
“Mel, gimana nih. Kakak bingung.”
“Aku juga bingung, Kak. Lagian ngapain juga sih Papa nyuruh kita bawa Kak Aris ke rumah. Mana besok lagi,” ketus Melati yang sedang duduk di sudut tempat tidurnya sambil memeluk Si Mochi.
“Ngomong apa ya ke Kak Aris?” Dona menghela nafas panjang sembari menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur di kamar Melati.
Kedua berpikir keras. Memikirkan apa yang harus di katakan ke Aris besok. Berbagai saran di utarakan Dona tapi Melati tidak meresponnya. Akhirnya Dona bangun dan melihat ternyata Melati sudah terlelap dalam pelukan Si Mochi.
“Ye..malah molor, bukannya bantu mikir,” sesal Dona kemudian beranjak ke kamarnya sembari melemparkan bantal guling ke Melati.
Dona mengambil buku bersampul pink yang selalu menemani hari – harinya. Tempat semua curahan perasaannya yang tidak bisa ia ungkapkan kepada orang lain bahkan orang terdekatnya sekali pun. Dia mulai memainkan penanya di atas kertas buku itu, lembar demi lembar sampai semua isi hatinya tercurahkan dan dia merasa lega.
Dear Diary,
Aku tidak tahu pasti dengan perasaan ku saat ini. Apakah aku harus senang atau bersedih atas semua kejadian- kejadian yang aku lalui di setiap hari - hariku .
Di satu sisi aku merasa lega, karena aku bisa berkata jujur dengan perasaanku sendiri.
Ya.. meskipun dengan cara yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Dan aku berterimakasih kepada Melati, karna dia aku berani mengakuinya di hadapan Mama dan Papa.
Rasa ini...
Rasa yang sejak lama selalu aku bungkus dengan rapi,
Rasa yang tidak seorang pun mengetahuinya kecuali aku, yaa Cuma aku.
Rasa yang selalu merindu jika tidak bertemu. Senyumnya, tawanya..
Semua tentangnya.
Apakah ini yang disebut cinta??
Tuhan,
Jika dia adalah takdir cintaku, berilah kemudahan bagiku dan dirinya untuk bersatu.
Selimutilah hari - hari kami dalam kebahagiaan.
Dona mengakhiri tulisannya lalu mendekap buku bersampul pink itu sembari merebahkan tubuhnya. Menatap dalam ke langit – langit atap kamarnya sampai ia terlelap dalam tidurnya.
Keesokan Paginya Melati dan Dona sudah kembali bersahabat seperti sediakala. Namun keceriaan itu belum sepenuhnya mengisi rongga – rongga dalam tubuh mereka. Karena mereka masih belum menemukan bagaimana cara untuk mengundang Aris bertemu dengan kedua orang tua mereka.
Pak Heru yang selalu lebih dulu berada di meja makan memperhatikan sikap kedua putrinya lalu berkata, “Kenapa pada berawan semua tuh muka?”
Dona dan Melati saling berpandangan, mencoba menangkap makna atas ucapan Papanya.
“Perasaan Papa aja kali,” sahut Melati sembari mengoleskan butter dia atas selembar roti tawar yang di dipegangnya.
“Bener! Perasaan Papa aja tuh. Kita biasa – biasa aja ya nggak Mel?” timpal Dona. Melati mengangguk.
“Oh.. ya sudah kalau begitu,” kata Pak Heru yang masih fokus dengan makan di hadapannya.
Setelah selesai sarapan, Pak Heru langsung beranjak dari tempat duduknya sambil berkata, “Mau bareng Papa?”
“Hehe..nggak Pa,” sambil berpandangan keduanya menjawab perlahan sembari menggelengkan kepalanya.
Sementara Bu Hilda hanya tersenyum geli menyaksikan pemandangan pagi ini.
Beberapa menit kemudian Dona dan Melati juga berpamitan pada Bu Hilda. Mereka lebih memilih di antar oleh Pak Man.
__ADS_1
“Jangan lupa sampaikan pada Aris untuk ikut dinner bareng kita ya,” teriak Bu Hilda dari dapur mengiri langkah Dona dan Melati.
“Iya Ma..,” sahut Melati sedikit berteriak.
Di luar Pak Man sudah bersiap mengantarkan kedua putri tuannya. Seperti biasa mereka bertiga selalu terlibat percakapan sepanjang perjalanan menuju kampus.
“Kak! Udah nemu caranya belum?” tanya Melati. Dona hanya menggelengkan kepalanya.
“Mm.. Gimana kalau siapa yang lebih dulu ketemu dengan Kak Aris dia yang harus mengatakannya?” imbuh Melati.
“Ya udah pasti Kakak lah yang ketemu duluan, secara kita satu kampus Mel.”
“lagian Kakak malu..,” timpalnya lagi.
“Kalau malu pakai topeng atuh Non, kan jadi nggak keliatan mukanya,” sela Pak Man.
“Ih Pak Man, bukannya batu kasih solusi.. malah..”
“Becanda Non,” sahut Pak Man tertawa geli.
