
Keesokan paginya Cinta terbangun dari tidurnya. "Sudah pagi?" ucapnya sambil mengucek mata.
Mulai tersadar dan melihat sekelilingnya. "Kenapa aku berada di dalam kamar? Bukannya semalam di dalam mobil."
Tidak lama kemudian "Tok tok" suara ketukan pintu. Rangga masuk ke dalam kamar Cinta seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara mereka berdua.
"Sedang apa dia di sini?" batin Cinta.
"Kau sudah bangun," saut Rangga pelan. "Tina sudah menceritakan semuanya. Aku tau tidak mungkin kau yang mendorongnya, Seli juga mengatakan kalau dia tidak melihat wajah pelakunya, jadi dia tidak akan membahas hal itu lebih lanjut."
"Oh…" jawab Cinta datar. "Aneh! Kenapa aku merasa, kalau Seli sengaja menutupinya. Masalah ini tidak sederhana, namun dia langsung menutup matanya begitu saja," batinnya.
"Dan aku minta maaf, karena sudah mengabaikan mu. Aku sengaja menggendong Seli untuk menghilangkan rumor buruk tentang kita."
Flasback
Kemarin sebelum kecelakaan Seli, saat di kantor Rangga mendengar gosip, kalau Cinta memakai cara licik untuk mendapatkan hatinya.
"Katanya Cinta mengancam pak Rangga untuk bertunangan dengannya. Dia juga merawat anak pak Rangga, untuk mengambil keuntungan darinya dan yang paling parah dia melarangnya untuk dekat dengan wanita lain," ucap karyawan yang sedang bergosip.
"Pantas saja pak Rangga selalu menjaga jarak dengan semua karyawan wanita. Berkontak fisik sedikit saja, pak Rangga langsung marah-marah."
__ADS_1
"Benar… ibunya kemarin datang ke kantor untuk menguras kekayaan pak Rangga. Aku bahkan mendengar sendiri kalau ibunya meminta uang yang tidak sedikit hanya untuk belanja."
"Ibu dan anak sama-sama licik ya,"
Flashback selesai.
Cinta tidak merespon sedikitpun permintaan maaf yang sudah dilontarkan Rangga. Ia hanya diam seribu bahasa merasa enggan untuk membahas mengenai itu lebih jauh.
"Aku tidak akan mengganggu istirahat mu lagi. Aku pergi dulu," ucap Rangga.
Seiring kepergiannya, Cinta merasa terganggu dengan semua keanehan yang terus ia alami, ditambah lagi dengan pesan kemarin malam yang membuatnya semakin terusik.
Tina datang membawa nampan berisi roti isi dengan segelas air. "Kak serapan dulu," ucapnya. Ia berjongkok meletakkan nampan yang ia pegang di samping Cinta duduk.
"Dimana Razi dan ibu?"
Tidak lama kemudian Hana datang membawa Razi. "Ibu akan membawa anak ini bermain," sahutnya.
"Ibu tidak boleh membawa Razi ke perusahaan Rangga, entah rumor apa yang akan tersebar jika Ibu membawanya ke sana!"
"Ibu mu ini tidak bodoh! Ibu juga tidak ingin karier mu hancur!" Hana langsung pergi membawa Razi.
__ADS_1
"Aku punya firasat buruk, setiap kali ibu keluar rumah," cetus Cinta.
"Tina juga sedikit khawatir dengan Razi."
Mereka tau jika melarang keinginan ibunya, akan terjadi perdebatan panjang yang berujung pertengkaran.
Tina duduk di samping Cinta untuk menemaninya.
"Setelah kita bertemu mereka, aku merasa semakin banyak musuh," ucap Cinta perlahan.
"Tina tau kenapa Kakak berpikiran seperti itu, jangan cuma melihat ke satu arah. Tina sadar setelah kedatangan mereka, Kakak kembali tersenyum, bukan sekedar senyuman palsu yang biasa Kakak berikan pada orang lain."
Cinta menunduk memikirkan perkataan Tina. "Tidak di sangka kau sudah dewasa… terima kasih sudah mengatakan hal keren seperti tadi." Tina tersenyum malu mendengar pujian dari Cinta.
***
Terima kasih atas doa dan dukungan para pembaca, akhirnya Aki bisa melanjutkan novel ini hingga menjelang akhir. Banyak bab yang akan update selanjutnya… kisah misteri akan terkuak satu persatu hingga bukti pembunuhan yang ada padanya terungkap.
Bagaimana hubungan Rangga dan Cinta selanjutnya?
Jangan lupa tinggalkan like, dan komen di kolom komentar 👋
__ADS_1