DIARI CINTA

DIARI CINTA
Chapter 23 Musuh Tersembunyi


__ADS_3

Saat kembali ke ruangan studio pemotretan, senyuman hangat sebagai sapaan ia berikan pada setiap orang yang berpapasan  dengannya, ada yang membalas dengan tatapan kagum diiringi senyum, ada juga yang menunduk hormat padanya, karena statusnya yang merupakan tunangan Bos di perusahaan tersebut. 


Walaupun gosip yang di katakan dua karyawan wanita saat di toilet sudah tersebar, tidak ada seorang pun yang berani bergosip secara terang-terangan, dan tidak ada seorang pun yang berani memandangnya sebelah mata.


Namun hal itu tidak bertahan cukup lama, keadaan mulai berbalik, saat Cinta selesai melakukan pemotretan, muncul desas-desus yang menyebar ke setiap sudut perusahaan itu.


Tina berlari menghampiri Cinta, yang sedang duduk berada di ruang peristirahatan. "Gawat Kak!" ucapnya.


"Apanya yang gawat?" tanya Cinta yang sedang asyik, membaca sebuah majalah dengan santainya.


"Di luar perusahaan ada ambulans datang-" Ucapannya terhenti karena kehabisan nafas.


"Memangnya apa hubungannya dengan ku?" tanyanya sambil membalik halaman majalah itu.


Tidak lama kemudian. "Kak … wanita bernama Seli ditemukan di toilet pingsan seorang diri, kepalanya berdarah terbentur wastafel. Ada yang bilang, Kakak bersamanya saat itu terjadi."


Cinta terkejut mendengar perkataannya. "Apa! Jadi mereka mau menuduhku! Siapa yang berani mengatakan itu?"


"Ada seorang CS yang sedang membersihkan lantai di depan toilet wanita, dia bilang selain Kakak tidak ada lagi yang keluar dari sana, karena saat itu sudah mulai jam kerja."


"Apa dia lihat dengan kedua matanya itu, kalau aku mendorong Seli!" kesalnya.


"I-itu …."


"Sebaiknya kita lihat apa yang terjadi di sana."

__ADS_1


"Baik Kak."


Toilet itu berada di lantai 1, sedangkan studio tempat Cinta berada di lantai 5.  Ia tidak menggunakan toilet yang ada di sana, di sebabkan karena ramainya jumlah karyawan yang menggunakannya pada saat itu.


Amarah di dalam hatinya belum sirna, atas gosip yang telah ia dengar sebelumnya. Entah kenapa hatinya semakin berkecamuk, mendengar dirinya di tuduh atas apa yang tidak ia lakukan. 


Keramaian di tempat itu, mengganggu jarak pandangnya. Matanya melirik ke segala arah, untuk mencari sosok Seli dan CS yang sudah menuduhnya. 


Orang-orang yang ada di sana, tiba-tiba menyingkir untuk memberikan jalan. Terlihat Rangga sedang menggendong Seli yang  pingsan tak sadarkan diri. Rangga terus berjalan melewati Cinta yang tepat ada di sampingnya, tanpa melirik ke arahnya sedikitpun.


Tanpa sadar emosi apa yang ia rasakan, alis matanya tertarik kedalam, bibirnya mengerucut dan pandangan matanya tak lepas dari mereka berdua, yang semakin menjauh dari posisinya berdiri diam mematung.


Tina yang juga ada di sampingnya, ikut terpaku melihat sikap Rangga yang seperti itu. Yang ia tau kalau Rangga selalu berusaha mendekati Cinta, tanpa mempedulikan hal lain.


"Apa benar dia yang melakukannya?"


"Entah la, kebanyakan artis itu lain di publik, lain lagi sifat aslinya."


"Beruntung juga kita yang hanya orang biasa ini, sifat standar, gak licik kayak dia!"


Muncul seorang pria yang terlihat tidak asing dari balik kerumunan. "Sedang apa kalian disini! Cepat bubar! Kerjaan tidak bisa selesai dengan sendirinya, bubar!" Tegas Daren.


Kerumunan yang tadinya memenuhi sudut ruangan itu, sudah mulai terasa sunyi. Daren menghampiri Cinta yang masih diam membisu.


"Apa kau baik-baik saja?" Daren mengayunkan tangannya di hadapan Cinta.

__ADS_1


Pandangan matanya kembali fokus melihat Daren yang sedang berdiri tepat di hadapannya. "A-aku baik." Ucapnya sambil memegangi kepalanya.


"Apa kepala mu terasa sakit?" 


"Tidak, aku hanya merasa sedikit aneh."


Tina mulai tersadar dari lamunannya. "Kakak butuh istirahat! Lebih baik kita pulang aja." 


"Tidak, ayo kita ikuti ambulan itu."


Seorang wanita sedang duduk di lobi tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Wanita itu memakai masker, topi dan juga jaket bertuliskan pesan antar. 


Dia sedang memegang sebuah majalah, yang memang tersedia di sana. Majalah yang ia pegang hanya sebagai kamuflase, untuk menutupi niat yang sesungguhnya. Diam-diam lirikan matanya curi pandang pada mereka bertiga. 


Tidak ada yang tau, siapa sebenarnya dia? Dan apa yang terjadi pada Seli? 


Musuhnya yang sebenarnya sudah mulai memunculkan taringnya, sedangkan Cinta masih belum menyadari, kalau nyawanya sedang dalam bahaya. Siapa yang akan melindunginya?


🌺🌺


Halo sobat salam dari Aki Chan 😃


ini adalah novel perdanaku, Aki harap para pembaca memberi kritik, dan saran yang membangun untuk karya ini.


Jika berkenan silahkan di vote.💐

__ADS_1


__ADS_2