Dia Suamiku, Kak!

Dia Suamiku, Kak!
BAB 20. KECEWA


__ADS_3

“Memangnya kenapa kalau kami kakak beradik? Ada masalah?” tanya Melati.


“Masalah?! Nggak tuh!”


“Terus?” tanya Melati lagi.


“Ya heran aja,kenapa harus dirahasiakan coba? Atau jangan – jangan salah satu dari kalian adalah


anak haram? Hasil dari selingkuhan o... .”


“Jaga mulut kamu Fi!! Mungkin selama ini aku diam, tidak pernah menanggapi apapun yang kamu buat ke aku. Karena aku malas ribut sama kamu, bukan karena aku takut. Tapi karena


kita tidak selevel. Ngerti kamu!” Sahut Dona dengan berani membela adiknya.


Melati dan Aris bengong melhat adegan yang baru saja mereka saksikan, karena selama ini Dona


hanya diam meski apapun dia disakiti.


Dona melangkahkan kakinya meninggalkan Fiona dan Aris sambil menarik tangan Melati seraya


berkata, “Ayo Mel.”


Dengan sedikit heran Melati melati mengikuti langkah kakaknya sembari tersenyum kagum, Melati menarik tangannya dari genggaman Kakaknya sehingga membuat keduanya menghentikan langkahnya.


“Kak! Aku makin bangga lho sama Kakak. Ternyata Kakak nggak seperti yang aku kira,” sahut Melati memandang wajah syahdu Kakaknya.


“Tidak selamanya kita itu mengalah atau diam saja di saat kita tertindas. Ada waktunya kapan kita harus mengeluarkan cakar yang kita punya dan kapan cakar itu harus tetap kita sembunyikan,”


ucap Dona tegas.


“Aku setuju sama kamu Don,” timpal Aris yang tiba – tiba sudah berada di belakang mereka.


“Bagaimana kalau sekarang kita nongkrong bareng, sekalian makan siang,” kata Melati.


“Boleh, aku yang traktir,” sahut Aris.


Akhirnya mereka bertiga


pergi mencari tempat yang enak buat nyantai.


“Aku duluan, nanti begitu nyampek lokasi aku share sama kalian ya,” kata Aris.


Aris pun berlalu dengan kuda besinya. Sementara Melati dan Dona masih menunggu taksi di depan


kampusnya.


Tampak dari kejauhan Feby tengah berlari sambil berteriak memanggil – manggil nama Melati.


Melati dan Dona menoleh bersamaan.


“Bukannya itu Feby?” Tanya Dona.


“HeEm.. gemes banget ya Kak liat badannya yang gembul gitu,” sahut Melati  sambil tertawa renyah.


“Hush! Kamu ini, tapi emang iya sih,” balas Dona. Mereka pun tersenyum.


Dengan nafas yang ngos – ngosan Feby menghampiri Melati dan Dona, ”Pasti lagi ngetawain aku kan?” Tanya Feby sambil mengerucutkan kedua bibirnya.


“Enggak kok, Cuma gemes aja ngeliat kamu. Keliatan seksi,” ucap Melati sambil tertawa.


“Untung kamu yang ngomong. Sempat orang lain mungkin udah aku cemplungin tuh ke got,” sahut Feby sambil melengos.


“Hehehe.. canda lagi. Jangan cemberut gitu dong, nanti cantiknya hilang,” kata Melati sambil menggoda Feby.


Akhirnya Feby kembali tersenyum manis setelah berhasil mengembalikan ketukan irama nafasnya.


“Memangnya kalian mau kemana, sih?” Tanya Feby.


“Mau makan siang, ikutan ya Feb,” ajak Dona.


“Maaf, Kak nggak bisa. Ntar lagi ada kelas, dosennya lumayan danger jadi nggak bisa TA.”

__ADS_1


“Astagfirullah! Iya Kak, aku lupa hari ini ada kelas sama Pak Hartanto. Jadi maaf ya, aku nggak


jadi ikutan, ya itung – itung Kakak lagi quality time with honey bunny sweety gitu” ucap Melati sambil menyenggol lengan kanan Kakaknya sembari mengerlingkan sebelah matanya.


“Issh, apaan sih kamu Mel,” sahut Dona malu – malu.


“Dah buruan gih, ntar Kak Arisnya kelamaan nunggu,” kata Melati.


“Iya Kak, biar kami makannya di kantin aja. Iya kan Mel?’ Imbuh Feby.


Dona tersenyum bahagia, dia akhirnya pergi setelah taksi yang ditunggu datang dan membawa


dirinya menuju ke alamat yang sudah di share oleh Aris melalui Melati.


Sambil kembali berjalan menuju kantin Feby


banyak bertanya - tanya tentang hubungan Aris dengan Dona kepada Melati. Sampai


akhirnya mereka menikmati makan siang mereka.


*****


Akhirnya Dona sampai di lokasi. Perlahan Dona masuk dan menelisik, mengedarkan pandangannya mencari dimana Aris. Namun Dona tidak menemukan.


“Mungkin lagi ke kamar mandi,” pikir Dona.


Dona duduk di salah satu kursi menghadap ke pintu luar. Lama Dona menunggu tapi Aris tidak


juga muncul.


Dona mulai resah, duduknya mulai tidak nyaman.


