
Saat Cinta berjalan menuju mobilnya, Rangga yang sedari tadi, menunggu tidak jauh dari parkiran mobil, menghalangi jalannya.
"Apa mau mu?" cetusnya.
"Urusan kita belum selesai!"
Cinta menyilangkan tangannya, merasa kesal karena selalu di ikuti oleh Rangga.
"Apa kau tidak ada kerja lain!" Matanya terpejam sesaat sambil mendesah pelan.
Hah...
"Sekarang aku mengerti, kenapa kau ditinggalkan oleh istrimu!"
Cinta sengaja bersikap dingin pada Rangga. Itu semua ia lakukan agar bisa mengakhiri hubungan di antara mereka, meski harus mengorbankan perasaan yang ia miliki.
Mendengar ucapan Cinta, emosi pria itu pun terpancing, ia menariknya lalu mendesaknya hingga punggung Cinta membentur mobil.
Mata pria itu meruncing, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Cinta dan mulai berbisik seakan mengancam musuh yang ada di hadapannya.
"Dengar! Jangan sembarangan bicara tentang istriku. Kalau kau masih sayang dengan karier mu, hubungan kita akan terus berlanjut!" Ia mulai melepaskan Cinta dan mundur darinya.
Cinta tertawa halus mendengar ancamnya. "Baru sekarang kau mengakui, kalau aku bukan istri mu. Kau pikir aku mau jadi pengganti wanita lain. Jangann harap!!" tegasnya.
Amarah Rangga semakin tersulut dengan perkataan Cinta. Ia melangkah maju sambil menunjuk ke arahnya dengan jari telunjuk. "Kau!"
__ADS_1
Langkah pria itu langsung terhenti, karena tangannya di tarik oleh Randi dari belakang.
"Hei bung, jangan kasar dengan wanita!" ucap Randi.
"Lepaskan tanganku! Jangan ikut campur!" Tegas Rangga memperingati.
Randi menghiraukan ucapan Rangga. Pandangan matanya hanya melihat ke arah Cinta. "Pergilah, serahkan padaku."
"Terima kasih." Cinta langsung merogoh kunci mobilnya dan beranjak pergi dari mereka.
Setelah bayangan Cinta menghilang tanpa jejak, Randi melepaskan tangannya. "Kebetulan sekali, ayo selesaikan masalah kita yang belum selesai."
Rangga meregangkan tangannya, bersiap melampiaskan segala kekesalan pada Randi. "Jangan salahkan aku, kalau kau nantinya menangis seperti bayi!" ejek Rangga.
***
Di perjalanan, Cinta mulai bergumam sendiri sambil menyetir mobilnya.
"Mungkin ini yang terbaik untuk kami… ku harap mereka tidak berkelahi hanya karena itu."
"Sudahlah! Lebih baik suruh Tina mengawasi mereka. Aku punya urusan yang lebih mendesak."
Beberapa jam kemudian, di sore hari.
Ia sampai di sebuah klinik kecil yang jauh dari perkotaan. "Ini dia," ucapnya sambil melihat hp yang sedang ia pegang.
__ADS_1
Matanya menatap ke arah klinik itu. Berulang kali ia mengedipkan bulu matanya yang lentik. "Kliniknya cukup sederhana, tapi aku suka karena jauh dari keramaian."
Tring hp Cinta berbunyi, telepon masuk dari Tina.
"Ada apa?"
"Itu Kak, pak Rangga dengan kak Randi berkelahi."
Batinnya. "Aku terlalu berharap pada mereka. Dari awal mereka berdua sudah seperti Tom and Jerry, apalagi sekarang."
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Cinta.
"Hanya luka ringan, untungnya ada beberapa staf yang masih di lokasi menghentikan perkelahian mereka."
"Ya sudah. Oh ya, aku mungkin bakalan pulang malam, jadi temani ibu makan di luar."
"Baik, tapi ibu Kakak masih marah karena kepergian Razi."
"Ibu marah bukan karena Razi, tapi karena tidak bisa menguras harta Rangga lagi. Begini saja, bawa ibu ke mall dan belikan tas keluaran terbaru. Dia pasti senang."
"Baik, Kak."
Cinta menutup teleponnya. "Hah… akhirnya selesai juga. Semoga kedatangan ku kemari membuahkan hasil. Aku tidak ingin semua ini sia-sia."
Apa tujuannya datang ke klinik tersebut?
__ADS_1