DIARI CINTA

DIARI CINTA
Chapter 12 Hasrat yang Terpendam


__ADS_3

Keesokan harinya, dini hari Cinta pergi seorang diri naik pesawat kembali ke kota asalnya. Menyewa sebuah mobil lalu pergi mencari toko tempat dia dulu pernah bekerja paruh waktu.


Saat sudah sampai tepat di depan toko itu, Cinta melihat toko tersebut sudah tutup. Bangunan toko itu terlihat tua dan tidak ada penyewa baru yang menggantikan.


Cinta hanya bisa bertanya pada toko yang ada di sekitarnya, namun tidak ada yang tau kemana pemilik toko sebelumnya pindah. Informasi yang iya dapat, hanyalah fakta kalau toko tersebut sudah tutup sejak 5 tahun yang lalu.


Cinta berdiri di depan toko itu. Ia terdiam cukup lama dengan hanya menggunakan masker dan kacamata, tidak sadar kalau orang-orang mulai memandang ke arahnya.


"Aneh… kenapa aku merasa, kalau ada hal penting yang aku lupakan. Kejadian 5 tahun yang lalu, seperti sudah direncanakan oleh seseorang, dan pemilik toko ini satu-satunya petunjuk yang tersisa, juga sudah pergi entah kemana." 


Orang-orang di sekitarnya sudah mulai menyadari sosoknya, tapi Cinta masih terdiam memikirkan masalahnya.


"Sekarang bagaimana caraku mencari petunjuk lain," gumam Cinta.


Dua orang siswi sekolah terlihat sedang berbisik. "Eh itu kak Cinta kan?"


"Kayaknya sih iya, tapi bukannya kakak itu lagi di Jakarta ya."


"Ku dengar Kakak itu terlibat masalah ketika syuting di Eropa."


"Sst aku mau foto Kakak itu dulu, ntar aku upload ke ig ku." 


Sadar akan kondisinya mulai di foto orang-orang yang ada di sekitarnya, ia pun bergegas kembali ke dalam mobilnya lalu segera beranjak untuk pergi.


Setelah lelah mencari, Ia pun kembali dengan tangan kosong. Hari sudah mulai gelap sekitar pukul 8 malam akhirnya ia sampai di bandara, penerbangan selama 2 kali membuatnya merasa lelah.


Rangga sudah menunggu kedatangan Cinta, ia sengaja datang untuk mengantarnya kembali ke rumah.


Dari kejauhan mereka sudah saling memandang, tapi Cinta mengabaikan pria itu dan sengaja mempercepat langkah kakinya untuk menghindari Rangga.


"Hei kenapa kau mengabaikan ku? Aku sengaja kemari untuk mengantarmu kembali ke rumah," ucap Rangga sambil menyusul langkah Cinta.


Cinta tetap mengabaikannya dan semakin mempercepat langkah kakinya. Akhirnya Rangga meraih tangan Cinta untuk menghentikannya.


"Lepaskan tanganku!" saut Cinta dengan kesal.


"Oke akan ku lepas, tapi jawab dulu kenapa kau marah padaku?"


Cinta mencoba untuk menahan emosinya. "Baiklah kalau kau tidak mengerti akan kujelaskan."


Orang-orang di bandara mulai melihat kearah mereka berdua. Rangga yang sadar dengan kondisi mereka yang sedang di lihat banyak orang, segera membawa Cinta masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Tu-tunggu, lepaskan dulu tanganku," saut Cinta.


Di perjalanan, Rangga sengaja menghentikan mobilnya di pinggir jalan, untuk mendengarkan apa yang sebelumnya mereka bahas.


"Oke jelaskan padaku sekarang!"


Suasana hening dan hanya mereka berdua yang ada di dalam mobil itu. Cinta merasa canggung, karena sebelumnya dia tidak pernah berduaan dengan pria manapun selain Rangga.


Pertama kali mereka berdua saat Cinta sadar dari komanya. Saat itu Rangga menggendongnya naik ke tempat tidur karena ia terjatuh saat melakukan peregangan. Mengingat kejadian itu membuat hatinya berdetak tidak karuan.


"Kenapa kau diam saja? Apa kau ingin menarik kata-katamu tadi?" tanya Rangga.


"Bu-bukan begitu. Suasana ini agak kurang nyaman…," jawab Cinta malu-malu.


Menyadari kemana arah perkataan Cinta, Ranggapun juga merasa malu dan akhirnya keluar dari mobilnya.


