Dia Suamiku, Kak!

Dia Suamiku, Kak!
BAB 28. HUNTING HARI KEDUA


__ADS_3

“Kalian berdua ini kemana saja, sih! Main ngilang gitu aja. Papa sama Mama nih khawatir. Masak iya kami harus kehilangan anak gadis sekali dua!” seru Bu Hilda saat sarapan pagi bersama.


Dona dan Melati hanya diam dan saling berpandangan. Melati berniat untuk berterus terang dengan Mamanya. Namun Dona memberi isyarat dengan menendang – nendang kaki Melati agar tidak memberitahukannya terlebih dahulu.


Setelah menendang kaki Melati Dona langsung mengedipkan matanya pada Melati. Lalu Mamanya melihat keduanya.


“Kalian berdua kenapa? Ada yang di sembunyikan dari Mama sama Papa?” Tanya Bu Hilda.


“Mm, enggak.. nggak ada apa – apa. Iya, kan Mel?” Sahut Dona sambil mengedip – kedipan matanya.


“I – iya Ma. Nggak ada apa – apa kok,” timpal Melati.


“Terus.. semalam kalian kemana? Sampai magrib belum juga kembali!” omel Bu Hilda.


“K..kami...,” Dona tidak tahu harus menjawab apa.


“Kebetulan kami ketemu teman lama, terus di ajak ngopi,” jawab Melati kilat menimpali jawaban Kakaknya.


“Memangnya nggak punya mulut untuk pamit sama Mama sama Papa?” sahut Bu Hilda jutek.


“Ma, sudah. Toh mereka baik – baik aja, kan?” kata Pak Heru.


“Ini nih! Kebiasaan Papa. Selalu saja memanjakan mereka,” gerutu Bu Hilda.


Ketiganya saling beradu tatap lalu tersenyum melihat Bu Hilda merepet. Dona dan Melati pun segera bergegas melanjutkan misinya yang belum tuntas. Kali ini keduanya meminta izin pada kedua orang tua mereka.


“Mm, Ma Pa. Kami berdua izin ya, nggak ikut sama Mama dan Papa,” ucap Melati.


“Tuh kan Pa. Nih! Mulut Mama aja belum kering.. udah mau kabur lagi!” Seru Bu Hilda.


“Memangnya kalian mau kemana lagi?” tanya Pak Heru lembut.


“Ada sesuatu yang sangat penting Pa. Nanti kalau misi ini selesai kami akan cerita sama Mama dan Papa. Jadi sekarang kami pamit dulu ya Pa, Ma.” Imbuh Melati. Sementara Dona hanya mengangguk membenarkan ucapan Melati.


Sebelum Papa dan Mamanya menjawab mereka berdua sudah langsung pergi. Melati dengan sigap menggeret tangan Dona berjalan secepat yang ia bisa.


Mereka kembali mencari orang yang bernama dr. Rafindra dari satu hotel ke hotel yang lain. Berpindah dari satu penginapan ke penginapan lainnya. Terkadang mereka berjalan kaki cukup jauh dan tak jarang hotel ataupun penginapan yang mau memberi tahu identitas pengunjungnya.


“Permisi Mbak,” ucap Dona pada seorang resepsionis..


“Iya, ada yang bisa saya bantu Mbak?


“Begini Mbak, kami ingin bertanya apakah ada pengunjung atas nama dr. Rafindra?” tanya Melati.


“Maaf Mbak, itu melanggar kode etik hotel kami. Kami tidak bisa memberikan informasi apapun tentang pengunjung yang datang menginap di sini. Jadi mohon maaf saya tidak bisa membantu Mbak Mbak sekalian,” jawab resepsionis itu dengan ramah.


“Mbak kami mohon karena ini sangat penting, dan mungkin saja dokter itu juga sedang mencari kami saat ini,” tutur Melati.

__ADS_1


Resepsionis itu hanya tersenyum lalu menjawab, “Maaf Mbak saya tidak berani, karena jika atasan saya tahu. Saya bisa dipecat Mbak.”


Melati dan Dona hanya bisa diam dan saling berpandangan seolah hilang harapan. Tak lama kemudian seorang pria muda dan tampan muncul dari dalam hotel menuju ke resepsionis. Pria itu hendak menitipkan kunci kamarnya karena dia akan keluar.


Pria itu menoleh lalu menyapa Dona, “Hai! Bukankah Mbak ini yang berangkat dari Bandung?”


“Iya betul,” sahut Dona.


“Nginap di sini juga?” tanya pria itu lagi.


Resepsionis itu hanya memandang kedua orang yang sedang berbicara di depannya dan membatin, “Ternyata mereka saling kenal, tapi....”


“Enggak! Kami mencari seseorang kemari, kebetulan koper saya tertukar saat di bandara dan saya mencari orang itu buat menukar kembali kopernya,” terang Dona.


“Kebetulan sekali kalau begitu,”


“Maksudnya?” Tanya Dona.


“Mbak bertemu dengan orang yang tepat. Sayalah orang yang Mbak – Mbak ini cari. Jadi sebentar saya ambil kopernya.”


