hari ini akan kita lanjutkan kembali...........,”Aris melanjutkan arahannya kepada semua mahasiswa / mahasiswi baru itu.
Sementara Aris memberikan pengarahan, dua orang rekan yang berdiri dibelakangnya kasak – kusuk bercerita tentang Melati. Dan sedkit banyak membuat konsentrasi Aris terganggu, dan pada akhirnya diam - diam ikut memperhatikan Melati juga.
Setelah bubar mereka kembali berkumpul dengan satu kelompoknya. Dan Melati kembali berpasangan dengan Feby sang malaikat penolong.
“Huufft..ketemu lagi deh sama nenek sihir!” gumam Melati lirih tapi masih terdengar samar ditelinga Feby dan membuatnya tersenyum.
“Hei! Kenapa kamu senyum – senyum begitu? Ada yang lucu?” tanya Fiona ketus.
“Mm, gak ada kak, kakak cantik!” kilah Feby spontan.
“Oh jelass!” sahut Fiona dengan bangganya.
“Asal kamu tahu ya, kamu tuh nggak perlulah puji – puji saya begitu supaya mendapatkan perlakuan istimewa dari saya, iya? Mimpi kamu!” imbuh Fiona.
“Kak, biasa aja dong. Nggak perlu nyolot kayak gitu,” ucap Melati berusaha membela tamannya.
“Ou.. ada pahlawan nih ceritanya. Oke kita lihat aja nanti, sampai dimana pahlawan kamu ini bisa belain kamu,” sahut Fiona sembari berputar mengelilingi mereka berdua.
Akhirnya Fiona kembali menginstruksikan kepada seluruh anggota kelompoknya untuk melanjutkan misi yang belum selesai semalam. Mereka menghambur ke berbagai tempat dan melakukan apa yang diperintahkan oleh para senior agar mendapatkan tanda tangan mereka.
Ada yang dengan suka rela memberikan tanda tangannya, ada pula senior yang iseng meminta untuk melakukan beberapa tindakan baru mereka memberikan tanda tangannya.
Para senior itu meminta Feby dan Melati berjalan dengan membawa sepiring tepung yang diletakkan di atas kepalanya. Melati berhasil melewati tantangan dengan baik dan itu membuat senior – senior itu kesal. Sementara Feby tampak kesulitan menjaga keseimbangan tubuhnya, sehingga timbul ide untuk menjahilinya.
Akhirnya salah satu senior sengaja menyiramkan air di lantai sehingga membuat Feby terpeleset dan tepung yang ada di atas kepalanya tumpah mengguyur hampir seluruh tubuhnya. Dan mereka pun tertawa sepuasnya, apalagi dengan berat badan Feby yang over.
Melihat Feby yang terjatuh Melati langsung berlari dan berusaha membantu Feby untuk berdiri, tapi karena badan Feby yang over tadi membuat Melati mengalami sedikit kesulitan. Dan kejadian ini membuat Melati sangat kesal dan marah. Melati ingin membalas perlakuan mereka namun di tahan oleh Feby.
“Mel, please jangan. Aku nggak papa kok, ya.” pinta Feby.
Melati pun mengangguk, dia memahami kekhawatiran Feby. Dia tidak ingin Melati mendapatkan kesulitan ataupun masalah baru karena telah menolongnya. Tapi tantangan mereka belum usai. Mereka masih harus mendapatkan dua tanda tangan lagi, Fiona dan Aris. Dan itu artinya masih ada dua tantangan lagi yang harus mereka selesaikan.
“Kalian mau tanda tangan saya, kan?” tanya Fiona.
Melati dan Fiona pun terdiam dan mereka hanya menganggukkan kepala.
“Oke, untuk kamu big (sebutan untuk Feby). Coba kamu lakukan sebuah tarian ala – ala India gitu. Dan buat kamu.. siapa nama kamu?” tanya Fiona.
“Melati Kak,” jawab Melati.
__ADS_1
“Siapapun nama kamu nggak penting juga buat saya. Tugas kamu adalah kamu menyatakan cinta kepada seseorang dan buat orang itu mau menerima cinta kamu. Dan itu nanti setelah si ‘big’ itu selesai,” kata Fiona.
“Orangnya bebaskan kak?” tanya Melati.
“Mm.. Aris!” jawab Fiona.
“Duh.. be**k banget sih gue, ngapain juga tadi gue tanya ke nenek sihir ini. Mel..Mel,” sesal Melati dalam hatinya.
Seluruh peserta ospek telah menyelesaikan seluruh tugas dan tantangan yang diberikan, kecuali Melati dan Feby. Sehingga mereka berdua menjadi tontonan dan pusat perhatian seluruh peserta dan semua senior panitia kegiatan.
Mereka semua tertawa terbahak - bahak menyaksikan Feby yang mulai melakukan tarian ala – ala India. Melati ingin memberontak melihat temannya dijadikan bahan lelucon dan tertawaan. Mereka seperti tidak punya hati.
Melati tampak ingin menghentikan semuanya namun tampak oleh Feby dan Feby memberi kode ‘jangan’. Meski dengan perasaan sedih dan malu Feby tetap ingin menyelesaikan tantangannya untuk mendapatkan tanda tangan Fiona. Dan akhirnya Feby mendapatkannya.
Sekarang giliran Melati melakukan tantangan menyatakan cinta kepada Aris.
“Kak Aris, boleh nggak aku minta waktu kakak sebentar aja. Ada yang pengen aku omongin ke kakak,” pinta Melati sembari menyunggingkan kedua sudut bibirnya keatas.
“Manis juga nih cewek,” batin Aris terpesona dengan senyuman Melati.
“Kak.. kak Aris boleh, kan?” suara Melati menyadarkan Aris dari lamunannya.
“Ya, saya mau jadi pacar kamu,” jawab Aris refleks.
“Yessss! Misi selesai, sekarang kakak sudah dengar sendiri, bukan?” ucap Melati sambil menyodorkan kertas kepada Fiona.
Fiona pun tidak dapat berkata – kata lagi, dia kalah telak. Sementara Aris tampak tersipu malu. Kemudian Melati dan Feby melanjutkan tugas berikutnya, meminta tanda tangan Aris.
Aris menjadi salah tingkah di depan Melati. Namun dengan cepat dia dapat mengendalikan dirinya.
“Kalian mau tanda tangan saya, kan?” tanya Aris.
“Iya kak,” jawab keduanya.
“Coba kalian tunjukkan keistimewaan apa yang kalian miliki, coba lakukan,” kata Aris.
“Kalau saya bisa masak Kak, tapi masalahnya saya masaknya dimana ya?” ujar Feby.
“Ya udah, kamu masaknya di rumah dan hasilnya besok kamu bawa ke saya. Tapi ingat di videokan supaya saya tahu itu benar – benar hasil olahan tangan kamu,” tutur Aris.
“Iya Kak, tentu. Terima kasih kak,” sahut Feby sambil menyodorkan kertasnya.
__ADS_1
“Lalu kamu?” tanya Aris kepada Melati.
BERSAMBUNG....