Diakah Imamkuu

Diakah Imamkuu
Menemukan Alizah


__ADS_3

Happy Reeding_


***


Faiz mengalihkan matanya ke arah kediamannya. Dia benar benar frustasi. Sudah berjam jam dia mengelilingi kota. Hingga menghubungi satu persatu teman teman Aliza yang diketahui nomornya dari Joni.


Saking tak pernah menyerahnya. Dia sampai bolak balik ke sekolah Alizah. Ini sudah larut. Tentu saja Dia akan khawatir dengan Alizah yang pergi tanpa pamit. Dia semakin sakit hati dengan tindakan Alizah yang melepaskan cincin pernikahan mereka.


"Astagfirullah... Kemana kamu, Dek?! Maafkan Kakak," ucapnya dengan mata berbinar. Dia begitu khawatir dengan keadaan Alizah saat ini. Umi Abi Alizah pasti sama khawatirnya dengan dia. Dia merasa telah lalai dari tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga yang menjaga dan memimpin istrinya.


Alizah pasti telah salah paham. Dia harus memberikan penjelesan padanya. Entah nanti akan ditampar atau dimarahi oleh Alizah. Dia akan tetap diam. Meskipun kenyataanya dia dijebak oleh wanita itu dan tidak tahu menahu dengan semua itu. Entahalah. Ini memang sudah takdir.


Bippp... bipppp...


Ponsel Faiz berdering. Dilihatnya pampaman nama si pemanggil yang ternyata adalah Joni. Berharap Joni memberikan kabar tentang Alizah, Dia dengan cepat menggeser ikon hijaunya.


"Fiz!!"


"Kamu menemukan keberadaan istriku?" Tantannya dengan meneguk ludah susah payah.


"Iya, Faiz! Dia tidak kemana mana. Istrimu itu masih berada di kediamanmu. Aku bisa melacak keberadaanya dengan gps yang ada di ponselnya," terang Joni.

__ADS_1


Tanpa mematikan sambungan telepon. Faiz yang tadinya masih berdiri dan membatu di halaman, langsung berlari memasuki kediamannya.


“Dek!!" teriak Faiz saat menaiki anak tangga. Dia menuju kamar, berharap menemukan Alizah. Namun, tidak ada. Faiz kembali mencari di semua ruangan di kediamannya, hingga kakinya tak terpukul di ambang pintu. Namun, rasa sakit itu sama sekali tidak dipedulikan. Saat ini yang Dia fikirkan adalah menemukan Alizah dan meminta maaf pada istrinya itu. Faiz berharap kali ini Alizah tidak menangis. Jika pun Dia menangis, jangan biarkan dia melihat air mata istrinya itu. Dia akan merasa semakin bersalah, sesalah salahnya.


Faiz berdiri di tengah tengah ruang tamu. Dadanya turun naik karena ngos ngosan. Hembuskan nafasnya terdengar kasar. Dia menatap seluruh penghujung ruangan. Semuanya sudah dia cek. Namun, tetap tidak menemukan keberadaan Alizah.


"Ya, Allah. Jangan biarkan kemarahan menguasai hambamu ini...," gumanya beristigfar.


Faiz kembali menatap ke arah lantai atas. Dia mencoba mengingat ngingat.


"Taman belakang. Aku belum memeriksa taman belakang," ucapnya kembali berlari menuju taman bunga yang terletak di belakang kediaman mereka. Taman yang Dia siapkan untuk Alizah. Mungkin! Mungkinkah Alizah berada di sana? Ya Allah... semoga iya.


"Hikssssss..."


Deg!


Jantung Faiz berdetak dengan sendirinya. Langkah kakinya langsung berhenti. Dia berbalik ke arah sumber tangisan yang didengar tadi.


Bagaikan sebuah anugrah... Alizah berdiri di ujung sana, dengan memegang koper di tangannya. Tanpa sadar air mata Faiz lolos begitu saja. Faiz langsung melangkah mendekati Alizah, tanpa berkata Dia langsung meraih tubuh Alizah dan membekap tubuh istri kecilnya itu. Alizah yang dibekap dengan mendadak, bisa merasakan aroma tubuh Faiz yang memasuki penciumannya.


"Dek..." ucap Faiz dengan nada renda, "Maafkan, Kakak. Kenapa Adek pergi? Kakak bisa menjelaskan semuanya," ucap Faiz yang semakin mengeratkan pelukannya. Tangannya meraih tangan Alizah dan mengecup tangan istrinya itu.

__ADS_1


"Bisakah jangan jauh lagi dari, Kakak?" ucap Faiz.


"Kamu pembohong." Sebuah kata pahit keluar dari mulut Alizah.


"Ana uhibukafillah... Cinta ini hadir karena Allah. Ana uhibukafillah... Aku menikah karena menginginkan cinta yang suci. Demi Allah... Kakak tidak akan berani mendustakan cinta suci ini, Dek... Maafkan, Kakak. Adek bisa marah. Kakak juga akan terima jika Adek ingin menampar Kakak. Tapi..." Faiz menjeda kata, "Jangan pergi, Dek..."


Hati Alizah tiba tiba ternyayat mendengar kata kata Faiz. Namun, Dia hanya manusia biasa. Untuk memafakan tidak mudah untuknya. Haitnya benar benar sakit saat kembali mengingat yang dilihatnya di hotel.


"Hiksss..." Tangis Delisa tersedu sedu.


"Maafkan Kakak..." Faiz menatap buliran air mata yang jatuh membasahi pipi Alizah.


***


Hai😎 Mimin kembali menyapa. Kira kira masih ada yang mau baca lagi nih, ya? Kisah Faiz dan Alizah?


Udah lama bangat, Mimin gak UP.


SORRY.. KALIAN SELALU MENUNGGU. NAMUN, MIMIM MALAH NGECEWAIN.


BUAT YANG MASIH SETIA MENUNGGU KISAH FAIZ DAN ALIZAH INI... BISA BERIKAN KOMENTAR, YA.

__ADS_1


__ADS_2