
Empat tahun yang lalu, sehari sebelum kecelakaan yang sudah di rencanakan oleh pria itu.
Sudah satu bulan Zira berada di Indonesia, tepatnya di daerah Sumut untuk mencari keberadaan adiknya Cinta.
Saat masih di Amerika ia beberapa kali mengirim kan surat padanya, namun tanpa ia ketahui, hal itu memancing mr x untuk mencelakai adiknya.
Karena ancaman darinya, ia memilih meninggalkan Rangga dan Razi yang saat itu masih berumur satu bulan.
Zira sudah mencoba menulis surat pada Rangga, namun surat itu tak jadi ia berikan karena takut di ketahui oleh mr x.
Saat ia menemukan bukti kematian ibunya dan mengetahui identitas asli mr x, semuanya sudah terlambat. Ia tidak bisa kembali mengulang keputusan yang sudah terlanjur ia lakukan.
Zira akhirnya menemukan Cinta yang sedang bekerja di rumah makan milik keluarga Randi.
Di siang hari di saat Cinta masih bekerja, Zira mampir ke kos yang di tinggalinya. Ia tau kalau Cinta tinggal dengan seorang adik yang bernama Tina.
__ADS_1
Zira membawa sebuah kotak yang berisi flasdis. Flasdis itu merupakan bukti pembunuhan ibunya, ia bermaksud menitipkan kotak itu pada Tina, karena takut sesuatu hal buruk menimpa dirinya sebelum semuanya terungkap.
Saat Tina membuka pintunya, Zira langsung menyodorkan kotak itu padanya. "Ingat simpan ini baik-baik! Jangan berikan kotak ini pada siapapun selain Kakak," ucap Zira yang berpura-pura sebagai Cinta.
Dengan wajah polosnya, Tina sedikit menganggukkan kepalanya tanpa tau isi kotak tersebut. Dari balik kotak itu ia melihat sebuah tulisan yang di tulis dengan tinta berwarna emas.
"Kotak apa ini Kak?" tanyanya.
"Itu kotak Pandora," ucapnya pelan sambil tersenyum.
***
Di malam hari di dekat kos-kosan tempat tinggal Cinta dan Tina. Zira menemui Cinta dan mencoba menceritakan apa yang terjadi pada ibu dan dirinya.
"Cinta, maaf baru sekarang aku bisa datang menemui mu. Dua tahun yang lalu ibu di bunuh olehnya, aku mencoba membalaskan dendam ibu namun berakhir gagal. Sebelum ibu meninggal, dia menceritakan tentang ayah dan dirimu. Aku datang ke sini untuk meminta bantuan mu, pria itu mengejar ku karena bukti yang ku pegang," ucap Zira.
__ADS_1
Kedatangan Zira bersama dendam yang di bawanya, begitu tiba-tiba dan mengejukan Cinta. Dia yang begitu merindukan kasih sayang seorang ibu, tentunya tidak bisa menerima kabar kematian ibu yang sebelumnya tidak pernah ia lihat.
"Aku tidak ingin ikut campur dengan masalah mu," ucap Cinta.
Zira menggenggam tangan Cinta. "Aku tau, ini semua begitu tiba-tiba bagi mu. Tapi bagi ku, alasan ku tetap bertahan selama dua tahun, hanya untuk membalaskan kematian ibu. Ku mohon… bantulah aku."
"Kau pikir aku peduli! Kalian tidak pernah ada untuk ku, di saat aku paling membutuhkan sosok seorang ibu!" Kesalnya sambil menarik tangannya dari Zira.
"Maafkan aku… ibu dan ayah punya alasan sendiri kenapa memisahkan kita," lirih Zira.
"Aku juga tau itu! Sekali lagi ku katakan, aku tidak akan ikut campur dengan urusan mu, titik."
"Maaf, seharusnya dari awal aku tidak melibatkan mu. Aku menitipkan pada Tina salinan bukti kejahatannya. Terserah pada mu, kau bisa membuangnya jika kau mau," cetus Zira sambil beranjak pergi.
Pertemuan pertama mereka, hanya meninggal kan luka lain di hati masing-masing.
__ADS_1