Akhirnya mereka dapat tertawa lega. Sementara dr. Rafindra mengambilkan kopernya, Melati dan Dona memilih untuk menunggu di lobi hotel. Tak henti – hentinya Dona tersenyum.


“Sssstt! Bahagia amat.. nggak lepas lepas tuh senyum dari tadi. Nggak takut kering tuh gigi,” ejek Melati sambil tersenyum bahagia bisa mengejek Kakaknya.


“Apaan sih! Ya jelas bahagia dong, kopernya bisa ketemu kembali,” sahut Dona tersipu malu.


“Makasih ya Dok sudah mau ngembaliin koper saya,” ucap Dona sembari tersenyum.


“Oh iya sama – sama.”


“Etddaah..gue dikacangin, kayak nggak ada orang lain lagi di sini,” gumam Melati pelan sembari memalingkan wajahnya.


Dona langsung menyenggol lengan Melati sambil menyeringai, dan tetap memandang ke arah dr. Rafindra.


“Oh iya, kita belum kenalan. Saya Rafindra, panggil saja Afin.” Sambil tersenyum dr. Rafindra mengulurkan tangannya.


Melati secepat kilat mengulurkan tangannya juga. Dan Dona menatap nanar adik perempuannya itu.


“Melati.”


“Saya Dona, Dok.”


“Panggil saja Afin, ..mm, bagaimana kalau kita ngopi dulu sambil ngobrol – ngobrol,” ajak dr. Rafindra.


Dengan antusias Dona langsung mengangguk. Mereka bertiga segera melangkahkan kakinya lalu menyewa mobil menuju sebuah cafe di dekat pantai.


Perbincangan mereka terlihat akrab, seperti sudah kenal lama. Mereka saling bertukar cerita tentang aktifitas mereka masing – masing. Karena Melati merasa lebih sering diabaikan, akhirnya dia izin kepada kakaknya untuk berjalan – jalan ke pantai.

__ADS_1


Dona dan dr. Rafindra melanjutkan perbincangan mereka kembali. Dona mengatakan bahwa dirinya juga calon seorang dokter. Dan akan melanjutkan pendidikannya untuk mengambil surat izin praktik mandiri.


“Oh ya, bagus dong. Nanti kalau kamu sudah selesai kamu bisa bergabung bersama Ikatan Dokter Indonesia atau The Indonesian Medical Association. Kamu tinggal contact saya aja.”


“Oh gitu, wah beruntung sekali saya ya bisa kenal dengan dokter,” sahut Dona sumringah.


“Jadi kalau saya butuh bantuan bisa dong menghubungi dokter?” imbuh Dona.


“Panggil Afin saja.. biar lebih akrab.”


Dona tersenyum, dan pipinya sudah mulai memerah.


“Bagaimana kalau Mas Afin!” sebut Dona. Afin tersenyum sambil mangut – mangut.


Akhirnya mereka berdua menyusul Melati berkeliling di tepi pantai. Dan pertemanan pun semakin akrab tanpa ada rasa canggung. Melati duduk di bawah sebuah pohon sambil memperhatikan Dona dan Afin dengan senyum bahagia terpancar di wajah Kakaknya.


Melati merasa bersyukur dengan keputusan Papanya membawa mereka berlibur. Akhirnya Dona dapat mengobati luka hatinya tanpa harus menghabiskan waktu yang lama.


“Akhirnya aku bisa melihat senyum itu kembali Kak, dan aku sangat bersyukur untuk itu. Aku berharap senyum indah di bibirmu itu tidak akan pernah hilang, karena kamu layak untuk bahagia Kak,” ucap Melati lirih dengan mata yang hampir dipenuhi air mata.


Biipp.. biiiiippp, biiipp...biiiiippp.


Tiba – tiba saja ponsel Melati berdering.


“Apa!! Yang bener??” ucap Melati dengan raut wajah yang sangat bahagia.


Dia segera berlari menghampiri Dona, dia berkata untuk kembali ke hotel duluan. Dona keheranan, belum lagi sempat menanyakan alasannya Melati sudah menghilang dari pandangannya.


Melati kembali ke hotel dan langsung mengemas barang – barangnya. Sambil naik taksi menuju bandara Melati baru menelepon kedua orang tuanya.


“Halo, Pa. Melati izin balik duluan ke Bandung. Ada yang urgent, kalau Kak Dona akan pulang bareng Mama dan Papa. Salam sama Mama ya Pa. Daa...,” Melati pun menutup teleponnya.


“Halo.. Halo.., Mel!” ucap Pak Heru lalu menggelengkan kepalanya sembari menghempaskan napasnya pelan sambil menatapi layar handphone _nya.


“Ada apa dengan Melati, Pa?” tanya Bu Hilda.


“Melati balik ke Bandung,” jawab Pak Heru datar.


“APA????”


BERSAMBUNG....


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan


JEJAK ya..


And Terima kasih banyak2 untuk yang setia mendukung. 😘😘😍

__ADS_1


__ADS_2