“Kak, kemana sih kamu. Kalau misalnya di batalkan, kan bisa ngomong ke aku,” batin Dona.


Dona menghempaskan nafasnya.


“Bagaimana aku bisa menghubungi Kak Aris. Bahkan nomor hp_nya aja aku nggak punya,” gumam Dona pelan.


Melati namun tidak juga ada jawaban.


Pelayan pun menghampiri Dona, “Mbak, ada yang mau di pesan?”


“Jus lemon saja dulu Mas, saya masih menunggu teman.”


“Oh baik, Mbak. Tunggu sebentar ya.”


Setelah beberapa saat pelayan itu sudah kembali membawakan pesanan Dona.


Dona masih saja menunggu dengan setia. Akhirnya setelah menunggu cukup lama Dona memutuskan untuk pulang ke rumah degan taksi.


Kekecewaan yang dirasakan Dona cukup dalam, tanpa sadar linangan air mata mengalir di kedua


pipinya.


“Kak, seharusnya kalau kamu memang tidak bisa ngomong dong ke aku. Kalau kamu tidak suka kenapa nggak ngomong sejujurnya. Kenapa harus membuat aku seperti ini Kak,” batin Dona


sambil sesekali menyeka air matanya yang mengalir deras.


Sopir taksi itu sesekali melihat Dona dari kaca sepionnya lalu memberikan tissu kepadanya.


“Mbak, kita mau kemana?” tanya sopir taksi.


“Muter aja dulu ya Pak, saya masih mau menenangkan hati,” sahut Dona.


“Bersedih boleh Mbak tapi jangan sampai berlarut – larut. Banyakin istighfar supaya hati lebih


tenang,” nasihat Pak sopir.


“Iya, Pak. Makasih banyak sudah mengingatkan saya.”


Setelah Dona merasa sedikit lega, akhirnya dia pulang ke rumah.

__ADS_1


“Assalamualaikum,” salam Dona saat masuk ke dalam rumah.


“Waalaikumsalam, eh anak Mama udah pulang.. gimana? Sukses, kan?” Tanya Bu Hilda penasaran.


“Alhamdulillah, Ma,” jawab Dona sembari mengeluarkan secarik kertas hasil sidangnya.


Bu Hilda membukanya lalu membaca hasilnya, Bu Hilda langsung kegirangan memeluk Dona sangat erat.


“Congratulation sayang... Mama bangga sekali sama kamu, Mama doakan kamu selalu sukses dan mendapatkan apa yang kamu cita – citakan selama ini.” Bu Hilda kembali memeluk Dona dengan penuh kasih sayang.


“Ma, makasih banyak ya. Tanpa Mama dan Papa mungkin Dona nggak akan sampai seperti ini.


Sekali lagi makasih, Ma.” Bu Hilda pun mengangguk.


“Ya sudah, kamu mandi terus siap – siap nanti kita makan bersama. Mama masak spesial malam ini khusus buat kamu,” tutur Bu Hilda.


“Oh ya! Mama emang the best. Ya udah Dona ke atas dulu ya Ma,”


“Iya sayang.”


“Oh iya Ma, Melati udah pulang?” tanya Dona saat akan menaiki tangga.


“Sudah, belum lama juga kok,” jawab Bu Hilda. Dona tersenyum.


Dona masuk ke kamarnya, kemudian meletakkan barang – barang bawaannya di atas tempat tidurnya. Lalu mengambil handuk biru yang tergantung di belakang pintu kamarnya.


Setelah selesai mandi dia duduk di kursi meja belajarnya. Dengan rambut basahnya yang masih


berbalut handuk.


Dia membuka buku hariannya, mengambil foto yang terselip di sela lembaran halaman buku itu. Lama dia memandang wajah di dalam foto itu.


Namun tiba – tiba saja Melati membuka pintu kamarnya dan nyelonong masuk.


“Mel! Bisa nggak lain kali kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu! Pakai sopan santun!” seru Dona yang merasa terkejut dengan kehadiran Melati.


“Duh.. galak amat sih! Baru juga happy – happy lunch bareng si bebeb. Sekarang, marah – marah.


Kenapa sih, Kak? Berantem sama Kak Aris?” selidik Melati.


“Dia nggak ada!”


“WHAT?? Maksud Kakak...,”


“Iya, aku udah nunggu cukup lama tapi dia nggak nongol juga!" Ketua Dona.


“Kok bisa?!”


Tok.. tok.. tok..


“Non, ada yang nyari tuh di bawah,” kata Mbok Suti.


“Siapa Mbok?” tanya Dona.


“Katanya sih nggak boleh di kasih tau, biar sur..sur..surpraiss gitu,” jawab Mbok Suti.


“Iya Mbok bentar lagi Dona turun.”


“Ciee.. Ehmm.. ehm...,” goda Melati.


“Apaan sih, siapa yang datang juga belum tau.”


Akhirnya Dona turun dan melihat ada seseorang di balik bouqet mawar merah yang besar. Dona


merasa sangat bahagia seakan kekecewaannya tadi siang terobati.


“Kok Dona sih yang turun?” Batin Aris.  


Bersambung.....


Happy Reading...

__ADS_1


Selalu tinggalkan jejak ya Dears... 😍😍😘😘


__ADS_2