
Agar tidak menabrak pembatas jalan, Cinta menginjak rem dengan kuat, mengakibatkan tubuhnya tertolak ke depan. Karena pergi terburu-buru ia lupa memasang sabuk pengaman, hingga kepalanya sedikit terbentur dengan stir mobil, dan pingsan tak sadarkan diri.
Kumpulan asap mengerumuni mesin mobilnya, sayup-sayup bayangan seseorang datang menghampiri dengan tergesa-gesa mencoba untuk menolongnya.
***
Keesokan harinya di siang hari, Cinta dan Tina berada di lokasi syuting. Penentuan jadwal syuting, serta latihan awal di lakukan di hari yang sama.
Waktu istirahat makan siang, Cinta dan Tina memilih makan di sebuah kafe yang tak jauh dari sana untuk menghindar dari ke ramaian.
Tina yang mengkhawatirkan Cinta, sengaja memintanya menjauh dari keramaian untuk menanyakan masalah Razi.
Mereka duduk di sebuah meja, sambil menunggu pesanan datang. Iringan lagu ikut menyertai rasa canggung di antara mereka. "Apa yang sebenarnya terjadi kemarin? Kenapa Kakak membawa Razi?" tanya Tina.
Cinta tak langsung menjawab pertanyaannya. Rangga yang tiba-tiba datang dari belakang mencengkram tangan Cinta dan menariknya dengan kuat, karena tarikannya tersebut, memaksa Cinta bangkit dari posisi duduknya.
Alis matanya meruncing, dengan sorotan mata tajam, memandang Cinta dengan penuh kebencian. "Dimana istriku?" batinya.
"Kau itu siapa? Dimana Cinta?" tanya Rangga.
"Aku tidak mengerti maksud mu. Kenapa kau menanyakan orang yang sedang berdiri tepat di depan mu?"
"Kau itu bukan Cinta(istriku), dimana dia?" tanyanya sekali lagi.
__ADS_1
Melihat itu semua Tina bangkit dari duduknya dan menarik Cinta kebelakang berusaha untuk melindunginya.
Tina memposisikan dirinya menghadang Rangga yang sedang mengamuk tak karuan.
"Pak Rangga! Saya tau Bapak punya gangguan kepribadian, dan sedang bertengkar dengan Kakak, tapi bukan berarti Bapak bisa semena-mena berbuat sesuka hati," tegas Tina.
"Oh aku tau, kalian semua bersekongkol membodohiku. Kalian semua menyembunyikan istriku!" Rangga menarik tangan Tina, dan melayangkan tangannya ke atas bersiap untuk menamparnya.
Tina sedikit menunduk dan menutup kedua matanya. Sementara Cinta yang melihat itu semua, tidak bisa tinggal diam berpangku tangan berdiri tenang di belakang.
Ia menghentikan tamparan tangan Rangga. Raut wajahnya yang dingin seakan memperingatkan perilaku pria itu. "Jangan melampiaskan amarah pada orang yang tidak bersalah."
Mendengar ucapannya, Rangga sedikit terdiam. Cinta menarik tangan Tina dan membawanya keluar dari kafe itu.
"Mba pesanannya?"
Cinta merogoh uang dari sakunya, dan memberikan pada pelayan itu. "Pesanan itu berikan pada orang yang ada di luar," ucapnya sambil melangkah pergi dari sana.
Pelayan itu melihat orang yang berada di luar kafe. Seorang pengemis duduk lemas di sebrang jalan, menunggu orang yang berbaik hati mau bersedekah padanya.
"Dimana pun kau berada aku akan mencarimu!" tegas Rangga, yang sedang memandang tajam ke arah Cinta yang sudah ke luar dari kafe.
Mereka kembali ke lokasi syuting.
__ADS_1
Drrt drrt suara pesan masuk ke hp Cinta.
Ia mengambil hpnya dari dalam saku dan melamun sambil membaca pesan itu.
Tina yang khawatir, mulai bertanya. "Pesan dari siapa, Kak?"
"Cuma spam yang gak penting!"
"Oh begitu. Hmm… kenapa Kakak memegang hp dengan tangan kanan? Bukannya biasa dengan tangan kiri."
"Tangan kiri ku masih sakit karena kejadian semalam, ditambah lagi saat menghentikan tamparan tadi."
"Apa perlu kita bawa ke dokter?"
"Tidak perlu. Setelah ini selesai, aku akan mampir mengunjungi teman. Kau bisa pulang deluan."
"Baik Kak." Cinta pergi meninggalkannya.
Tina kesal dengan kejadian di kafe tadi dan mulai bergumam sendiri. "Pak Rangga keterlaluan! Hanya karena punya penyakit kepribadian, Kak Cinta jadi melunak padanya."
Randi yang mendengar ocehan Tina, terhenti dari kesibukannya dan mulai menanyakan apa yang terjadi. Tina yang tidak bisa mengelak lagi, hanya menceritakan saat kejadian mereka di kafe.
Keikut campuran Randi hanya akan membuat masalah semakin luas.
__ADS_1