
Setelah sukses menyelenggarakan acara yang luar sangat biasa akhirnya seluruh panitia dan partisipan mengadakan makan bersama keesokan malamnya. Namun Dona tidak hadir, dia fokus menghadapi persidangannya besok.
“Kak, yakin nggak mau ikut?” tanya Melati.
Sambil mengangguk Dona berkata, “ Kakak harus prepare buat besok, karena besok adalah hari yang sangat penting bagi Kakak. Penentu masa depan, Mel.”
“Oh ya sudah kalau begitu, tapi.. bukannya besok Kak Aris juga sidang? Tapi kok..,” sahut Melati sambil berpikir.
“Ikut.. maksud kamu?” tanya Dona. Melati mengangguk.
“Kamu nggak usah heran, kali aja persiapan dia udah oke,” lanjut Dona.
Beberapa menit kemudian Mbok Suti muncul setelah mengetuk pintu kamar Dona.
“Ada apa, Mbok?” tanya Dona.
“Nyari Non Melati soalnya ada den Aris di bawah m...,” omongan Mbok Suti langsung d potong Melati.
“Kak Aris? Mau ngapain..?”
“Mbok ndak tahu Non, kata Cuma mau jemput Non Mela..ti,” jawab Mbok Suti sembari melemparkan pandangan ke Dona.
“Jemput kamu Mel? Udah janjian?” Tanya Dona dan Melati hanya menggeleng.
Lalu mereka turun bersamaan untuk menemui Aris yang sudah bersama dengan Mama dan Papa Melati.
“Mel, nih Aris katanya mau jemput kamu,” kata Pak Heru.
Melati menatap Dona lalu beralih ke Aris.
“Kebetulan tadi lewat sini dan aku ingat ada acara kita juga, kan ya. Ya akhirnya aku putusin aja buat singgah,” terang Aris.
“Oh jadi cuma kebetulan aja,” batin Dona merasa tenang.
“Kamu nggak ikutan Don?” tanya Aris.
“Enggak Kak, aku belum semahir kamu, jadi masih perlu persiapan yang matang buat besok,” sahut Dona tersenyum.
“Kamu bisa aja Don, ya sudah kalau begitu aku pamit dulu Om, Tante..,” pamit Aris diikuti Melati.
“Hati – hati! jangan terlalu malam pulangnya, ya Mel,” pesan Bu Hilda kepada Melati.
Melati mengangguk dan tak lupa meminta izin pada Kakaknya, “Izin ya Kak.”
“Idih kamu apaan sih!” sahut Dona tersipu malu.
Aris dan Melati akhirnya berlalu meninggalkan rumah dengan menaiki sepeda motor.
Jalanan lumayan ramai, Aris juga tidak begitu kencang melajukan sepeda motornya.
__ADS_1
“Mel! Lebih suka mana, naik sepeda motor atau mobil?” tanya Aris sambil tetap mengemudi.
“Dua – duanya suka, tergantung kondisi. Emang kenapa, Kak?”
“Ya sekedar pengen tahu aja. Boleh kan kalau aku ingin tahu lebih banyak tentang kamu. Ya supaya lebih akrab aja, lebih enak gitu.”
“Mm, maksud Kak Aris?!”
“Ah, sudah lupain aja,” sahut Aris.
Aris tidak melanjutkan lagi ucapannya. Dia lebih memilih diam, perlahan lebih baik pikirnya. Daripada harus memaksakan diri bisa – bisa lepas dari genggaman, jadi gigit jari deh. Begitulah pemikiran Aris sepanjang jalan.
Akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan, mereka pun hanyut dalam suasana penuh keakraban. Canda tawa, kelakar mengguratkan betapa bahagianya mereka dengan kesuksesan kali ini, mengalahkan event tahun – tahun sebelumnya.
“Kak, aku balik duluan ya. Masih ada tugas yang harus aku selesaikan,” ucap Melati.
“Ya sudah biar aku antar kamu pulang,” ucap Aris menawarkan diri.
“Aku naik taksi aja Kak.”
“Ya nggak bisa gitu dong Mel. Tadi kan aku yang jemput kamu. Jadi harus aku juga yang anterin kamu, nanti di bilang Papa kamu lagi kalau aku laki – laki yang tidak bertanggung jawab bisa rusak reputasi aku,” sahut Aris.
“Cieee.. yang udah jadian, udah dapat lampu hijau lagi dari ortu. Wah.. keren loe Ris,” ucap salah satu teman mereka.
Melati memandang Aris penuh makna membuat Aris celingukan.
“Aku duluan Kak!”
Sepanjang perjalanannya ke rumah, Melati terus terngiang ucapan – ucapan Aris dan rekan – rekannya tadi. Membuat dia teringat dan membayangkan wajah Kakaknya.
