Diakah Imamkuu

Diakah Imamkuu
Keturunan?


__ADS_3

Pagi menjelang siang. Matahari siang pun  telah berganti menjadi orange. Menunjukan waktu sore telah tiba.


Setelah kejadian yang menimpa keharmonisan rumah tangga mereka beberapa minggu lalu. Kini, hubungan Faiz dan Alizah semakin membaik. Apalagi, sekarang ini Alizah menjadi begitu sibuk untuk menghadapi ujiannya.


Selain itu, Dia ingin memperbaiki kesalahan masa lalunya dengan selalu meluangkan waktu untuk mempelajari dan mendalami ilmu agama.


Dia ingin menjadi gadis yang mandiri.


Dan menuntun Faiz untuk membimbingnya menjadi wanita sholehah, wanita yang berbakti pada agama. Faiz dengan senang hati menghabiskan waktunya bersama Alizah.  Mengajari dan menuntut istrinya itu, agar berucap dan berperilaku sesuai dengan syariat agama. Salah satunya menuntunnya, untuk menjadi istri sholehah.


Seminggu ini, Alizah mulai mempraktikan diri menjadi istri yang baik untuk Faiz, suaminya. Kehidupannya terasa begitu indah. Kini, Alizah mulai merutuki masa lalunya.


Mengapa dari dulu, Dia tidak menyadari akan kemanisan ini. Begitu indah, hingga Dia tidak ingin melewatkan semenit pun, dengan Faiz. Namun, itulah kehidupan. Tidak akan ada kata menyesal, jika seseorang tidak memiliki masa lalu. Begitupun sebaliknya, dengan masa lalu membut kita menjadi lebih baik.


Faiz memang tidak romantis. Namun, kelembutan Pria itu jauh dari kata romantis. Di mata Alizah, Faiz adalah Pria terbaik di dunia. Iya, tentu saja Dia akan memikirkan hal itu. Dia kan istrinya. Jadi, mana ada memikirkan Pria lain.


Lantunan ayat ayat suci Al-Qur'an, kini dilantunkan Alizah. Duduk dan bersendawa. Melipat kaki dan terlihat khusyuk dengan bacaannya. Gadis itu tidak menyadari keberadaan Faiz yang tengah memerhatikannya dan mendengar lantunan Al-Qur'an yang ia bacakan.


Faiz berdiri di pintu kamar. Alizah pasti tidak menyadari kedatangannya. Faiz sendiri memilih diam hingga Alizah menyudahi bacaanya. Ada kebahagiaan tersendiri untuk dirinya. Setelah sekian lama menanti perubahan Alizah, sekarang impiannya telah terwujud. Ya, itulah yang menjadi impiannya selama ini. Hidup bersama Alizah dan melalui  masa depan bersama buah hati mereka nanti.


"Alhamdulillah. Terima kasih untuk hidayatmu Ya Allah. Tuntunlah hambamu ini menjadi imam yang baik untuknya dan untuk rezeki yang akan kau berikan nanti pada kami... buat hati kami."


Itu akan begitu indah.


"Sodakallah hul'adzim..."


Alizah mengakhiri bacaannya. Dia menutup Al-Qur'an dan berniat untuk membenarkan tatanan sofa.


Saat itu Alizah dibuat terperangah saat tiba tiba seseorang menyentuhnya dan mengecup pucuk kepalanya.


"Assalamualaikum..." ucap Faiz tengah tersenyum kepadanya.


Mata Alizah tak berkedip. Dia malah tertegun mendapati keberadaan Faiz dengan berjuta senyuman dan mimiknya yang berhasil membuat Alizah tertegun.


"Suamiku begitu mempesona..." gumam Alizah dalam hati. Faiz malah terkekeh melihat tingkah istri kecilnya itu. Menggemaskan.


"Assalamualaikum, dek..." ulang Faiz untuk yang kedua kalinya. Kali ini membubarkan lamunan Alizah.

__ADS_1


"Wa-Waalaikumussalam," saut Alizah dengan menunduk. Wajahnya sudah memerah memikirkan apa yang dia pikirkan tadi.


"Akh, Aku sangat malu," katanya dalam hati.


"Dek..." ucap Faiz semakin mendekati Alizah. Alizah yang dideketin malah makin menunduk. Wajahnya malah semakin merona saat Faiz semakin menunduk padanya. Alizah berfikir Faiz mulai meminta kewajibannya sebagai seorang istri. Bukanlah begitu, kan? Jika bukan, memangnya untuk apa dia dekat dekat?


"Mungkin Dia minta makan. Jadi Aku harus masakin." Alizah mulai bermonolog dengan diri sendiri. "Akh, bukan!" sergahnya lagi. "Jika mau makan tidak akan sedekat ini."


Dilihatnya tubuh Faiz semakin mendekat. Hingga membuat detakan jantungnya serasa mau copot saja. Alizah berfikir mungkin saja jantungnya saat ini sudah lepas. Gerakan jantungnya benar benar tidak seimbang.


"Dek..."


"Hemm?!" Dehem Alizah.


"Adek belum salam."


"Eh?!" Alizah membatu melihat Faiz yang tengah menyodorkan tangan padanya. Dia dengan kikuk meraih tangan Faiz dan menciumnya.


