Dia Suamiku, Kak!

Dia Suamiku, Kak!
BAB 13. TERBONGKAR RAHASIA


__ADS_3

Sejak pertemuan tak disengaja kemarin malam antara Melati dengan Aris, membuat Aris semakin tertantang untuk mencari tahu siapa mereka sebenarnya, dan mengapa mereka harus menyembunyikan hubungan kekerabatan di antara mereka?


Sementara keributan kecil juga terjadi di antara Melati dan Dona. Hanya karena Melati keceplosan menunjukkan keluarganya. Dona khawatir jika orang lain mengetahui siapa dia sebenarnya. Dia tidak mau orang lain menganggap bahwa dia hanya azaz manfaat tinggal bersama keluarga Kemalya.


Setelah kembali ke rumah dengan wajah masam Dona berkata kepada Melati, “Seharusnya kamu ingat apa kesepakatan kita, Mel!”


“Aku sudah minta maaf berkali – kali sama kakak, aku tidak sengaja! Aku refleks, Kak!” terang Melati.


“Terus sekarang gimana? Aris sudah tahu hubungan di antara kita. Rahasia yang kita jaga selama bertahun – tahun dengan baik kini hancur dalam waktu seketika, hanya karena seorang cowok. Seorang cowok , Mel!” pekik Dona.


“Lo kenapa sih Kak? Sampai segitunya!” tanya Melati curiga.


“Ya.. ya Kakak nggak nyaman aja kalau orang – orang tahu siapa kita,” jawab Dona gugup.


“Trus, Kakak malu punya adik seperti aku?! Karena aku tidak bisa sehebat Kakak, iya? Jahat lo Kak!” kata Melati dengan sangat kecewa.


“Bukan begitu Mel, Kakak..”


“Aku kecewa sama Kakak, aku nggak pernah nyangka ya..orang yang sudah aku anggap seperti Kakak kandungku sendiri bisa seperti ini. Atau jangan – jangan Kakak punya rencana terselubung dengan keluarga Kemalya?” duga Melati.


“Kamu keterlaluan Mel!” seru Dona sambil menitikkan air matanya kemudian keluar dari kamar Melati.


Melati menarik nafas perlahan, mencoba menetralisir darahnya yang sempat mendidih. Kemudian dia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya.


Sama halnya seperti Dona, air mata Melati juga mengalir di kedua pipinya. Dia tidak pernah membayangkan akan terjadi seperti ini. Kurang lebih hampir sepuluh tahun bersama menjadi kakak dan adik.


Tidak pernah terjadi keributan selama mereka tumbuh bersama, karena keduanya sama – sama saling mengalah. Melati sangat menyesalkan kejadian malam itu.


“Kenapa juga gue harus ketemu Kak Aris semalam, dan bo***nya gue kenapa pakai tunjuk – tunjuk segala. Dasar Melati b***k! Makinya dalam hati sambil menarik selimut ke atas sampai menutupi seluruh wajahnya.


Sementara Dona juga masih memikirkan apa yang barusan saja terjadi antara dia dengan adik angkatnya _ Melati. Tampak sesal menyelimuti raut wajahnya yang cantik.


“Maafin Kakak, Mel! Nggak seharusnya Kakak bersikap seperti tadi, hingga membuat kamu menuduh Kakak seperti itu,” batinnya sambil terus menitikkan air mata ketika dia berbicara dengan buku hariannya.


Dear Diary,


Ternyata pepatah itu berkata benar,


Sebaik – baik tupai melompat, pasti pernah jatuh.


Dan sebaik – baik orang menyimpan rahasia,


Pasti suatu saat akan terbongkar juga.


Rasanya nyesek banget ketika kita saling menyakiti.


Keharmonisan yang terjalin selama ini dengan begitu mudahnya terhempaskan.


Kenapa harus ada ‘dia’ yang membersamai perjalanan kita...?

__ADS_1


Dan aku juga tidak akan pernah menggantikan kasih sayang yang sudah aku dapatkan hanya karena seseorang yang baru dalam perjalananku.


Aku akan selalu menyayangimu, tidak akan pernah tergantikan.


Maafin Kakak..! 😭😭


L  ❤️ U..


Akhirnya mereka berdua terlelap di bawah balutan selimut tebal yang lembut sebagai penghalang dalam terpaan dinginnya angin malam.


***


Bias sinar mentari pagi telah menyapa seluruh penduduk alam. Mengabarkan kepada mereka bahwa hari ini akan baik – baik saja.


Mama memperhatikan raut wajah putrinya lalu berkata, “ Mel! Kamu nggak sakit, kan?”


“Nggak kok Ma, Melati sehat,” sahut Melati sembari menyunggingkan kedua sudut bibir merahnya.


“Lalu Kakak kamu mana, kok tidak di ajak turun sekalian,” timpal Papa yang sudah duduk lebih dulu di kursi makan.


“Belum siap dandan kali Pa,” sahut Melati datar.


