
Rangga mempersilakan Cinta untuk duduk di sofa, sementara ia berjalan ke arah meja, yang tidak terlalu jauh jaraknya dari tempat Cinta duduk. Di atasnya terlihat sebuah alat pemutar piringan hitam, yang sedikit kusam. Disebelahnya terletak beberapa piringan hitam.
Cukup lama perhatiannya tertuju pada piringan itu, senyuman tipis terlihat sekilas dari balik wajahnya yang terlihat sedih. Ia meletakkan piringan itu diatas alat pemutarnya, lantunan musik sayup-sayup terdengar keluar begitu nyaring hingga ke telinga.
Rangga duduk di sofa yang berada di depan Cinta. Tidak lama kemudian Daren keluar membawa segelas minuman, dan beberapa cemilan untuk disuguhkan.
"Daren, tolong bawa Razi bermain," ucap Rangga.
"Oke," sahutnya.
Daren pergi membawa Razi masuk ke dalam, agar memberikan Cinta dan Rangga ruang untuk saling berbicara.
"Apa kau sudah makan?" tanya Rangga dengan lembut.
"Sudah," jawabnya datar.
Dahinya berkerut, alisnya terangkat ke atas, merasa khawatir dengan apa yang akan dikatakan Cinta. "Bagaimana hari mu? Pasti lelah seharian di lokasi syuting, anggap saja rumah sendiri, buat dirimu senyaman mungkin."
Cinta mengabaikan ucapan Rangga dan tertunduk malu dengan dirinya sendiri, karena tidak berani mengatakan semua hal yang ingin ia sampaikan.
__ADS_1
"Aku pasti bisa melakukannya… bayangkan ini semua hanyalah sandiwara," batinnya.
Cinta menarik nafasnya dalam-dalam, terpancar dari wajahnya rasa percaya diri yang begitu kuat, untuk menutupi rasa sakit yang ia rasakan atas keputusannya.
"Aku minta maaf… aku ingin pertunangan kita dibatalkan."
"Apa!" Rangga terperanjat kaget mendengar perkataannya.
"Hubungan kita tidak bisa diteruskan, aku tidak ingin terikat dengan siapapun." Sengaja mengarang alasan.
"Jadi selama ini, di matamu aku ini apa?"
"Aku minta maaf…" ucapnya sekali lagi dengan wajah tertunduk.
Rangga bangkit dari duduk, dan segera mendekati Cinta. Ia sedikit membungkuk, mencengkram tangan kirinya dengan tangan kanan, serta tangan kiri memegang dagu wanita itu.
Sedangkan Cinta yang masih duduk, tidak berani menatap matanya, ia hanya bisa membuang pandangannya ke arah lain, berusaha menutupi rasa sakit yang ia rasakan.
"Apa kau tidak menyukai ku? Lihat mataku dan jawab dengan jujur!" Rangga mendekatkan wajahnya dan memaksa Cinta untuk menatap kedua bola matanya.
__ADS_1
Mata Cinta mulai menyipit menahan rasa sakit akibat cekraman tangan dan paksaan dagu pria itu, tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya.
Melihat Cinta menangis, Rangga tersentak menyadari perbuatannya telah menyakiti orang yang ia cintai. Dunianya terasa runtuh, mengetahui pengorbanannya selama ini hanya membawa harapan kosong. Ia langsung melepaskan cengkramannya, dan mulai melangkah mundur untuk menjauhi Cinta.
"Ma-maaf… pergilah aku ingin sendiri."
Cinta menyeka air matanya dan berlari keluar. Sementara Rangga terduduk lemas di sofa. Tangan kiri menahan rasa sakit di dada dan tangan kanannya memegang kepala yang serasa seakan mau pecah. Lantunan lagu yang sedari tadi menyala, seolah mengiringi hati yang sedang terluka.
Cinta berlari masuk ke dalam mobil, memacunya hingga melebihi kecepatan batas normal.
Pikirannya dipenuhi dengan berbagai emosi negatif, matanya yang masih memerah dan terasa sembab mengaburkan pandangannya. Dengan suasana hati yang campur aduk, seketika memecah konsentrasinya berkendara.
Mobil yang ia kendarai beralih pada jalur yang salah, sebuah mobil truk datang dari arah berlawanan mulai membunyikan klakson berulangkali.
Kesadarannya kembali saat jarak mereka sudah cukup dekat. Suara klakson yang memekakkan telinga, dan sorot lampu truk yang begitu terang membuatnya semakin kehilangan kendali.
Yang terlintas dipikirannya, satu-satunya cara untuk menghindar dari tabrakan maut, adalah dengan membanting stir mobilnya.
Cinta memaksakan tangannya yang masih terasa sakit, dan berusaha mengerahkan tenaganya semaksimal mungkin untuk memutar stir ke arah kiri, namun sayangnya hal itu membuat mobilnya hilang kendali.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi padanya?
Jangan lupa tinggalkan like dan komen di kolom komentar 👋