“Adek, dah sholat?” tanya Faiz yang mendapati anggukan Alizah.


“Bagaimana denganmu?”


Astaga. Dia hampir lupa dengan kepolosan Alizah. Sepertinya Dia harus menjelaskan dengan detail tentang 


suami istri. Tapi, Faiz bingung harus jelaskan dari mana. Dia tahu, ini belum waktunya meminta Alizah untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Lagian, Dia juga tidak akan memaksa jika memang Alizah belum siap. Pada akhirnya Dia akan kembali menunggu. Semua orang tahu. Menunggu adalah sesuatu yang paling membosankan, menyakitkan dan melelahkan. Namun, untuk seorang Faiz, itu adalah bentuk kesabaran untuknya dalam meraih keindahan bersama istrinya, Alizah.


“Maaf... kakak gak izin," ucap Faiz membuat Alizah yang menunduk akhirnya mendongkak. Saat itu, kedua mata mereka saling bertemu dan beradu pandang. Lagi lagi Alizah terpukau pada Faiz. Alhasil Dia kembali menunduk sambil berkata, "Tidak apa apa. Kamu juga tidak perlu izin jika ingin menyentuh ku. Aku istrimu," ucap Alizah, membuat Faiz terpaku. Selang beberapa menit berikutnya baru Dia mengangguk paham.


"Kakak ingin bicara denganmu," ucap Faiz.


"Iya," Alizah mengangguk. Masih setia menunduk.


"Ke sini... duduk di sini dan tatap Kakak," ucap Faiz menyentuh sofa di depannya. Sedang Alizah malah makin bergetar mendengar suara lembut Faiz. Dia benar benar jatuh cinta pada Pria yang memiliki corak suara yang begitu lembut hingga mampu menggetarkan lawan jenis yang mendengarnya. Lantas, banyak para wanita berpakaian syar'i tergila gila padanya. Dan lantas, para rekan kerjanya saking gilanya sampai menjebaknya.


"Pria di depanku ini terlalu memukau. Dan... Dia suamiku, hehe," tawa Aliza dalam hati. Mana berani berbicara terang terangan. Baru ditatap oleh Faiz saja, rasanya Dia mau mati. Saking dag dig dug-nya. Itu juga baru ditatap. Alizah.. oh Alizah! Tampangmu memang pernah nakal. Namun, dalam urusan beginian. Lembek, lelet, dan falesnya minta di ampun.


"Dek..." panggil Faiz karena Alizah masih tak bergeming.

__ADS_1


"He'em," saut Alizah dengan berdehem. Dia dengan patuh membenarkan posisi duduknya menatap Faiz, lalu menatap Pria di depannya.


"Kakak mulai aja, ya?"


"Iya." Alizah menyahuti.


"Apa Adek pernah mendengar sebuah hadis tentang suami istri?" tanya Faiz.


Alizah menggeleng.


"Hal teracntum dalam sebuah lafadz Allah, Dek...” Faiz pun mulai membacakan lafadznya.


…هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ…


…Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami), dan kalian adalah pakaian bagi mereka…(Q.S al-Baqoroh)


“Sebagai suami istri, Adek adalah pakaian untuk kakak, begitupun sebaliknya. Kita saling menjaga dan memiliki." Ucap Faiz  dengan kata yang paling mudah dipahami.


Nampak Alizah yang terlihat kebingungan.


"Emm?!" Faiz berdehem. Dia sendiri kebingungan, bagaimana cara menjelaskan pada Alizah dengan kata yang paling mudah dipahami istrinya itu. Ingin menggunakan kata fulgar, takutnya Alizah malah salah paham. Tapi jika tidak begitu, Alizah juga tidak akan paham, dengan tujuan menikah. 


"Selain menjalankan sunnah dan ibadah. Menikah juga untuk meneruskan keturunan, Dek. Emm..." Faiz berdehem. Dia menatap lamat lamat mimik Alizah yang terlihat biasa saja. Sebenarnya Dia sudah paham atau bagaimana? saat ini itulah yang di fikirkan Faiz. Dia yang sering menerangkan dan presentasi di layar deskop saat meeting ataupun rapat mendadak perusahaan. Dan selalu menjadi pemimpin rapat yang menguasai vorum, siapa sangka untuk menjelaskan pada Alizah, perkara yang satu ini, membuatnya kebingungan.


"Emmm?!" Alizah berdehem. Dia terlihat berfikir berfikir. Kemudian beralih menatap Faiz sambil berkata, "Meneruskan... keturunan...?" ucapnya pada Faiz.


***


Partnya baper baper ya? 


Hahaha: Author cumang katawa.


Di episod episod ini dan beberapa episode nanti, emang waktunya baper. Kan waktunya mereka bahagia. Entar baru ada konflik lagi. Wkwwk. Aku sih udah gak tega ngasih konflik melulu. 


Sekaligus info, Aku gak bisa up setiap hari, ya. Mengerti dong... Aku jg sibuk dengan keseharianku. Aktifitasku. Pekerjaanku. Kewajibanku. Eh? sebagai anak bangsa.  wkwkw.


Gak bisa crazy up😅 hehehe.

__ADS_1


Happy Reeding😘❤


Ikuti kisah selanjutnya, ya....


__ADS_2