“Ya Allah, bagaimana jika Kak Dona bukanlah orang yang di maksud Kak Aris? Bagaimana aku menjelaskannya,” batin Melati.
Jauh lamunan Melati memikirkan apa yang tak pernah terpikirkan olehnya, seiring dengan alunan musik yang di putar oleh Pak Sopir.
“Neng, sudah sampai,” kata Pak Sopir membangunkan Melati dari lamunannya.
“Oh iya, Pak! Ini uangnya dan kembaliannya buat bapak saja,” ucap Melati sambil tersenyum kemudian turun dari taksi yang ditumpanginya.
“Terima kasih banyak Neng, semoga berkah dan di luaskan rezekinya. Melati tersenyum dan mengaminkan ucapan itu dalam hatinya.
Keesokan Harinya.
“Kak, semangat ya sayang. Jangan lupa berdoa agar diberi kemudahan dan kelancaran dalam menjawab pertanyaan – pertanyaan dari tim penguji. Kami semua mendukung dan mendoakan kamu sayang, iya kan Pa?” tutur Bu Hilda.
“Semangat Kak. Cayoo!! Kakak pasti bisa,” imbuh Melati.
“Makasih untuk kalian semua.Terima kasih untuk cinta, kasih sayang dan perhatian yang begitu luar biasa yang tercurahkan untukku. Kalian adalah penyemangat ku,” sahut Melati.
“We love you sayang, kita semua akan selalu ada buat kamu,” ucap Bu Hilda sembari memberikan pelukan hangat kepada Dona.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu, Dona pamit ya. Doain Dona berhasil.”
“Pasti. Anak Papa pasti bisa jadi yang terbaik dari yang terbaik!” ucap Pak Heru memberikan semangat kepada Dona.
Akhirnya Dona berangkat dengan keyakinan yang mantab. Dengan semangat yang tinggi menghadapi tim penguji. Sampai setibanya di kampus, semangatnya semakin bertambah setelah melihat Aris yang hari ini sama dengannya menjalani sidang meja hijau.
“Don, semangat ya!” bisik Aris saat mereka sedang menunggu giliran dari tim penguji.
“Iya, Kakak juga semangat ya. Kita pasti bisa.”
“Dona Olivia”
Dona langsung maju ketika namanya disebut. Tampak Aris memberikan dukungannya saat Dona bergerak maju, Dona membalasnya dengan senyum manisnya.
Akhirnya sampai juga pada giliran Aris yang maju ketika Dona belum selesai. Setelah beberapa menit berlalu merekapun keluar dari ruangan dengan wajah yang luar biasa bahagianya.
“Yeeee......!” sorak para mahasiswa dan mahasiswi yang selesai melaksanakan sidang yudisium hari ini.
Mereka sangat bergembira, saling memberikan ucapan selamat satu dengan yang lainnya. Saling berpelukan. Tanpa disadari Aris dan Dona pun saling berpelukan mengekspresikan rasa bahagia mereka setelah 4 tahun lebih melaksanakan tugas menjadi seorang mahasiswa.
“Ups! Maaf Kak, sa.. ,” ucap Dona sembari melepaskan pelukannya ketika sadar siapa yang sedang dipeluknya.
“Oh..,” sahut Aris mengangguk sambil tersenyum membuat hati Dona semakin meleleh.
“Congratulation, ya! Akhirnya kita sama menyelesaikan tugas kita. Ya meskipun kamu lebih hebat,” puji Aris.
“Hebat gimana?” Tanya Dona.
“Ya hebat dong, ibarat mobil nih ya, kecepatan kamu hampir 200km/jam. Sedangkan aku hanya 150 an doang,”
Dona pun tertawa, “ berarti aku pembalap dong.”
Mereka pun berkelakar bersama rekan – rekan lainnya.
Kini mereka telah selesai meraih gelar Sarjana. Tinggal bagaimana mereka mengaplikasikan ilmu yang sudah di dapat dalam kehidupan mereka masing – masing.
“Kak Dona!” jerit Melati yang melhat Kakaknya diantara kerumunan mahasiswa yang sedang berkelakar.
Melati berlari mendekati Kakaknya, lalu mereka berpelukan.
“Gimana? Sudah selesaikan?” tanya Melati pada Dona.
Dengan rasa bangga Dona pun mengangguk sembari menunjukkan kertas laporan hasil sidangnya.
“Waaawww! Congratulation! Mama sama Papa pasti bangga deh,” teriak Melati kegirangan sambil memeluk Kakaknya lagi.
“Oh ternyata kalian berdua ini Kakak beradik?” tanya salah seorang dari balik punggung Melati.
Bersambung....
__ADS_1
Happy Reading beloved reader,
selalu tinggalkan jejak kalian yaaa 😍😍😍