Mama merasakan ada sesuatu yang janggal dengan sikap Melati. Tak lama kemudian tampak Dona sedang melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.


Melati segera pamit ke kampus. Dia masih enggan untuk berinteraksi dengan saudara angkatnya. Dan Dona merasakan hal itu.


“Ma, Pa. Melati pamit ya, soalnya pagi ini ada kelas yang dosennya itu super killer. Telat satu detik saja hukumannya tuh.. ha.. nggak bisa kebayang gimana sakitnya,” tutur Melati.


Melati hanya meneguk sedikit susu yang sudah tersaji di atas meja. Lalu mencium Papa dan Mama nya dan langsung terburu – buru pergi.


Dona hanya terdiam dan merasa sangat sedih melihat Melati berlalu tanpa menyapa dirinya. Hatinya sangat terenyuh. Dan Mamanya memperhatikan sikap kedua putrinya.


“Ma, Pa. Dona juga pamit ya. Takut terjebak macet, bisa telat deh,” kata Dona.


“Kalian bareng, kan?” tanya Papa.


“I – iya Pa, paling Melati juga nunggu di depan,” sahut Dona yang langsung mengayunkan kakinya dengan sedikit berlari.


Sekarang hanya tinggal Papa dan Mama Melati yang tinggal di meja makan, sedangkan Mbok Suti  sudah sibuk dengan pekerjaannya.


Tak lama kemudian Pak muncul dan berkata, “ Maaf Pak, Bu. Non Melati dengan Non Dona tidak ke kampus?”


Pasangan suami istri itu saling berpandangan satu sama lain. Ada guratan aneh terpancar di wajah mereka.


“Jadi.. Melati dan Dona tidak berangkat dengan Pak Man?” tanya Bu Hilda.


“Justru dari tadi saya menunggu Non berdua itu Bu,” tukas Pak Man.


“Mereka sudah pergi Pak, kalau begitu nanti Pak Man anter saya saja ke kantor, ya!” titah Pak Heru Kemalya.

__ADS_1


“Baik, Pak.”


Pak Man pun pergi dari ruangan itu.


“Pa! Coba deh Papa pikir. Ada apa dengan kedua putri kita? Nggak biasa – biasanya mereka seperti ini. Mama jadi khawatir sama mereka Pa,” ucap Bu Hilda sedikit cemas.


“Biasa aja tuh,” sahut Papa sembari menghabiskan isi gelas di hadapannya.


“Ih Papa, Mama serius! Pasti mereka lagi ribut,” seru Bu Hilda.


“Ma.. Ma.., Ucapan itu adalah doa maka berucaplah yang baik – baik agar hasilnya juga baik. Bukan mikir yang jelek – jelek begitu,” tutur Heru Kemalya.


“Insting seorang ibu itu biasanya benar lho, Pa. Mama bisa merasakannya,”


“Jangan terlalu berlebihan, Ma. Kali aja lagi ‘PMS’,” tebak Papa.


“Nggak gitu juga kan Pa. Tapi dari mana Papa tahu mereka sedang 'PMS'?”


“Ya nebak aja. Soalnya Mama kalau lagi 'PMS' juga seperti itu, nggak ada angin nggak ada hujan tiba – tiba Papa juga kena semprot,” terang Pak Heru sambil tersenyum.


Bu Hilda hanya manyun sambil menatap suaminya yang tenang menikmati sarapannya.


“Ya sudah nanti sepulangnya mereka dari kampus bisa langsung Mama tanyakan, apa yang terjadi di antara mereka,” saran Pak Heru.


“Iya Pa, Mama cuma khawatir kalau mereka sampai ribut hanya gara - gara cowok,” ucap Bu Hilda.


“Ya sudah, Mama jangan pikir macem – macem yang belum tentu benar. Papa berangkat dulu ya,” saran Pak Heru sembari bergerak meninggalkan tempat duduknya.


***


Di Kampus Melati


Begitu Melati turun dari taksi, dia langsung melihat sepeda motor yang terparkir di depan pintu gerbang masuk. Motor yang sangat familiar bagi Melati.


“Mampus deh gue! Pura – pura nggak lihat aja deh,” gumam Melati dalam hatinya.


Sambil berjalan Melati menutupi wajahnya dengan buku yang di pegangnya saat melewati sepeda motor berwarna hitam milik Aris Pradana. Namun tetap saja Aris dapat mengenalinya, kemudian mengikuti langkah Melati dengan mensejajarinya.


“Mel, tunggu Mel!’ seru Aris.


“Kak Aris ngapain sih ngikuti aku? Nggak ada kelas apa?” tanya Melati sedikit jutek.


“Aku punya banyak pertanyaan untuk kamu, Mel!” ungkap Aris.


“Tantang apa? Aku dan Kak Dona?” tandas Melati.


“Ya, tentang kalian berdua, Apa kalian Kakak beradik?” tanya Aris.


“Iya, puas!” bentak Melati kemudian berlalu secepatnya dari Aris. Sementara Aris hanya terdiam terpaku menatap kepergian Melati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2