
Setelah beberapa saat, terdengar suara ketukan pintu, Cinta dan Rangga terkejut dan langsung menjaga jarak satu sama lain.
Tina bersama Razi masuk ke dalam kamar, tanpa melihat suasana canggung di antara Cinta dan Rangga, mereka datang langsung memeluknya. "Kak Cinta!"
"Ibu!" panggil mereka secara bersamaan.
Mendengar mereka memanggil secara bersamaan, dia pun tersenyum. "Kalian ini sudah seperti Kakak dan Adik saja " saut Cinta.
Mereka pun melepas pelukannya dan memandinginya. "Kakak aku merindukanmu!"
"Razi juga merindukan Ibu!" sambungnya.
"Maaf Kak, ini semua salah Tina. Jika saja Tina tidak terburu-buru menghubungi kakak, ini semua tidak akan terjadi."
"Bukan, ini semua salah Razi. Razi yang tiba-tiba mengejar ayah. Ibu maafkan Kak Tina dan ayah, mereka tidak salah. Hukum saja Razi sebagai gantinya" ungkapnya.
"Ini bukan salah kalian. Ini semua salahku, jika Razi tidak melihatku, dia tidak akan pergi kemanapun," sambung Rangga.
Mereka semua terdiam menunggu reaksi Cinta. "Kurasa mereka tidak akan terima, jika aku memaafkan mereka semudah itu," pikir Cinta.
"Baiklah, karena tidak ada yang mau mengalah, kalian semua harus menerima akibat dari perbuatan masing-masing. Untuk Tina, lakukan pekerjaan rumah dan bantu kakak berolahraga. Hmm… sedangkan untuk Rangga dan Razi, bagaimana kalau berbelanja dan memasak kepiting saus padang," ungkapnya.
"Kepiting saus padang?" tanya Rangga.
"Oh itu… masakan yang kakak sukai, ketika tinggal di kota asal kami," saut Tina.
"Jadi ibu selama ini tinggal dimana?" tanya Razi.
"Ibu tinggal di sebuah kota kecil daerah Sumatera Utara," sambungnya.
Rangga terdiam di penuhi dengan berbagai pertanyaan di dalam pikirannya. "Sebenarnya apa yang terjadi padamu selama 5 tahun ini? Kenapa kau ada di Indonesia dan apa rasa suka seseorang, terhadap masakan bisa berubah? Bukannya dia tidak suka makanan pedas...."
"Pak...Pak Rangga!" panggil Cinta sambil mengayun-ayunkan tangannya di hadapan Rangga.
Rangga pun sedikit tersentak. "Oh Maaf, kami akan pergi belanja sekarang."
Malam pun tiba, sambil makan malam bersama mereka berbincang ringan. "Tok tok" suara pintu diketuk, ada seorang tamu yang datang. Tina pun membuka pintu dan mempersilakannya masuk.
Sesosok pria tampan masuk dan menghampiri mereka. Cinta berbalik dan melihat sosok pria itu. "Kakak!" panggilnya.
Cinta bangkit dari duduknya dan langsung memeluk pria itu, sedangkan Rangga yang melihat itu semua, terlihat kesal dan menahan amarahnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Randi.
"Kak Cinta, sudah sehat. Kakak seharusnya gak perlu buru-buru balik ke Indonesia!" cetus Tina.
Pria itu melepas pelukannya. "Dia sama sekali belum berubah, masih kasar sama seperti dulu," bisiknya.
Melihat mereka berbisik Rangga semakin tidak bisa menahan amarahnya lagi. "Apa yang sedang kalian lakukan di depan anak kecil!" tegasnya.
__ADS_1
"Walah-walah… aku lupa kalau masih ada Rangga. Bisa gawat kalau sakitnya kambuh dan marah-marah gak jelas," pikir Cinta.
Cinta ingat pernah melihat Rangga marah-marah dengan karyawan wanita di perusahaannya yang hanya melakukan kesalahan sepele. Dia pun segera mengambil langkah mundur untuk menjaga jarak dari Randi.
"Kalian sedang ada tamu ya. Siapa dia? Rekan kerja?" tanya Randi.
"Dia…," saut Cinta sambil berpikir.
Rangga menunggu jawaban Cinta dan berharap agar dia mendapat jawaban yang memuaskan hatinya.
"Hmm kurasa… rekan yang saling tolong menolong " ungkap Cinta.
"Hah?" saut Rangga dan Randi bersamaan.
"Ehem yah begitulah…perkenalkan namaku Rangga dan ini putraku Razi."
"Oh ternyata rekan," gumam Randi. "Namaku Randi. Teman baik dan sekaligus kekasih gelapnya," ungkapnya sambil merangkul bahu Cinta.
Rangga dan Randi saling memandang satu sama lain, seperti ada kilatan listrik dibalik tatapan mereka. Rasa benci di antara ke duanya mulai timbul.
Seketika Cinta meraih tangan Randi dan memutarnya hingga kebelakang punggung pria itu.
"Sa-sakit," saut Randi.