“Ya udah deh, ntar aku yang coba bilang ke Kak Aris. Kebetulan hari ini geladi resik untuk acara besok, jadi aku pasti ketemu sama Kak Aris,” papar Melati.
“Oke, begitu lebih baik,” sahut Dona.
“Baik untuk Kakak?” tanya melati. Dan Dona hanya menyeringai bahagia.
Akhirnya Pak Man menghentikan laju mobilnya dan salah satu penumpangnya turun dari mobil.
“Lho kamu nggak turun Mel?” tanya Dona.
“nggak Kak, Aku turun di sana aja,” tunjuk Melati. Dona mengangguk lalu pergi.
“Di depan sana Pak. Ada yang mau saya beli,” jawab Melati.
Setelah sampai ke tempat yang di maksud, Melati turun dari mobil sembari berkata, “Makasih Pak Man, hati – hati ya.”
Waktu perkuliahan berjalan seperti biasanya dan perlahan berlalu. Hari ini Dona terlihat sangat sibuk, karena setelah acara pagelaran seni nanti selesai Dona akan maju ke sidang Yudisium pertanda bahwa perkuliahannya telah selesai untuk mendapatkan gelar Sarjana.
Sementara Melati bergabung dengan semua rekan – rekan yang ikut berpartisipasi dalam acara Pagelaran Seni yang tinggal besok. Tentu saja Aris masih ikut berperan serta di akhir – akhir masa tugasnya sebagai ketua BEM.
Aris mendekati Melati begitu ia melihatnya.
“Hai Mel! Gimana udah oke?” sapa Aris.
“Alhamdulillah Kak,” sahutnya sembari tersenyum.
Aris kembali tertegun dengan kepiawaian Melati memainkan biolanya. Rasa yang dulu pernah ada kini kembali muncul, sama seperti pertama kali dia melihat Melati bermain biola saat ospek.
“Akan ku pastikan.. suatu saat nanti Mel,” gumamnya dalam hati.
Huuuuu...!
Suara sorak sorai dari semua anggota menyadarkan Aris dari lamunannya.
“Bagus Mel,” puji Aris sambil mengacungkan kedua jempolnya saat Melati mendekat ke Aris.
“Makasih, Kak,” balasnya.
“Oh iya, mau pulang bareng?” tawar Aris.
__ADS_1
“Mm, nggak usah deh Kak aku naik taksi aja. Mau mampir lagi soalnya,” sahut Melati.
“Nggak apa-apa, biar aku anterin.”
“Nggak usah lah Kak, ngerepotin.”
“Mm, tapi.. ntar malam sibuk nggak?” imbuh Melati.
Sambil menggeleng Aris bertanya, “Kenapa?”
“Mm, ke rumah aku..dinner.”
“Dinner??”
Melati mengangguk.
“Ya mau lah, kapan lagi coba dapat undangan spesial seperti ini. Bisa – bisa sampai kiamat belum tentu,” jawab Aris semangat 45 sembari menyunggingkan kedua sudut bibirnya.
“Yess!! Ternyata.. gayung bersambut,” batin Aris sambil tersipu.
“Ya udah kalau gitu aku duluan ya Kak,” pamit Melati.
“Jangan lupa lho, ntar malam,” timpalnya.
“Yups! Hati – hati ya.”
Sambil kegirangan Aris berteriak, “Ya Tuhan... mimpi apa aku semalam dapat rezeki seperti ini.”
Sontak semua orang menujukan pandangannya pada Aris.
******
Tepat jam 7 malam Aris tiba di rumah Keluarga Kemalya. Dengan jantung yang berdebar – debar seperti bom waktu yang siap meledak pada detik terakhir, sembari menghembuskan nafas panjang Aris memberanikan diri memencet bel rumah Melati. Tentu saja dia di sambut hangat oleh Melati yang kebetulan membukakan pintunya.
“Assalamualaikum,” salam Aris.
“Waalaikumsalam, ayo Kak masuk. Semua sudah nunggu Kakak,” sahut Melati langsung mengarahkan Aris ke meja makan.
“Ayo mari silahkan...,” ucap Pak Heru.
“Aris Om, Tante.”
“Ayo silahkan,” imbuh Bu Hilda.
Sambil makan sesekali mereka berbincang, Aris yang semula tampak tegang perlahan terlihat lebih tenang. Obrolan mereka berlanjut di ruang tamu selesai makan.
“Jadi sudah lama kamu kenal dengan anak saya?” tanya Pak Heru.
“Sudah Om, dan saya juga s-suka sama anak om.”
Melati dan Mamanya saling berpandangan dan tersenyum bahagia mendengar jawaban Aris. Sementara Dona menundukkan wajahnya, menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.
“Oke, kalau begitu jangan pernah mengecewakan anak Om, apalagi sampai berani kamu menyakitinya..kamu akan berhadapan dengan Om. Ingat itu!” ancam Pak Heru.
“Insya Allah Om, akan saya jaga anak Om sebaik mungkin,” janji Aris.
Akhirnya dengan wajah sumeringah Aris berpamitan pulang. Sementara Dona, hatinya bak dipenuhi bunga – bunga yang sedang bermekaran.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading semua... Jangan lupa meninggalkan jejak yaa.. 😘😘