
Sesampainya di rumah, Cinta melihat Razi yang masih murung karena masalah itu. Hingga malam hari pun, ia tak kunjung ceria seperti biasanya. Karena terganggu dengan kondisi Razi, Cinta menghampirinya ke dalam kamar.
Razi duduk di atas kursi, termenung seorang diri, sambil memandangi kalung yang ada di atas meja di hadapannya.
"Apa Razi tidak puas dengan masalah tadi?" tanya Cinta.
"Razi puas, hanya saja…" Ia menunjuk ke arah kalung liontin itu. Kalung itu sudah terbelah menjadi dua bagian.
"Kalau Razi menyukai kalung liontin, ibu akan membelikan yang baru, bagaimana?"
"Razi tidak suka yang baru. Kalung ini milik ibu, makanya Razi kesal karena anak itu merusaknya."
"Ternyata karena kalung ini peninggalan ibunya, pantas saja dia sampai memukul anak lain," batin Cinta.
Razi mengambil kalung itu dan memberikannya pada Cinta, lalu ia melihatnya dari dekat. Pada kalung itu terdapat foto berukuran kecil yang sengaja di selipkan ke dalamnya.
Foto pernikahan Rangga dan istrinya. Terlihat senyum kebahagiaan yang terpancar dari balik wajah mereka yang saling berpelukan. Rangga memakai setelan jas berwarna hitam, sedangkan istrinya memakai gaun berwarna putih.
"Ini foto pernikahan mereka. Wanita ini mirip sekali dengan ku, bahkan seperti… kakak! Tidak salah lagi, wanita yang ada di foto ini adalah kakak!" batinnya.
__ADS_1
"Ini semua menjelaskan kenapa ibu dan Tina tidak tau mengenai kakak, dan kenapa hingga aku berumur 15 tahun, tidak ada catatan diari tentangnya. Kami tinggal terpisah… tapi kenapa...?"
Razi turun dari kursi dan memeluk Cinta yang sedang berdiri diam di dekatnya. "Ibu kenapa sedih?" tanya Razi yang memperhatikannya sedari tadi.
"Berarti... anak ini…." batinnya.
Melihat Cinta tidak merespon pertanyaannya, Razi mulai menangis. "Ra-Razi minta maaf, sudah merusak kalung milik ibu," sautnya terbata-bata.
Tangisan Razi menyadarkan Cinta dari lamunannya. "Ah maaf ibu tidak sedih, hanya tiba-tiba merasa pusing. Kalung ini masih bisa di perbaiki, jadi Razi tidak perlu sedih lagi."
"Benarkah?"
"Baik, Bu. Ibu harus banyak beristirahat, supaya pusingnya cepat pergi."
"Haha iya," sautnya diiringi tawa kecil. "Terkadang sikap anak ini polos, seperti anak lain pada umumnya," batinnya.
Pukul 2 pagi.
Cinta berbaring di atas kasurnya mencoba untuk tidur, namun segala hal mengenai kalung liontin itu, menghantui perasaan dan pikiran, hingga membuatnya terjaga sepanjang malam.
__ADS_1
Ia memiringkan posisi tubuhnya ke arah samping, kalung liontin yang sedari tadi tak kunjung ia simpan, masih melekat di atas tangannya. Satu belahan di tangan kiri dan yang satunya di tangan kanan.
Tik Tik
Suara detikan jarum jam mengisi sunyinya malam di kala itu. Arah pandangan matanya tertuju pada kalung liontin yang ia pegang, namun pikirannya hanyut di dalam ke kosongan.
Tak tau harus berkata apa, tak tau harus bagaimana, dan terlebih tak tau cara menghadapi Rangga dan Razi.
Tembok batasan yang selama ini berdiri kokoh, tanpa ada yang bisa meruntuhkannya, hancur berantakan karena kehadiran mereka dalam mengisi hidupnya.
Setelah perasaannya begitu dalam pada Rangga, ribuan cobaan berulangkali mencoba meruntuhkan rasa yang ia rasakan.
Namun kenyataan pahit yang muncul secara tiba-tiba di depan mata, sekali lagi menghancurkan harapan yang ada. Takdir seperti apa yang akan datang menghampirinya...
***
Terima kasih atas doa dan dukungan para pembaca, akhirnya Aki bisa melanjutkan novel ini hingga menjelang akhir. Banyak bab yang akan update selanjutnya… kisah misteri akan terkuak satu persatu hingga bukti pembunuhan yang ada padanya terungkap.
Bagaimana hubungan Rangga dan Cinta selanjutnya?
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, dan komen di kolom komentar 👋