"Makanya, lain kali jangan bicara sembarangan," saut Cinta sambil melepaskan tangan Randi.
"Cih.. gitu aja marah."
"Sa-sakit. Iya aku salah. Maaf deh...."
"Rasain, emang enak…" cetus Rangga.
"Barusan kayak ada suara ayam berkotek, kalian dengar gak?"
"Apa! Berani-beraninya memanggilku ayam. Sini kalau berani!" ungkap Rangga.
"Siapa takut!" saut Randi.
Mereka berdua saling mendekat sambil menggulung lengan baju masing-masing, seperti anak kecil yang bertengkar karena berebut sebuah permen.
Sedangkan Razi hanya bisa diam keheranan melihat kelakuan mereka berdua. "Kekanak-kanakan" pikirnya.
Cinta mulai lelah mendengar pertengkaran mereka. "Bisakah kalian berhenti bersikap kekanak-kanakan. Bahkan anak kecil jauh terlihat lebih dewasa, dari pada kalian," ungkap Cinta.
Mereka berdua mengabaikan perkataan Cinta dan terus bertengkar. Tina mendekati Cinta, lalu berbisik padanya untuk menakut-nakuti mereka.
"Baik jika kalian tidak mau berhenti, aku akan menelepon polisi!" ancam Cinta. Tapi mereka tetap mengabaikan ucapanya.
Akhirnya Cinta berpura-pura mengambil hpnya dan menelepon polisi. "Halo Pak polisi, di rumah saya ada dua orang pria yang sedang bertengkar. Datanglah ke alamat jln.kelapa…."
__ADS_1
Mereka berdua tersentak dan langsung berhenti bertengkar. "Kami hanya sedang bercanda, ya kan?" saut Randi sambil merangkul bahu Rangga.
"Iya benar, cara pria berteman berbeda dengan wanita," sambung Rangga.
"Jadi maksudnya, kalian itu tidak bertengkar melainkan sedang bercanda sebagai teman, begitu?" tanya Cinta.
"Iya," saut mereka.
"Sudahlah a-aku…" seketika Cinta merasa pusing dan kehilangan pijakannya lalu jatuh pingsan.
"Cinta!"
"Ibu!"
"Kakak!"
Mereka semua langsung panik melihat Cinta jatuh pingsan.
"Ini semua salahmu!" tegas Rangga.
"Bukannya kau yang mulai deluan!" saut Randi.
"Kalian berdua berhentilah berdebat!" bentak Tina.
Mereka berdua tersentak kaget mendengar bentakan Tina. "Kalian berdua sudah dewasa, tapi sangat ke kanak-kanakan. Kalau kalian tidak ribut, kak Cinta gak bakalan pingsan. Masalah kemarin sudah sangat berat untuk kak Cinta, jadi jangan menambah masalah lagi untuknya," ungkap Tina.
Untuk pertama kalinya mereka melihat Tina marah sampai seperti itu. Rangga dan Randi hanya bisa terdiam sambil merenung menyesali perbuatan mereka masing-masing.
Mereka membawa Cinta ke kamarnya untuk beristirahat. Suasana menjadi hening, Tina merasa canggung memulai percakapan setelah amarahnya tadi sempat memuncak.
"Maaf sudah membuat kalian susah, tadi aku sempat lepas kendali dan ribut dengan Randi. Tidak seharusnya aku marah dengan hal sepele seperti tadi," ungkap Rangga.
"Aku juga minta maaf, aku baru kembali dan sudah menambah masalah kalian," sambung Randi.
"Sudahlah Kak Rangga dan Kak Randi pulanglah dulu. Ini sudah hampir tengah malam, Tina dan Razi mau istirahat," cetusnya.
Mereka berdua pun keluar, ketika di depan rumah Cinta, mereka hanya diam dan saling memberikan tatapan tidak senang satu sama lain.
Awalnya Randi hanya teman masa kecil Cinta, namun dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, ia memendam perasaannya sendiri.
Sebelumnya Randi menyadari, tidak akan pernah ada sebuah pertemanan di antara pria dan wanita. Salah satu dari mereka pastilah memendam perasaannya untuk menjaga hubungan satu sama lain. Seperti berada di atas sebuah jembatan gantung yang akan putus, tidak tau harus berjalan maju atau mundur.
Mengatakan perasaan hanya akan menghancurkan hubungan pertemanan, jika tidak dikatakan hati akan hancur ketika melihatnya bersama orang lain. Begitulah yang ia takutkan ketika melihat Rangga dekat dengan Cinta.
Randi merasa kesal dengan Rangga karena selama ia mengenal Cinta, dia tau kalau Cinta tidak mudah dekat dengan pria manapun. Rasa cemburunya terhadap Rangga membuatnya ingin segera mendapatkan Cinta.
🌺🌺
Halo sobat salam dari Aki Chan 😃
__ADS_1
ini adalah novel perdanaku, Aki harap para pembaca memberi kritik, dan saran yang membangun untuk karya ini.
Jika berkenan silahkan di vote.💐