Setelah menenangkan hati dan pikiran masing-masing, Rangga masuk kembali ke dalam mobilnya.


"Sekarang jelaskan, kenapa kau marah padaku? Memangnya apa yang sudah ku lakukan?" tanya Rangga.


"Hanya masalah sepele. Tidak perlu dijelaskan," cetusnya.


"Walaupun sepele, aku tetap ingin mendengarnya. Setiap masalah harus di selesaikan dengan baik, jika tidak akan ada kesalah pahaman nantinya." 


"Maaf aku tidak tau kau membalas pesan itu. Lihat ini, ku pikir kau hanya membacanya saja." Sambil memperlihatkan percakapan di hpnya, terlihat hanya pesan yang ia kirim pada Cinta, tanpa ada balasan lain.


Cinta juga menunjukkan percakapan di hpnya, di situ terlihat bahwa Rangga sudah membaca isi pesannya namun tidak membalasnya.


Rangga curiga ada yang mengutak-atik hpnya, sengaja membaca dan menghapus pesan dari Cinta tanpa ia ketahui. Ranggapun akhirnya menyakinkan Cinta kalau dia sama sekali tidak membaca isi pesannya, apalagi menghapus pesan itu.


"Sekarang apa kau masih marah padaku?" tanya Rangga.


"Kalau itu ternyata salah paham. Tidak ada alasan bagiku untuk marah padamu," saut Cinta.


Ranggapun tersenyum mendengar jawabannya. "Kau marah karena itu, apa kau menyukai ku?" tanya Rangga penuh harap.


"Ii-itu tidak mungkin, aku tidak marah padamu," jawab Cinta dengan wajah merah merona.


"Haha tapi wajahmu berkata lain," saut Rangga yang sengaja mengodanya.


Cinta tidak tau berkata apa lagi, salah tingkah di depan seorang pria merupakan hal baru baginya. "Ii-itu…." 

__ADS_1


"Sudahlah mari bertaruh dengan ini, dia menyukaiku atau tidak aku akan segera tau," batin Rangga.


Rangga mengambil inisiatif mendekatkan wajahnya dengan wajah Cinta, seolah-olah mau mencium bibir merahnya. 


Cinta spontan mengigit bibir bawahnya, sambil melihat wajah Rangga yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya. Hatinya berdegup dengan kencang serasa pria yang ada di depannya pun bisa mendengar detakan jantungnya.


"Sepertinya aku benar," saut Rangga.


Ranggapun kembali ke tempat duduknya sambil tersenyum, sedangkan Cinta hanya terdiam mematung. Terlintas di pikirannya. "Apa aku benar-benar menyukai Rangga?"


Rangga akhirnya mengantar Cinta pulang dengan hati yang berbunga-bunga. Merasa kalau bendera kemenangan sudah di tangannya dan Randi yang merupakan saingannya sudah kalah telak.


Sesampainya di depan rumah Cinta, karena malu ia segera keluar tanpa berpamitan pada Rangga dan langsung berlari masuk ke dalam rumahnya.


"Kakak sudah pulang," saut Tina.


Cinta segera masuk ke dalam kamarnya dan menghiraukan Tina dan Razi yang sedang asik menonton Tv.


"Eh ada apa dengan kak Cinta ya?" gumam Tina.


"Ayah pasti mengatakan sesuatu pada ibu," saut Razi sambil memakan cemilannya.


"Bagaimana anak kecil seperti mu bisa tau?"


"Bagaimana orang dewasa seperti Kakak, tidak tau tentang itu," jawab Razi sambil tersenyum sinis.


"Ah cara bicara anak ini, terkadang menyebalkan," pikir Tina.


Cinta segera berbaring di atas kasurnya dan menutupi wajahnya yang merah dengan selimut. "Aaa apa yang sudah ku lakukan." Sambil menendang-nendang selimut miliknya.


"Dia pasti berpikir kalau aku menyukainya. Kenapa tadi aku tidak mendorongnya, dia pasti salah paham." 


"Tapi apa yang salah dengan ku? Cuma begitu saja, aku bisa salah tingkah di depannya."


Karena hal tersebut Cinta melupakan alasan ia pergi ke kota asalnya. 


 🌺🌺


Halo sobat salam dari Aki Chan 😃


ini adalah novel perdanaku, Aki harap para pembaca memberi kritik, dan saran yang membangun untuk karya ini.

__ADS_1


Jika berkenan silahkan di vote.💐


__ADS_2