
Malam hari di rumah Rangga. Cinta yang sebenarnya adalah Zira datang bersama Tina untuk merayakan ulang tahun Razi. Tina tidak mengetahui, kalau Cinta yang bersamanya selama ini, ternyata bukanlah Cinta yang asli.
Mereka datang di sambut oleh asisten rumah tangga yang terlihat cukup tua.
"Apa yang di katakan Cinta benar, surat itu belum sampai ke tangannya," batin Zira dalam hati.
"Kak Cinta!" Panggil Tina sambil melambaikan tangannya di hadapan Zira.
"Ha? Ada apa?" Sahut Zira kebingungan.
Tina sedikit mendesah melihat Kakaknya yang sering termenung semenjak pertunangannya berakhir. "Tina tau kalau Kakak lagi banyak masalah, kita seharusnya tidak datang ke sini. Gimana kalau kita langsung pulang aja," bisik Tina.
"Jangan khawatir… ini baru permulaan," bisik Zira. Ia pun segera melangkah masuk ke dalam rumah Rangga.
"Permulaan?" Gumam Tina yang masih berdiri di depan pintu.
Saat Zira sudah berada di dalam, aroma wangi yang terasa familiar tercium begitu menyengat di hidungnya.
Tatapan matanya berubah sedih saat teringat akan kenangannya dulu bersama Rangga. "Bunga iris… bahkan setelah bertahun-tahun lamanya, kau masih memakai apa yang aku sukai," batinnya.
Tidak lama kemudian Rangga yang sedang menggendong Razi, keluar bersama Daren dan Seli.
"Ibu," panggil Razi.
Rangga menurunkan Razi tanpa menatap sedikit pun ke arahnya. "Aku akan mengantar kan mereka keluar," ucap Rangga.
__ADS_1
Daren dan Seli tersenyum pada Zira sebagai sapaan sebelum mereka pergi.
Ia pun membalas senyuman mereka sambil sedikit mengangguk. "Tidak sia-sia aku menjadi artis selama 3 tahun," batin Zira. Ia tau tidak mudah baginya yang dulu, untuk merubah ekspresi wajah dalam hitungan detik.
Setelah mereka pergi, Razi masih berdiri di tempat ia di turunkan tadi. Ia merasa ragu untuk mendekati ibunya.
Zira berjongkok menatap Razi, "kenapa? Biasanya kau langsung berlari dan memeluk ibu tanpa ragu."
Mendengar ucapannya, keraguan di hati Razi pun sirna, ia berlari dan langsung memeluk ibunya dengan erat. "Ibuu… Razi takut, ibu tidak mau menemui ku lagi. Paman Daren dan Tante Seli bilang, ibu dan ayah tidak mungkin bersama," lirihnya.
Zira melepas pelukannya lalu membelai pelan rambut anaknya. "Razi dengarkan ibu, mulai sekarang jangan dengar kan perkataan orang lain selain ibu dan ayah. Mau kan?" Ucapnya lembut.
"Razi akan mendengar kan semua perkataan ibu, asalkan ibu tidak meninggalkan Razi lagi," sahutnya dengan wajah sedih.
Ia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak berukuran kecil. Ia buka kotak itu dan ternyata isinya adalah kalung liontin baru yang sudah berisi foto pernikahan Rangga dan Zira.
"Ini hadiah ulang tahun yang sudah ibu siapkan. Kalung yang lama tidak bisa di perbaiki lagi, makanya ibu belikan yang baru" ucap Zira sambil mengalungkan kalung itu pada Razi.
"Dan ini berikan pada ayah mu di saat dia sedang sedih," sambungnya sambil memberikan kotak lain yang berukuran sedang.
"Baik, Bu." Jawabnya.
Setelah menemaninya cukup lama, Zira membiarkan Tina bermain bersama Razi, sementara ia diam-diam menjelajahi rumah Rangga, hingga ia berakhir di ruang kerja milik pria itu.
Selangkah demi selangkah berjalan menyusuri setiap sudut ruangannya. Langkahnya terhenti saat di lihatnya beberapa foto yang terletak di atas meja kerjanya. Foto Rangga bersama Razi dari saat ia bayi hingga sekarang.
__ADS_1
"Pasti dia sangat membenci ku, tidak ada satu pun foto ku yang terpajang di rumah ini," gumamnya
"Apa yang sedang kau lakukan di sini!" Tegas Rangga.
Sedikit terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba, ia mencari alasan yang menurutnya logis.
"Aku dan Tina ingin pamit pulang, tapi karena kau tidak kunjung keluar, aku mencari mu dan berakhir di sini," jawab Zira.
"Keluar lah kalau tidak ada keperluan lain." Ucap Rangga dingin.
Zira berjalan melewati Rangga yang menunduk tak mau menatap ke arahnya.
Langkahnya terhenti dan mereka saling memunggungi satu sama lain. "Apa kau membenci ku?" Tanya Zira.
"Benar, aku membenci mu, sangat membenci mu…" sahut Rangga.
"Maaf… maafkan aku. Aku tidak akan datang ke sini lagi," ucap Zira dan langsung beranjak pergi.
Tujuannya masuk ke ruangan kerja Rangga bukan hanya untuk mencarinya, namun untuk meletakkan surat yang sebelumnya di antar oleh Cinta yang asli di saat Zira masih di hipnosis.
Surat itu berada di tumpukan surat dan paket yang belum tersentuh oleh Rangga. Ia tau kalau Rangga tidak akan menyentuh surat yang di kirim untuk nya, karena kesibukan pekerjaan yang begitu banyak.
Maka dari itu, ia mengambil inisiatif untuk menyelipkan suratnya di antar berkas yang akan di periksa nya.
Sementara itu, wanita misterius yang selalu mengawasi Zira adalah Cinta, yang diam-diam melindunginya. Saat di perusahaan Rangga maupun yang meminjam mobilnya.
__ADS_1